<
pustaka.png
basmalah.png

Bagaimana Perasaan dan Sikap Orang Kafir Kelak di Hari Kiamat?

Bagaimana Perasaan dan Sikap Orang Kafir Kelak di Hari Kiamat?

Fiqhislam.com - Allah SWT merekam apa yang pasti akan dialami orang-orang kafir, bahwa mereka akan sangat menyesal atas masa lalunya selama di dunia.

Mereka akan mengatakan: alangkah enaknya kalau aku tidak hidup lagi tetapi hancur lebur menjadi tumpukan debu. 

إِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا

Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah." (QS An-Naba ayat 40).  

Ceritanya adalah bahwa ketika itu Allah mengumpulkan semua hewan, "wa idzal wuhuusyu husyirat".

Lalu Allah perintahkan agar masing-masing membalas kepada hewan lainnya yang pernah menzaliminya: "yaqtashshu ba'dhahu ba'dhaa".

Setelah itu, Allah perintahkan semua binatang itu agar hancur lebur menjadi tanah "kuunii turaabaa". Maka, jadilah semua hewan tersebut tumpukan debu selamanya. 

Mengapa demikian? Sebab, hewan-hewan itu tidak mempunyai akal. Karena itu, tidak ada hisab bagi binatang. 

Sebaliknya manusia yang mempunyai akal, tentu tidak bisa disamakan dengannya. Manusia dengan akalnya mendapatkan tugas "takliif". Dengannya dia harus dihisab

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ

Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka.” (QS al-Ghasyiyah ayat 25).

Orang-orang kafir ketika menyaksikan apa yang dialami binatang, seketika mengkahayal, agar dirinya diperlakukan seperti itu. Maka muncullah ucapan "yaa laitanii kuntu turaaba". Seakan mereka mengatakan, cukuplah aku dihancurkan jadi tanah tanpa harus dihisab dan disiksa.

Namun, itu hanya khayalan mereka yang hampa. Selama di dunia mereka ingin menjadi manusia dengan kebebasan tanpa batas. Lalu, setelah sampai di akhirat ingin diperlakukan seperti binatang tanpa dihisab.

Tentu ini angan-angan yang sia-sia. Hukum akhirat akan tetap berlaku. Allah Mahaadil, tidak mungkin manusia yang berakal akan diperlakukan sama dengan binatang yang tidak berakal. 

Tidak mungkin para pendurhaka akan diperlakukan sama seperti orang-orang yang patuh dan taat: 

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ

Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? (QS Al-Qalam ayat 35).  

Memang tadinya orang-orang kafir Makkah membayangkan bahwa di akhirat akan tetap berlaku seperti di dunia, siapa yang kuat dialah yang menang. Siapa yang kaya dan terhormat di dunia akan lebih diutamakan atas orang-orang Islam yang miskin dan kerempeng. Allah SWT menjawab: 

مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS Al-Qalam ayat 36).  

Jelasnya bahwa di akhirat akan berlaku hukum seadil-adilnya.Tidak ada seorang pun yang dizalimi. Karena itu, para pendurhaka hanya bisa mengakui penyesalannya. Di antara mereka akan ada yang berkata seandainya aku dulu di dunia menggunakan akalku dan mendengarkan ajaran wahyu, niscaya aku tidak akan masuk neraka:

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala." (QS Al-Mulk ayat 10).

Sebagian yang lain mengatakan, seandainya ditunda sejenak kematianku niscaya aku akan beramal saleh dan memperbanyak sedekah: 

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (QS Al-Munafiqun ayat 10). [yy/republika]

*Naskah Dr Amir Faishol Fath MA, pendiri Yayasan Fath Qurani Center dan Lembaga Darut Tafsir Fath Institute

 

top