<
pustaka.png
basmalah.png

Salafus shalih dan Akhlaknya yang Terpuji

Salafus shalih dan Akhlaknya yang Terpuji

Fiqhislam.com - Salafus Shalih telah berinteraksi dengan akhlak terpuji ini. Mereka manusia paling baik akhlaknya setelah para nabi, para rasul, dan para sahabat, yang menjadi pemuka generasi pertama dan generasi terakhir.

Dari Al-Hasan a, ia menuturkan, “Akhlak terpuji yaitu baik hati, memberi sccara suka rela, dan kuat menanggung beban.”

Masih bersumber dari Al-Hasan, ia berkata, “Akhlak terpuji ialah berwajah ceria, suka berbagi, dan mencegah gangguan.”

Scbagian ulama yang fasih mengemukakan, “Orang yang berakhlak terpuji membawa ketenangan bagi dirinya dan kesejahteraan bagi orang lain.

Sementara orang yang berakhlak tercela mendatangkan musibah bagi orang lain dan kesulitan bagi diri sendiri.”

Al-Mawardi menuturkan, “Apabila akhlak manusia baik maka banyak orang yang kawan denganya, sedikit orang yang memusuhinya, segala perkara yang sulit menjadi mudah, dan hati orang-orang yang murka pasti melunak.”

Diriwayatkan dari Abu Hazim Salamah bin Dinar, ia berkata, “Orang berakhlak tercela mencelakan orangorang yang berada di dekatnya. Dirinya berada dalam bencana, kemudian menular pada istrinya, baru setelah itu anaknya. Bahkan, jika ia masuk rumah, orangorang yang tadinya senang, begitu mendengar suaranya, mereka langsung lari menjauh, menghidarinya.Tidak hanya itu, hewan peliharannya pun menjauhinya seolah dilempari batu. Anjing yang melihatnya langsung meloncat ke atas pagar. Malah, bebek peliharannya pun lari menjauhinya.”

Mari kita simak beberapa ilustrasi akhlak terpuji yang dipraktikkan oleh generasi terbaik di bawah ini.

Ibrahim bin Adham menemui sebagian penduduk Sahara. Seorang tentara mendatanginya, lalu bertanya, “Engkau seorang budak?” “Ya!” jawabnya.

“Di mana pusat kota?” tanya sang tentara.

Ibrahim lalu menunjuk ke sebuah pemakaman. “Maksudku, pusat kota!” tegasnya.

“Pusat kota itu pemakaman,” jawab lbrahim.

Jawaban itu membuat sang tentara dongkol, dan langsung memukul kepala Ibrahim dengan pangkal cambuknya hingga berdarah. la membawa lbrahim ke daerahnya.

Teman-temannya menyambutnya, dan langsung bertanya, “Apa yang telah terjadi?”

Tentara ini menceritakan kepada mereka apa yang diucapan pria itu.

“Pria ini lbrahim bin Adham! jelas mereka. Sang tentara turun dari kudanya dan langsung mencium kedua tangan dan kaki lbrahim. la meminta maaf. Tidak lama setelah itu, ditanyakan kepada Ibrahim,

“Mengapa engkau menjawab, Aku seorang budak’ padanya?”

Ibrahim menjawab, “Dia ticlak bertanya kepadaku, “Budak siapa kamu?, melainkan bertanya, ‘Kamu budak? Aku tentu menjawab, “Ya!’ karena aku adalah hamba Allah.

Ketika ia memukul kepalaku, aku memohon Surga kepada Allah untuknya. “Mengapa engkau melakukan itu, padahal ia telah menhalimimu?” tanya seseorang.

lbrahim menanggapi, “Aku pasti mendapatkan pahala atas tindakannya padaku. Aku tidak ingin memperoleh bagian kehaikan darinya, sementara ia mendapat bagian keburukan dariku.”

Konon, jika dikatakan kepada Al-Fudhail bin Iyadh , “Fulan merusak kehormatanmu.”, beliau menjawab, “Demi Allah, aku sangat marah kepada orang yang menyuruhnya.” Maksudnya, Iblis.

Fudhail kemudian berkata, “Ya Allah, jika ia jujur, ampunilah aku; dan jika ia bohong, ampunilah ia.”

Abu Muawiyah Al Aswad selalu mendoakan orang yang mencacinya.

Sesorang pria mecaci-maki Bakar bin Abdullah Al Muzani. la memaki Bakar habis-habisan, namun Bakar diam. Ditanyakan padanya, “Mengapa engkau tidak balas memakinya, seperti ia mencacimakimu?!” Bakar menjawab “Sungguh, aku tidak tahu sedikit pun kesalahannya sehingga aku bisa mencacinya. Aku haram menuduhnya bohong.”

Sesorang berkata pada Tsaur bin Zaid, “Hai Qodariah, hai Rafidhi!” Tsaur menjawabnya, “Kalau aku seperti apa yang kau ucapankan padaku, aku termasuk orang jahat. Sebaliknya, jika aku tidak seperti itu, berarti kau telah membebaskanku.” (dalam Tanbih Al-Mugtarrin, Asy-Sya’rani).

Merahasiakan Amal

Diantara tanda-tanda ikhilas yang paling besar vaitu merahasakan amal. diriwayatkan Amir bin Saad bin Abu Waqgash bahwa dalam satu kesemparan ayahnya, Saad, berada di tengah domba gembalaannya.

Sontak Saad berkata. Aku berlindung kepada Allah dari keburukan penunggang kuda ini.” (maksudnya Umar yang datang menunggang kuda). Begitu telah mendekat, Umar berkata. “Ayahku, apakah engkau rela menjadi orang Badui di tengah gembala kambingmu, sementara orang-orang sedang berebut kekuasaan di Madinah?

Saad menepuk dada Umar sambil berkata, “Diam! sungguh, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang melakukan kebaikan yang tersembunyi.” (HR: Muslim, dari kitab Az-Zuhd wa A-Raqa’aiq).

Salafus Shalih Suka Menyembunyikan Ibadah

Berikut ini kisah tokoh terhormat Bani Umayyah, Umar bin Abdul Aziz. Belia memiliki baju zirah dari bulu dan belenggu. Di dalam kamarnya terdapat ruang khusus untuk shalat, dimana tidak seorang pun boeh masuk ruang tersebut.

Ketika tiba akhir malam, Umar bin Abdul AziL membuka ruang itu mengenakan baju zirah dan meletakkan belengau itu di lehernya. la terus bernunajat kepada Allah sambil menangis sampa terbit fajar. (dalam Hilyah Al Auliya’).

Abu Tamim bin Malik menceritakan, Manshur bin Al-Mu’tamir setiap kali menunaikan shalat Subuh memperlihatkan semangatnya kepada murid muridnya. la berbincang dan banyak menyapa mereka. Padahal, pada malam harinya beliau terus beribadah.

Demikian ini agar Manshur dapat menyembunyikan amalnya dari orang lain.

Salafus Shalih Takut Terkenal

Syeikhul Islam Abdullan bin Al-MUbarak menyatakan, Sufyan mengingatkan aku, “Jaga dirimu dari popularitas. Setiap aku menemui seorang alim, ia pasti melarangku dari popularitas.” (Al-Hilyah).

Dari Tsabit Al-Banani, ia berkata, “Muhammad Bin Sirin berkata kepadaku, “Wahai Abu Muhammad, tiada ada yang mencegahku dari majelis-majelismu selain khawatir terkenal.” (Tahzib al-Hilyah)

Salafus Shalih Biasa Menangjs di Malam Hari

Pemuka para ahli A-Qur’an, Muhammad ibn Wasi, menuturkan, “Aku telah bertemu degan banyak orang shaleh. Ada orang salah seorang berbaring sebantal dengan istrinya. la menangis karena mengingat dosa dan azab Allah hingga air matanya membasahi pipi, namun istrinya tidak mengetahuinya. Aku juga bertemu orang-orang shaleh. Saat seorang darinya berdiri dalam barisan shalat, air matanya membasahi pipi namun orang di samping kiri-kanannya tidak mengetahui hal itu.” (dalam Hilyah Al Auliya’). [yy/bambang s/hidayatullah]

 

top