16 Rajab 1444  |  Selasa 07 Februari 2023

basmalah.png

Mengapa Islam Melarang Muslim Berjudi

Mengapa Islam Melarang Muslim Berjudi

Fiqhislam.com - Agama Islam melarang para umat Muslim untuk berjudi. Hal ini juga telah dituliskan dalam Alquran, selaku petunjuk yang diberikan Allah SWT kepada umat-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS Al Maidah ayat 90-91).

Islam mengizinkan semua jenis kegiatan rekreasi, termasuk olahraga dan permainan (gim), tetapi dengan jelas melarang permainan apa pun yang melibatkan perjudian.

Alquran menyebut perjudian sebagai "kekejian dari pekerjaan tangan setan". Artinya, hal tersebut adalah kebiasaan merusak yang memiliki konsekuensi bencana dalam kehidupan individu dan sosial seseorang.

Dilansir di About Islam, jika dipelajarinya dengan serius ada beberapa alasan mengapa perjudian sangat tidak menyenangkan. Pertama, perjudian melanggar prinsip keadilan. Dari sudut pandang Islam, keadilan sangat dihargai. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Melalui perjudian, orang ingin memenangkan uang atau properti yang bukan haknya. Penjudi tidak bekerja untuk upahnya, sehingga dia tidak pantas mendapatkannya. Hasil yang didapatkan itu merupakan sebuah kebetulan.

Kedua, perjudian menjadi pendukung dalam memenuhi keserakahan seseorang, yang mana dia akan terus bermain untuk hadiah yang tidak pantas. Begitu dia mendapatkannya, dia sangat ingin mendapatkan lebih banyak dan tidak memiliki keinginan untuk berhenti bermain.

Pemain mungkin berpikir memiliki kemenangan beruntun dan enggan untuk pergi, tetapi hal ini membuat dia melupakan waktu atau tugasnya yang lebih penting. Perjudian membuat seseorang menolak pekerjaan yang serius dan bermanfaat.

Dalam artikelnya, Profesor Shahul Hameed menyebut orang seperti itu berangsur-angsur kehilangan rasa hormat terhadap upaya manusia yang sebenarnya, yang mendatangkan imbalan nyata dalam hidup. Dia menjadi pecandu dalam permainan kesempatan.

Jika pun dia kebetulan kalah, dia akan pikir keberuntungan sedang menghindarinya untuk sementara waktu dan menjadi lebih bersemangat untuk mendapatkannya di kesempatan lain. Dia seolah-olah memiliki tekad untuk mengejarnya tanpa henti.

Alasan ketiga, orang yang berjudi mengabaikan kewajibannya kepada Penciptanya. Dia akan menunda shalat, atau sama sekali meninggalkannya. Dia seolah-olah menjadi korban dari keserakahan akan uang dan orang seperti itu tidak lagi religius.

"Jika seseorang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya yang lebih rendah, seperti ketamakan dan hawa nafsu, maka agama tidak ada artinya baginya dalam aktivitas sehari-hari," tulis Profesor Hameed.

Islam, atau agama apa pun yang sesuai dengan namanya, harus memungkinkan seseorang bangkit dan beridri di atas lingkungan material dan fisiknya, untuk memberdayakan diri spiritualnya.

Perjudian adalah kejahatan seperti minum, yang mengganggu keseimbangan emosional dan melemahkan kemampuan intelektual seseorang. Patut dicatat bahwa Alquran menyebutkan dua kejahatan ini ada dalam posisi yang sama.

Islam mengajarkan hak atas properti ditetapkan melalui norma-norma masyarakat yang diakui dengan baik dan disetujui oleh agama.

Ini adalah hak yang suci dan tidak ada harta yang dapat diambil darinya kecuali melalui pertukaran, penjualan, atau amal yang sah.

Perjudian jelas melanggar norma-norma ini dan akibatnya memicu permusuhan dan kebencian di antara orang-orang. Orang mungkin berpikir, "Apa yang salah dengan bertaruh hanya untuk bersenang-senang atau sebagai hiburan, di mana banyak uang tidak dipertaruhkan atau dimenangkan?"

Tetapi dari sudut pandang Islam, segala sesuatu yang jahat dalam skala besar juga terhitung jahat meski dalam skala yang lebih kecil. Setiap kejahatan tumbuh menjadi bentuk dan ukuran yang tidak terkendali dari benih kecil.

Selain itu, perjudian juga memiliki sisi adiktif, seperti yang disebutkan sebelumnya. Untuk alasan ini, perjudian merupakan bahaya bagi individu maupun masyarakat pada umumnya.

Energi dan kapasitas intelektual penjudi, serta kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan maupun sosial secara bertahap habis oleh kebiasaan ini.

"Orang seperti itu menjadi parasit di masyarakat, karena mengkonsumsi sumber daya yang tidak layak sekaligus mengabaikan tugasnya kepada masyarakat," lanjut Profesor Hameed.

Hal-hal di atas memperjelas mengapa perjudian adalah praktik yang keji. Karenanya, perilaku ini tidak dapat dimasukkan dalam kehidupan masyarakat mana pun sebagai sekadar “kesenangan”. [yy/zahrotul oktaviani/repulika]