7 Rajab 1444  |  Minggu 29 Januari 2023

basmalah.png

Enam Macam Baiat Para Sahabat di Hadapan Nabi Muhammad Saw

Enam Macam Baiat Para Sahabat di Hadapan Nabi Muhammad Saw

Fiqhislam.com - Para sahabat Nabi menjadi garda terdepan dalam membantu dakwah Nabi Muhammad. Hal ini dibuktikan dengan ucapan sumpah setia (baiat) para sahabat yang diucapkan langsung di hadapan Rasulullah.

Syekh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawy dalam Sirah Sahabat membagi macam-macam baiat yang dilakukan sahabat di hadapan Rasulullah:

Pertama, baiat untuk Islam. Dari Mujasyi bin Mas'ud dia berkata, "Aku menemui Nabi bersama saudaraku lalu kukatakan kepada beliau, 'Kami hendak berbaiat untuk hijrah'. Beliau bersabda, "Hijrah telah berlalu, diperuntukkan bagi orang-orang yang melakukannya,". Aku bertanya, "Lalu untuk apa engkau membaiat kami?". Beliau menjawab, "Untuk Islam dan jihad,".

Kedua, baiat untuk melaksanakan amal-amal Islam. Ahmad mentakhrij dari Jarir, dia berkata, "Aku berbaiat kepada Rasulullah untuk melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, dan memberikan nasihat kepada setiap orang Muslim".

Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir, dan Ibnu Asakir dari Ubadah bin Ash-Shamit, dia berkata, "Aku termasuk salah satu dari 11 orang yang ikut dalam baiat Aqabah yang pertama. Kami berbaiat kepada Rasulullah SAW seperti baiat para Muslimah Makkah yang hendak hijrah, sebelum beliau mewajibkan perang kepada kami. Kami mengucapkan baiat kepada beliau untuk tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membuat-buat kedustaan di antara tangan dan kaki kami, tidak membunuh anak-anak kami, tidak mendurhakainya dalam hal yang makruf.

Siapa yang memenuhinya maka baginya surga, dan siapa yang melanggar sebagian di antaranya, maka urusannya kembali kepada Allah. Apabila menghendaki, maka Allah akan mengadzabnya dan jika menghendaki maka Allah akan mengampuninya,".

Ketiga, baiat untuk hijrah. Dari Al-Harits bin Ziyad As-Sa'idy dia berkata, "Aku menemui Nabi sewaktu perang Khandaq. Saat beliau sedang membaiat orang-orang untuk hijrah. Kami mengira bahwa orang-orang selain mereka itu (dari kalangan Anshar) juga diminta untuk berbaiat,".

Keempat, baiat untuk memberikan pertolongan. Dari Jabir, dia berkata, "Rasulullah SAW berada di Makkah selama 10 tahun menyeru manusia dengan cara mendatangi tempat-tempat yang biasanya mereka jadikan untuk berkumpul seperti di PAsar Ukazh dan Majannah serta pada waktu musim haji. Beliau berseru, "Siapakah yang mau melindungiku? Siapakah yang mau menolongku agar aku dapat menyampaikan risalah Rabb-ku, dan dia akan mendapatkan surga?".

Namun beliau tidak mendapatkan seorang pun yang mau. Sebelum akhirnya terdapat tujuh orang laki-laki yang berangkat ke Makkah pada musim haji untuk menghadap Nabi. Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, untuk apa kami berbaiat kepada engkau?".

Nabi menjawab, "Kalian berbaiat kepadaku untuk mendengar dan taat saat bersemangat atau malas. Untuk mengeluarkan harta saat sulit atau mudah, untuk menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar,".

Mereka kemudian berkata, "Demi Allah, kami tidak akan meninggalkan baiat ini dan sama sekali tidak akan menyia-nyiakannya,".

Kelima, baiat untuk jihad. Dari Anas dia berkata, "Rasulullah SAW pergi ke Khandaq. Sementara orang-orang Muhajirin dan Anshar sedang menggali parit pada pagi yang dingin. Mereka tidak mempunyai orang upahan untuk mengerjakannya. Ketika melihat keadaan mereka yang letih dan kelaparan, maka beliau bersabda, "Ya Allah, ini adalah kehidupan akhirat. Ampunilah dosa orang-orang Muhajirin dan Anshar,".

Kemudian mereka menyahut, "Kamilah yang berbaiat kepada Muhammad untuk berjihad selagi kami masih hidup,".

Keenam, baiat untuk mendengar dan taat. Dari Ubadah dia berkata, "Kami berbaiat kepada RAsulullah SAW layaknya baiat perang untuk mendengar dan taat pada saat sulit dan mudah, kuat dan lemah, lebih mementingkan hal ini, tidak menentang perintah, berkata dengan benar di mana kami berada dan tidak takut celaan orang yang suka mencela karena Allah". [yy/imas damayanti/republika]