<
pustaka.png
basmalah.png

Bahaya Terang-terangan Berbuat Dosa

Bahaya Terang-terangan Berbuat Dosa

Fiqhislam.com - Tidak pantas seorang manusia yang lemah berlagak sombong di hadapan Allah SWT. Di antara ciri kesombongan adalah terang-terangan berbuat dosa. Misalnya dengan tanpa merasa malu seseorang mempertontonkan auratnya di hadapan khalayak.

Padahal Allah SWT membekali manusia agar mempunyai rasa malu. Nabi SAW bersabda, “al hayaau minal iimaan” (rasa malu itu bagian daripada iman) (HR Bukhari).

Maka seorang yang dengan sengaja membuka auratnya di alam terbuka bisa dipastikan tidak saja ia telah kehilangan rasa malunya, tetapi juga kemanusiannya. Lebih dari itu, ia kehilangan imannya. Allah SWT menjaga manusia agar tetap terhormat, karena itu diajarkan cara berpakaian.

Contoh kesombongan lain lagi, menghina nabi, Al Quran, ulama atau simbol-simbol lainnya dari agama Allah SWT. Lalu dengan terang-terangan hinaan tersebut disebarluaskan melalui sosial media.

Al Quran banyak merekam tentang kisah orang-orang kafir Makkah yang menghina Nabi SAW dengan mengatakan nabi gila (majnun), tukang sihir (saahir) atau dukun (kaahin).

Tidak hanya itu, Al Quran pun yang Allah SWT turunkan dianggap oleh mereka sebagai perkataan setan. Karena itu, Allah SWT menolak tuduhan tersebut dengan tegas bahwa tidak mungkin Al Quran yang isinya sangat sempurna muncul dari mulut setan yang kotor (wa maa huwa biqauli syaithaanir rajiim) (QS at-Takwir [81]: 25).

Kesombongan yang masih terus berulang adalah sikap terang-terangan melakukan apa yang jelas diharamkan oleh Allah SWT. Misalnya makan babi, lalu mengatakan bahwa babi itu enak, setelah itu menyebarkan pernyatan tersebut kepada umum.

Padahal itu jelas dosa besar. Allah SWT sangat jelas mengharamkan makan babi dalam Al Quran, "Innamaa harrama ‘alaikumul maytatu wad damu walahmal khinziiri" (sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepadamu daging bangkai, darah, dan daging babi) (QS al-Baqarah [2]: 173).

Dengan menunjukkan sikap tidak merasa berdosa makan babi jelas mengandung makna menghalalkannya. Sikap menghalalkan apa yang Allah SWT haramkan --berdasarkan ijma’ para ulama-- adalah sebagai kekafiran.

Orang kafir saja tidak pantas sama sekali melakukan dosa ini, apalagi seorang yang mengaku Muslim.

Surah an-Nisa yang tema pokoknya adalah menolak kezaliman, menyebutkan ayat tentang bencinya Allah SWT kepada perbuatan dosa yang dilakukan secara terang-terangan (laa yuhibbullahu bis suui minal qauli illaa manzhulima wa kaanallahu samii’an ‘aliimaa) (QS an-Nisa [4]: 148).

Ayat ini menyebutkan bahwa Allah SWT tidak suka (laa yuhibullaahu) terhadap dosa yang dilakukan secara terang-terangan. Artinya, tindakan tersebut adalah kezaliman yang nyata.

Bagi Allah SWT, sebenarnya sangat mudah membongkar dosa siapa saja dari hamba-Nya. Karena itu tidak perlu melakukannya dengan terang-terangan.

Sungguh aneh jika ada orang yang merasa nyaman berbuat dosa di depan banyak orang. Apalagi tujuannya untuk mengajak orang lain suapaya mengerjakan dosa yang sama. Ini jelas akan menjadi dosa yang mengalir (dosa jaariyah).

Betapa zalimnya orang yang melakukan dosa lalu memperomosikannya supaya diikuti sejumlah besar dari kalangan orang-orang yang lemah iman.

Karena itu, jika Allah SWT masih menutupi dosa kita, segeralah bertaubat, dan janganlah sekali-kali mengumbar dosa tersebut. Justru sikap kehambaan yang paling baik adalah mengaku berdosa di hadapan-Nya.

Sebagaimana yang diperbuat Nabi Adam dengan mengatakan, “Rabbanaa zhalamnaa anfusana wa illam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minail khaasiriin (ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi)” (QS al-Araf [7]: 23).

Jadi, sebaik-baik seorang hamba adalah yang berusaha menaati Allah SWT semaksimal kemampuan (fattaqullaha mastatha’tum) (QS at-Taghabun [64]: 16).

Akan tetapi, jika suatu saat terjatuh dalam dosa berusahalah untuk menutupinya dan bertaubatlah. Sebab, paling baiknya seorang hamba yang bersalah adalah yang segera bertaubat (wa khairul khaththaaiin at taw waabuun) (HR Turmidzi). [yy/republika]

Ustaz Dr Amir Faishol Fath
Pakar Tafsir Al Quran, CEO Fath Institute

 

top