<
pustaka.png
basmalah.png

Hukum Suara Imam Perempuan dalam Shalat Jamaah

Hukum Suara Imam Perempuan dalam Shalat Jamaah

Fiqhislam.com - Sebagaimana kita tahu, shalat itu ada shalat jahriyah, yaitu yang disunnahkan dengan suara keras; dan shalat sirriyah, yaitu yang disunnahkan dengan suara pelan. Dalam konteks shalat fardhu lima waktu, shalat dzuhur dan Asar merupakan shalat sirriyah; sedangkan shalat Maghrib, Isya, dan Subuh adalah shalat jahriyah.

Dalam shalat jahriyah bagi imam disunnahkan mengeraskan suara takbiratul ihram, Al-Fatihah beserta bacaan amin dan surat setelahnya pada dua rakaat pertamanya, takbir intiqal atau perpindahan gerakan shalat, bacaan tasmi' atau sami‘allāhu liman hamidah saat bangun dari rukuk, doa qunut, dan salam saat keluar dari shalat. Namun demikian, hukum sunnah mengeraskan suara bagi imam ini adalah bila ia laki-laki.

Lalu bagaimana ketika yang menjadi imam adalah perempuan bagi para makmum yang perempuan juga sebagaimana dalam pertanyaan?

Maka dalam kasus seperti itu hukumnya diperinci sebagai berikut:

1. Bila imam perempuan itu shalat di hadapan laki-laki non mahram, maksudnya di dekat tempat shalatnya ada lelaki non-mahram, maka ia tidak sunnah mengeraskan suaranya; dan

2. Bila imam perempuan itu tidak shalat di hadapan laki-laki non mahram, maksudnya di dekat tempat shalatnya tidak ada lelaki non-mahram, seperti adanya lelaki mahram atau sesama wanita, maka sunnah mengeraskan suara.

Menjelaskan perincian hukum seperti ini, Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Majmu' mengatakan:

وأما المرأة فقال أكثر أصحابنا إن كانت تصلى خالية أو بحضرة نساء أو رجال محارم جهرت بالقراءة سواء صلت بنسوة أو منفردة وإن صلت بحضرة اجنبي أسرت وممن صرح بهذا التفصيل المصنف والشيخ أبو حامد والبندنيجي وأبو الطيب في تعليقهما والمحاملى في المجموع والتجريد وآخرون وهو المذهب

Adapun perempuan, maka mayoritas ulama madzhab Syafi'i berpendapat, bila perempuan shalat di tempat sepi, di hadapan perempuan; atau di hadapan lelaki mahram, maka ia sunnah mengeraskan suara bacaan Al Quran (dan semisalnya), baik ia shalat dengan mengimami jamaah perempuan atau shalat sendiri. Namun bila perempuan itu shalat di hadapan lelaki non-mahram, maka ia sunnah melirihkan bacaannya. Di antara ulama yang secara terang-terangan memerinci hukum seperti ini adalah penulis Kitab Al-Muhadzdzab yaitu Abu Ishaq As-Syirazi, Syekh Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Bandaniji dan Abut Thayyib dalam Kitab Ta'liq mereka berdua, Imam Al-Mahamili dalam Kitab Al-Majmu' dan Kitab At-Tajrid, dan ulama lainnya. Inilah pendapat Al-madzhab” (An-Nawawi, Al-Majmu' Syarhul Muhaddzab, juz III, halaman 390).

Dari uraian Imam An-Nawawi ini menjadi sangat jelas, hukum mengeraskan suara dalam shalat jahriyah bagi imam perempuan adalah diperinci. Sunnah mengeraskan suara dalam shalat jahriyah bila di dekat tempat shalatnya tidak ada lelaki non-mahram, dan tidak sunnah mengeraskan suara bila ada lelaki non-mahram.

Yang perlu dicatat, maksud hukum tidak sunnah mengeraskan suara dalam shalat jahriyah bagi wanita yang shalat di dekat lelaki non-mahram adalah hukum makruh. Dalam hal ini Imam Ar-Ramli menjelaskan:

وأفتى به الوالد رحمه الله تعالى فقد صرحوا بكراهة جهرها بها في الصلاة بحضرة أجنبي وعللوه بخوف الافتتان

Al-Walid Syihabuddin Ar-Ramli telah memfatwakan tidak haramnya perempuan mengeraskan suara bacaan Al Quran di dalam dan di luar shalat. Karena ulama telah terang-terangan menghukumi makruh suara keras bacaan Al Quran perempuan di dalam shalat di hadapan lelaki non-mahram. Mereka bergumen dengan kekhawatiran adanya fitnah lelaki non-mahram itu tergoda suaranya.” (Syamsuddin Muhammad bin Abil Abbas Ahmad Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, [Beirut, Darul Fikr: 1404 H/1984 M], juz I, halaman 408).

Kesimpulan

Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hukum mengeraskan suara dalam shalat Maghrib, Isya, dan Subuh bagi perempuan yang menjadi imam jamaah perempuan adalah diperinci. Sunnah bila di dekat tempat shalat tidak ada lelaki non-mahram, dan makruh bila ada. Adapun kemakruhan ini karena khawatir lelaki non-mahram itu akan tergoda dengan suaranya. Wallahu A'lam. [yy/NU-Online]

Ustadz Ahmad Muntaha AM
Founder Aswaja Muda dan Redaktur Keislaman NU Online

 

top