<
pustaka.png
basmalah.png

Ibnu Qoyyim: Kebiasaan Selama Hidup akan Jadi Pengantar Kematian Seseorang

Ibnul Qoyyim: Kebiasaan Selama Hidup akan Jadi Pengantar Kematian Seseorang

Fiqhislam.com - Banyak orang mengira bahwa dengan menumpuk harta, usia akan diperpanjang. Padahal, telah terbukti bahwa para raja sepanjang sejarah meninggal dunia, sekalipun harta mereka masih banyak, istana mereka masih kokoh, dan pasukan mereka masih gagah.

Pun, telah terbukti bahwa tidak ada orang kaya yang terus hidup. Satu per satu dari mereka meninggalkan dunia untuk selamanya. Karena itu, tidak ada pilihan, kecuali bersiap-siap untuk mati. Dalam Al Quran, Allah SWT berulang-ulang berpesan bahwa kematian pasti akan dilalui. Allah SWT berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan, sesungguhnya, pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS Ali Imran [3]:185).

Kemudian, Allah SWT menegaskan lagi:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi dan kokoh." (QS An-Nisa [4]: 78).

Begitu juga surat berikut:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

"Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan, hanya kepada Kami-lah, kamu dikembalikan." (QS Al Anbiya [21]: 35).

Pengalaman menarik diceritakan oleh Imam Ibn Qoyyim Al Jauziyah tentang seorang yang hanya sibuk berdagang dan lupa kepada Allah SWT. Begitu menjelang kematiannya, mulutnya sibuk berucap, "Barang ini murah, ayo beli. Ini bagus," dan seterusnya. Padahal, istri dan anaknya mengingatkannya agar berucap Allah. Tetapi, karena tidak familiar di lidahnya, ia tidak bisa mengucapkannya.

Inilah salah satu sisi pemandangan dari pengalaman tentang kematian yang pasti dialami setiap manusia. Semua tergantung amalnya. Bila amalnya baik, Allah akan membalas dengan kebaikan. Sebaliknya, bila amalnya buruk, akan dibalas dengan keburukan. Allah SWT berfirman:

مَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا ۗ وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

"Setiap yang bernyawa tidak akan mati, melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu. Dan, barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan, Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS Ali Imran [3]: 145). Wallahu a'lam bishshawab. [yy/nashih nashrullah/republika]

 

top