<
pustaka.png
basmalah.png

Faktor yang Menguatkan Kesabaran

Faktor yang Menguatkan Kesabaran

Fiqhislam.com - Menjadi hamba yang sabar merupakan tuntunan, tapi tidaklah mudah menjalankannya. Marilah kita ungkap faktor-faktor yang menguatkan kita menjadi sabar.

Pertama, mengimani qadar dan sunnah Allah SWT. Sebagai seorang yang beriman, kita yakin bahwa Allah SWT memiliki kekuasaan, pengetahuan yang tidak terbatas. Juga meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang terjadi tanpa kehendak-Nya.

Allah SWT juga memberikan kebebasan pada hamba-Nya dalam berkehendak untuk memilih tindakan, jalannya dalam kehidupan. Dia menciptakan bumi sebagai tempat ujian, sehingga pada kesudahannya akan terlihat bagi yang berhasil dan yang gagal.

Allah SWT berfirman dalam surah al-Mulk ayat 1-2, "Mahasuci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Mahapengampun.”

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan dunia merupakan ladang ujian bagi hamba-Nya atau bisa dikatakan sebagai tempat dalam menyiapkan bekal untuk kehidupan hakiki.

Sekalipun Allah SWT telah memberikan kebebasan pada hamba-Nya untuk memilih, tapi Dia tidak meninggalkan hamba-Nya sendirian untuk mengetahui jalan yang benar.

Dengan kasih sayang-Nya, Dia menurunkan kitab-Nya dan mengutus para Nabi, sehingga dalam sejarah kehidupan manusia, keduanya merupakan tuntunan untuk membuat keputusan yang benar.

Sesungguhnya seorang hamba yang berserah diri pada takdir merupakan sikap yang disyariatkan dan terpuji. Ini berarti pengakuan bahwa manusia tiada kekuatan maupun kekuasaan terhadap “yang terjadi“.

Kita simak firman-Nya pada surah al-Hadid ayat 22-23, "Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap yang hilang (luput) dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”

Mengimani takdir akan membuat hati seorang hamba menjadi kuat jika ditimpa musibah dan sebaliknya tidak terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan. Penulis ingat nasihat ulama besar sekitar tahun 1980-an, beliau ceramah di salah satu stasiun televisi.

"Jika kamu ditimpa kegagalan, janganlah bersedih berkelanjutan karena dengan sikap tersebut tidak membuat kamu bangkit. Sebaliknya jika kamu mengalami kesuksesan janganlah bergembira berlebihan itu akan melenakan sebaiknya kernyitkan dahi bahwa suatu saat akan mengalami kegagalan. Dengan selalu mengingat kegagalan secara otomatis akan lebih berhati-hati agar tidak gagal, dan jika mengalami kegagalan maka secara mental sudah siap."

Takdir (ketetapan Allah yang terjadi) pasti terlaksana, tidak bergeser sedikit pun, baik manusia rela menerima maupun tidak, bersabar atau tidak, maka seorang yang berakal seharusnya bersabar dan rela agar tetap mendapatkan pahalanya.

Sebab jika tidak, yang akhirnya dia terpaksa bersabar (dalam kondisi ini) sudah tidak memiliki nilai akhlak dan agama.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib RA pernah melakukan takziyah kepada seorang yang kematian anaknya, kemudian ia berkata, "Wahai Fulan, jika engkau bersabar maka ketetapan itu tetap berlaku padamu dan bagimu pahala, tetapi jika kamu tidak bersabar maka ketetapan itu tetap berlaku atasmu dan bagimu dosa.”

Kesedihan, penyesalan maupun ratapan tidak dapat mengembalikan yang luput (hilang). Juga tidak dapat menghidupkan yang mati atau menghadirkan yang telah hilang serta tidak dapat mengubah sunnah Allah yang berlaku pada alam dan makhluk-Nya.

Kita simak firman-Nya pada surah Fathir ayat 43. "Maka sekali-kali kamu tidak mendapati pergantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.”

Kedua, meminta pertolongan Allah SWT. Meminta pertolongan dan berlindung pada-Nya akan merasakan kesertaan-Nya dan bahwa ia berada dalam penjagaan dan pembelaan-Nya.

Hal ini sesuai firman-Nya dalam surah al-Anfal ayat 46. "Dan bersabar kalian sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang bersabar.” Dan surah al-Thur ayat 48. "Dan bersabarlah terhadap ketetapan Rabbmu, maka sesungguhnya kamu dalam penglihatan Kami.”

Barangsiapa yang mendapat kesertaan Allah, maka dia juga selalu dalam pengawasan-Nya. Dengan demikian ia akan mampu menanggung segala kesulitan dan bersabar atas segala musibah.

Kedua faktor ini akan menguatkan seseorang selalu bersikap sabar. Sikap ini merupakan kunci dalam kehidupan dan Insya Allah akan melahirkan kesuksesan.

Semoga kita semua dalam pengawasan dan penjagaan-Nya, sehingga termasuk golongan orang-orang yang selalu bersabar. [yy/republika]

Oleh Aunur Rofiq

 

Tags: Sabar
top