<
pustaka.png
basmalah.png

Istri Menafkahi Suami, Bolehkah?

Istri Menafkahi Suami, Bolehkah?

Fiqhislam.com - Dalam Islam, bekerja keras untuk mencari nafkah termasuk amal kebajikan. Orang yang memeras keringat demi memenuhi nafkah keluarganya akan diganjar dengan pahala yang besar. Lebih jauh lagi, perbuatan tersebut dinilai sebagai sedekah yang pahalanya lebih besar dibandingkan dengan jihad fi sabilillah.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, nomor hadits 995, bahwa Rasulullah mengatakan satu dinar yang dikeluarkan untuk keperluan biaya perang fi sabilillah, atau pun satu dinar yang diberikan sebagai sedekah pada fakir dan miskin, tak sebanding dengan pahala satu dinar yang diberikan untuk nafkah keluarga. Rasulullah bersabda;

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar.”

Sementara itu, Rasulullah dalam berbagai haditsnya memberikan apresiasi yang tinggi bagi seorang pekerja keras yang ingin menafkahi keluarganya. Hasil nafkah yang diberikan pada keluarganya, baik itu berupa makanan dan materi lainnya, oleh Rasulullah disebutkan pelbagai hal yang dikonsumsi oleh keluarganya termasuk dalam sedekah, yang bernilai tinggi di hadapan Allah.

وقد قال صلى الله عليه و سلم ما أنفقه الرجل على أهله فهو صدقة وإن الرجل ليؤجر في اللقمة يرفعها إلى في امرأته

Rasulullah SAW bersabda, "Nafkah yang diberikan seorang kepala rumah tangga kepada keluarganya bernilai sedekah. Sungguh, seseorang diberi ganjaran karena meski sesuap nasi yang dia masukkan ke dalam mulut keluarganya.”

Istri Menafkahi Suami, Kenapa Tidak?

Kewajiban nafkah dalam Islam merupakan tugas suami. Seorang suami, ketika telah melaksanakan akad nikah, maka ia berkewajiban memberikan mahar dan nafkah pada istrinya. Pun mahar tersebut merupakan hak seorang istri.

Syekh Wahbah al-Zuhaily dalam kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu j. IX, h. 6832 menjelaskan kewajiban nafkah seorang suami terbagi dua; nafkah materi dan nafkah non materi— di Indonesia populer dengan istilah nafkah batin.

للزوجة حقوق مالية وهي المهر والنفقة، وحقوق غير مالية: وهي إحسان العشرة والمعاملة الطيبة، والعدل

Bagi istri terdapat beberapa hak yang bersifat materi berupa mahar dan nafkah dan hak-hak yang bersifat non materi seperti memperbagus dalam menggauli dan hubungan yang baik serta berlaku adil.”

Era sekarang, perempuan, seperti halnya kaum laki-laki, memiliki kesempatan luas untuk bekerja dan berkontribusi secara finansial dalam rumah tangga. Akses pendidikan perempuan yang kian tinggi, membuat dirinya bisa bekerja dan berkarir dalam bidang apa pun.

Tak percaya? Lihat saja perempuan kini sudah bisa menjadi pekerja kantoran—yang bekerja di gedung-gedung pencakar langit. Tak jarang, kita jumpai perempuan hebat, yang tidak hanya jadi karyawan tetapi jadi direktur dan CEO perusahaan hebat.

Dengan karir yang moncer, berarti perempuan memiliki finansial yang cukup. Itu bisa memenuhi nafkah untuk keluarganya. Hal ini tentu membuka kemungkinan ia bisa membantu perekonomian keluarga, dan meringankan beban nafkah suami. Lalu persoalannya bolehkan istri bekerja, dan memberikan nafkah pada suami?

Pasalnya, tak tertutup kemungkinan, era sekarang, perempuan yang menjadi kepala keluarga, khususnya dalam bidang nafkah. Misalnya saja suami merasa sulit memikul nafkah keluarga sendirian, di saat beban hidup yang kian sulit. Atau suami terkena PHK, yang terpaksa menganggur. Atau pada saat yang lain, suami terkena penyakit yang memaksa dirinya berhenti total dalam bekerja, dan terbaring sakit.

Seorang perempuan menafkahi suami dan keluarganya termasuk perkara yang boleh dalam Islam. Istri menafkahi suami, termasuk perkara yang dibolehkan Rasulullah. Dalam sebuah hadits yang dinukil dari kitab at-Thabaqat al-Kubra karya Ibnu Sa’ad, menceritakan sosok Rithah—Abdullah bin Masud—, yang merupakan seorang pekerja keras untuk memenuhi nafkah suami dan keluarganya. Atas tindakannya yang mulia tersebut Rasulullah memujinya.

عن ريطة بنت عبد الله بن مسعود رضي الله عنهما أتت إلى النبي صلى الله وسلم. فقالت: يا رسول الله إني امرأة ذات صنعة أبيع منها وليس لي ولا لزوجي ولا لولي شيئ. وسألته عن النفقة عليهم فقال: لك في ذلك أجر ما أنفقت عليهم. أخرجه ابن سعد

Dari Rithah, istri Abdullah bin Mas’ud ra. ia pernah mendatangi Nabi SAW dan bertutur, “Wahai Rasulullah, saya perempuan pekerja, saya menjual hasil pekerjaan saya. Saya melakukan ini semua, karena saya, suami saya, maupun anak saya, tidak memiliki harta apapun.” Ia juga bertanya mengenai nafkah yang saya berikan kepada mereka (suami dan anak). “Kamu memperoleh pahala dari apa yang kamu nafkahkan pada mereka,” kata Nabi SAW.”

Pada sisi lain, Syekh Yusuf Al Qaradhawi menyebutkan bahwa perempuan boleh bekerja dalam Islam, termasuk dalam hal ini seorang istri. Lebih jauh lagi, hukum perempuan bekerja ia bisa saja berubah menjadi wajib (bukan boleh lagi).

Pergeseran hukum tersebut, sesuai dengan kondisi, jika perempuan tersebut merupakan janda atau seorang yang ditinggal mati suaminya dan memiliki anak untuk dinafkahi, dan dia memiliki kemampuan fisik sanggup untuk bekerja:

وعلى هذا الأساس نقول: إن عمل المرأة في ذاته جائز، وقد يكون مطلوبًا طلب استحباب، أو طلب وجوب، إذا احتاجت إليه: كأن تكون أرملة أو مطلقة ولا مورد لها ولا عائل، وهي قادرة على نوع من الكسب يكفيها,وقد تكون الأسرة هي التي تحتاج إلى عملها كأن تعاون زوجها، أو تربي أولادها أو أخوتها الصغار، أو تساعد أباها في شيخوخته

"Atas dasar ini, kami mengatakan bahwa pekerjaan seorang wanita itu sendiri diperbolehkan, dan perempuan bekerja, terkadang tuntutan hukumnya adalah mustahab (sunnah), atau tuntutan perempuan bekerja jadi wajib. Keadaan ini jika dia membutuhkannya: seperti jika perempuan tersebut adalah seorang janda atau wanita yang diceraikan, dan dia tidak memiliki sumber pendapatan atau penyedia, dan dia mampu mendapatkan penghasilan yang cukup dari usaha tersebut. Dan terkadang keluarganya membutuhkan ia untuk bekerja, seperti membantu suaminya, atau membesarkan anak-anak atau saudaranya, atau membantu ayahnya yang sudah tua."

Dari penjelasan di atas, bahwa istri diperbolehkan untuk bekerja membantu perekonomian keluarga. Demikian juga, istri diperbolehkan menafkahi suami, jika ia sanggup dalam hal tersebut. Yang dalam era saat ini, tampaknya hal tersebut bukan hal yang sulit. Pasalnya, perempuan sekarang sudah memiliki akses pendidikan yang tinggi, yang berimbas pada keluasan dalam akses pekerjaan, dengan gaji yang tinggi. [yy/islamico]

Zainuddin Lubis

 

top