<
pustaka.png
basmalah.png

Rajin Ibadah, Tapi Berakhlak Buruk, Apakah Ibadahnya Diterima?

Rajin Ibadah, Tapi Berakhlak Buruk, Apakah Ibadahnya Diterima?

Fiqhislam.com - Kita diperintahkan untuk rajin ibadah bukan sekedar untuk mencari pahala. Ibadah memiliki tujuan moral dan etis. Dalam Al Quran misalnya, Allah katakan shalat mencegah perbuatan keji dan munkar. Puasa diwajibkan untuk menciptakan orang bertakwa. Puncak dari ketakwaan itu salah satunya berakhlak mulia. Zakat diwajibkan untuk membersihkan diri dan harta yang dimiliki, serta membantu orang yang kurang mampu.

Dalam hadits dikatakan orang yang melakukan ibadah haji, tidak berkata kasar dan jelek, dan tidak keluar dari batas syariat dan kebenaran, maka setelah ibadah haji dia seperti bayi yang baru lahir. Ini menunjukkan bahwa akhlak luhur adalah tujuan utama dari setiap ibadah.

Ibadah dan akhlak ibarat dua sisi mata uang. Tidak bisa memisahkan salah satunya dari yang lain” Tegas Syekh Ahmad Thayyib.

Kalau ada orang beribadah, tapi masih melakukan keburukan terhadap masyarakat dan manusia ini petanda ibadahnya tidak manfaat. Kalau ada yang shalat, puasa, haji, zakat, tapi ibadahnya itu tidak melahirkan akhlak mulia, menurut Syekh Ahmad Thayyib, ibadahnya tidak akan bermanfaat di hari kiamat kelak. Malah itu akan menjerumuskan mereka ke dalam api neraka.

Hal ini seperti kisah perempuan yang digambarkan dalam banyak hadits, mereka puasa di siang hari, beribadah di malam hari, namun mereka suka menyakiti tetangga dengan mulutnya. Meskipun ibadahnya banyak, tidak ada manfaatnya di akhirat kelak.

Sebaliknya, ada juga perempuan yang hanya sebatas melaksanakan ibadah wajib, shalat lima waktu dan puasa Ramadhan saja, tapi dia mampu menahan lisan dan bersedekah dengan sisa makanan yang dimilikinya, ini bisa mengantarkan mereka ke surga.

Syekh Ahmad Thayyib mengisahkan dulu ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, seorang perempuan terkenal dengan banyak shalat, puasa, dan sedekahnya. Namun perempuan itu menyakiti tetangganya dengan mulutnya.” Nabi SAW bersabda, “Dia dalam neraka”. Lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya seorang perempuan terkenal sedikit puasa, sedekah, dan shalatnya, dan dia bersedekah dengan potongan-potongan susu kering, artinya sisa makanannya, dan tidak menyakiti tetangganya dengan mulutnya, Nabi SAW bersabda, “Dia dalam surga”.

Orang yang berakhlak mulia akan dekat dengan Rasulullah di akhirat kelak ketimbang orang rajin ibadah, tapi tidak berakhlak. Karena menurut Syekh Ahmad Thayyib, Rasulullah pernah bersabda, “Sungguh yang paling aku cintai dari kalian dan tempat duduknya dekat denganku di surga adalah orang yang paling baik akhlaknya.”

Sebab itu, ibadah tidak cukup sebatas dilakukan secara formalitas. Ibadah perlu diaktualisasikan dalam bentuk perbuatan yang baik dan akhlak yang mulia. Kalau belum mampu berbuat baik pada orang lain, minimal kita menahan diri untuk tidak menyakiti dan berbuat buruk pada orang lain. [yy/islamico]

Hengki Ferdiansyah, Lc. MA
Alumnus Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mengelola lembaga pengkajian hadits El Bukhori Institute.

 

Tags: Ibadah | Akhlak | Hati | Kalbu
top