<
pustaka.png
basmalah.png

Bilakah Kita Dirindukan Rasulullah?

Bilakah Kita Dirindukan Rasulullah?

Fiqhislam.com - Rasulullah SAW adalah manusia paling mulia yang selalu menyayangi umat. Betapa Nabi SAW selalu berusaha untuk mendahulukan kepentingan dan kebutuhan Muslimin dibandingkan keperluannya sendiri.

Betapa besarnya kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya. Beliau pun mendoakan Muslimin yang belum terlahir di dunia ketika itu. Sungguh, akhlak yang mulia, patut dicontoh oleh semua orang yang menginginkan terwujudnya perdamaian dan kerukunan.

Muhammad bin Hibban al-Busti dalam kitab Sahih-nya meriwayatkan, suatu ketika ‘Aisyah binti Abu Bakar sedang duduk bersama Nabi SAW. Sang ummul mukminin memperhatikan suaminya tercinta. Terpancar kesyahduan yang mendamaikan dari wajah beliau.

“Kemudian, aku katakan kepada beliau, ‘Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah untukku,” tutur ‘Aisyah, seperti dikutip Ibnu Hibban dalam bukunya.

Maka Nabi SAW mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah. Dalam munajatnya, beliau berkata, “Ya Allah, ampunilah ‘Aisyah dari seluruh dosanya yang lalu dan yang akan datang. Dosanya yang terlihat dan yang tersembunyi.”

Mendengar doa Nabi Muhammad SAW, Sayyidah ‘Aisyah kemudian tersenyum lebar dan tertawa. Saking senangnya, sampai-sampai ia menjatuhkan kepalanya di pangkuan Rasulullah SAW.

Kemudian Nabi SAW berkata, "Senangkah kamu dengan doaku tadi?"

Dengan cepat sang istri menjawab, "Bagaimana mungkin aku tidak senang dengan doamu, ya Rasulullah?"

Nabi SAW berkata, "Demi Allah, itulah doaku untuk umatku setiap shalat"

Dalam riwayat lain, diceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah menyampaikan kepada para sahabatnya. Beliau sangat mengharapkan perjumpaan dengan umatnya yang “istimewa.” Keistimewaan itu karena mereka tidak pernah bertemu langsung dengan Nabi SAW—bahkan mungkin sekadar mendengar nama Rasulullah SAW saja—tetapi beriman sepenuh hati kepada Allah dan Rasul-Nya.

“Aku ingin sekali berjumpa saudara-saudaraku,” ujar Rasulullah SAW saat berada di antara para sahabatnya.

Sebagian mereka pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah kami saudaramu?”

Beliau bersabda, “Kalian adalah para sahabatku, tetapi bukan saudara-saudaraku. Saudara-saudaraku adalah mereka (orang-orang beriman) yang belum pernah melihatku, tetapi mereka beriman kepadaku. Aku akan mendahului mereka di Telaga.”

Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali mereka itu yang datang setelah engkau dari kalangan umatmu?”

Beliau bersabda, “Bukankah jika seseorang punya kuda, yang sebagian kecil bulunya berwarna putih, akan mengenali kudanya itu di tengah kuda-kuda yang hitam legam?”

“Tentu.”

“Sesungguhnya mereka akan datang pada hari kiamat dengan cahaya putih karena wudhu. Dan aku akan menunggu mereka di Telaga,” sabda Rasulullah SAW.

Telaga yang dimaksud adalah oasis yang Allah anugerahkan untuk Nabi SAW di Padang Mahsyar kelak di hari kiamat. Telaga itu adalah yang paling indah daripada telaga-telaga lainnya. Di sanalah, beliau pun akan menyampaikan syafaat-nya.

Membaca kembali riwayat ini, saya amat bersyukur karena Allah menakdirkan saya termasuk orang-orang yang dirindukan Nabi Muhammad SAW. Sungguh beruntung menjadi umat Islam. Walaupun belum pernah berjumpa langsung dengan Rasulullah SAW, kita justru dirindukan oleh beliau!

Menyadari ini, saya pun malu karena sering kali lupa bershalawat kepada Rasulullah SAW. Sering pula lalai dari mengikuti sunnahnya.

Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala aali Muhammad shalaatan ta’shimuna bihaa minal ahwaali wal aafaat, wa tuthoh hirunaa bihaa min jamii'is sayyiaat.

Betapa besar kepedulian Rasulullah SAW kepada umatnya. Hal ini terungkap dari hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari.

Beliau bersabda, "Setiap nabi mempunyai doa yang telah dikabulkan, sedang aku ingin menyimpan doaku sebagai syafaat untuk umatku di akhirat nanti." [yy/republika]

Oleh Fuji Eka Permana

 

 

top