<
pustaka.png
basmalah.png

Saat Privasi Menjadi 'Hiburan' Publik

Saat Privasi Menjadi 'Hiburan' Publik

Fiqhislam.com - Bukan cuma saya, melainkan satu kompleks perumahan kami terbiasa mendengar ungkapan Bu Ditto, "Ini bukan lagi ngomongin orang lho, Jeng!"

Setiap kali membawa bahasan ranah privat seseorang dalam percakapan kami, kalimat senada akan diulangnya sebagai penutup. "Sekali lagi, ini bukan ghibah lho, tapi fakta!"

Seolah dalihnya akan membebaskannya dari jerat dosa, bagi mereka yang menggunjingkan perkara yang tidak disukai orang yang dibicarakan. Padahal berprasangka, ghibah, mencari kesalahan orang lain-- semuanya tergolong dosa.

"Lho, ini bukan dosa dong. Dosa itu kalau kita berghibah. Lah semua yang saya sampaikan valid seratus persen lho!" cetusnya lagi sambil menjelaskan. "Yang tidak boleh itu membicarakan orang lain padahal ternyata nggak benar. Nah itu baru nggak boleh!" tukas Bu Ditto penuh percaya diri.

Bagi ibu yang rambutnya sering digelung ke atas itu, mungkin belum sampai definisi yang membedakan keduanya. Padahal jelas, membicarakan orang sesuai fakta aslinya disebut ghibah. Sementara jika tidak sesuai fakta, justru tergolong fitnah.

Baik ghibah maupun fitnah, dua-duanya dosa. Sebagaimana disebutkan Rasulullah SAW.

Tahukah kalian apakah ghibah itu? Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu." Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya: "Bagaimanakah pendapat Engkau, jika itu memang benar ada padanya?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar berarti engkau telah berdusta di atasnya.” (HR Muslim).

Sayangnya saat ini bergosip seolah menjelma aktivitas harian. Menyimaknya menjadi cara seru membunuh waktu. Seolah kudapan mengasyikkan di antara dua waktu shalat.

Siapa yang melakukan KDRT kepada istrinya? Siapa yang ternyata selama ini sedang pisah rumah dengan pasangannya? Siapa yang baru saja memutuskan meninggalkan istrinya? Dan seterusnya.

Seharusnya Bu Ditto tahu, dosa ghibah tidak main-main. Sekalipun terlihat sederhana, perbuatan ghibah diganjar hukuman serius.

"Ghibah itu lebih berat dari zina. Seorang sahabat bertanya, 'Bagaimana bisa?' Rasulullah SAW menjelaskan, 'Seorang laki-laki yang berzina lalu bertaubat, maka Allah bisa langsung menerima taubatnya. Namun, pelaku ghibah tidak akan diampuni sampai dimaafkan oleh orang yang dighibahi'." (HR At-Thabrani).

Sedangkan dalam QS al-Hujurat: 12, Allah SWT bahkan menempatkan aktivitas menggunjing saudara sendiri sebagai kelakuan menjijikkan, yaitu memakan daging bangkai saudaramu sendiri.

Namun, semangat ghibah terus berkembang. Tak hanya sebuah kebiasaan yang belum hilang, bahkan semakin subur setelah banyak masyarakat mencari peluang viral meski harus membuka aib saudaranya.

Gosip bahkan juga dilembagakan, dibisniskan, disemarakkan, serta disebarluaskan menjadi program podcast atau televisi.

Tidak terbayang dosa yang harus ditanggung mereka yang terlibat. Berghibah pada satu orang saja sudah berdosa apalagi dikonsumsi jutaan orang.

Selebritas bercerai menjadi perbincangan di acara gosip. Tokoh poligami menjadi viral di media sosial. Pesohor melakukan kejanggalan menjadi omongan sejagat. Tapi bukankah itu risiko menjadi figur publik?

Tidak! Dalam pandangan Islam ranah privasi tetap ranah privat yang tidak boleh dibuka setiap waktu atau tanpa kepentingan. Dan kepentingannya tentu saja bukan karena kita butuh membicarakan atau 'nyepil'.

Menjadi selebritas atau tokoh tidak lantas kehilangan hak pribadi atas urusan personal. Hal berbeda jika seseorang memilih menjadi pejabat publik.

Kenapa? Karena ketika seorang menjadi pejabat publik maka perilaku, kesalahan, keburukan, dan lainnya bisa merugikan publik.

Sementara masyarakatlah yang memberikan amanah yang menjadi tanggung jawabnya. Ya, membicarakan keburukan pejabat publik atau calon pejabat publik adalah bagian mekanisme yang harus dilalui, mengingat ada hak publik untuk mengetahui.

Membicarakan atau memberitakan keburukan pejabat publik berarti menyelamatkan rakyat dan umat agar terhindar dari kebohongan publik yang mungkin dilakukan sang pejabat. Jadi ini adalah bagian penting dalam kontrol masyarakat.

Sedangkan selebritas tidak punya tanggung jawab atas publik karena mereka. Tapi kan, selebritas perilakunya bisa memengaruhi orang banyak?

Justru itu, semakin diberitakan dan diviralkan semakin banyak yang mengulang kesalahannya karena menganggap hal tersebut wajar. Dan lama-kelamaan masyarakat jadi permisif atas kesalahan tersebut karena sudah banyak dilakukan selebritas.

Hal berbeda jika sang selebritas melakukan pelanggaran hukum atau perilaku yang berpotensi merugikan publik.

Lalu bagaimana dengan selebritas korban perceraian dan korban perselingkuhan yang mendapatkan award? Apakah ini merupakan fenomena positif?

Seolah keburukan adalah prestasi. Saya sendiri melihatnya sebagai bentuk pembelaan terhadap korban. Orang yang diperlakukan tidak adil oleh pasangan lalu mendapat pembelaan atau dikuatkan dengan award.

Bukan untuk memberi penghargaan atas perceraian atau masalah rumah tangga --juga inspirasi agar semua korban bisa kian tegar. Di sisi lain, membuat pasangan yang menyakiti sadar perbuatannya salah, dan menjadi pelajaran agar jangan menzalimi pasangan sendiri.

Boleh jadi kamu mengira hanya menyakiti seorang istri, tapi sesungguhnya kamu juga mewakili kaum yang mempunyai posisi sama. Namun, dengan segala pengecualiannya, hati-hati ketika memperbincangkan orang lain.

Sekalipun fakta dan perlu, tapi tetap berpotensi ghibah. Agar aman, kuncinya hanya membicarakannya jika ada kepentingan.

Mengangkat keburukan orang yang cenderung tidak amanah boleh jika ini diniatkan melindungi masyarakat luas atau menyampaikan khusus pada calon investor atau calon partner agar mereka tidak jadi korban.

Membicarakan kebiasaan buruk seorang lelaki, boleh asalkan pada calon yang mungkin akan dilamarnya agar bisa mempertimbangkan dengan matang.

Terlepas bagaimana opini pribadi kita --atas perbuatan seseorang yang tidak kita sukai-- Islam tidak memberi opsi bagi kita untuk 'menikmati' aib orang lain. Malah idealnya kita meninggalkan majelis ghibah. Bangkit dan keluar menjauh.

Dengan cara ini, kita menyampaikan ketidaksetujuan juga melindungi pancaindra agar tidak terpapar. Satu lagi harus diingat bahwa membicarakan keburukan seseorang justru akan mencuri segala amal kita.

Kita umat terbaik dan jelas tidak diciptakan untuk memamah daging bangkai dari tubuh saudara sendiri. Satu kondisi yang Allah ibaratkan bagi pelaku ghibah. [yy/republika]

Oleh Asma Nadia

 

Tags: Ghibah | Fitnah
top