7 Rajab 1444  |  Minggu 29 Januari 2023

basmalah.png

Enam Kunci Surga Menurut Ali bin Abi Thalib

Enam Kunci Surga Menurut Ali bin Abi Thalib

Fiqhislam.com - Amal baik manusia akan dibalas Allah SWT di akhirat kelak. Orang yang beribadah dan beramal baik selama di dunia akan mendapat balasan surga, sementara orang yang tidak berbuat baik mendapat siksa api neraka.

Surga impian setiap muslim, sedangkan neraka ancaman yang paling ditakuti. Allah SWT dan Rasulullah SAW sudah menjelaskan banyak cara tentang bagaimana meraih surga dan terhindar dari nereka. Semua penjelasan ini ada di dalam al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW.

Syekh Nawawi al-Bantani, dalam Nashaihul ‘Ibad, menulis 6 cara meraih surga. Keenam cara ini dikutip dari pernyataan Ali bin Abi Thalib. Beliau berkata:

من جمع ست خصال لم يدع للجنة مطلبا ولا عن النار مهربا أولها عرف الله تعالى فأطلعه وعرف الشيطان فعصاه وعرف الآخرة فطلبها وعرف الدنيا فرفضها وعرف الحق فاتبعه وعرف الباطل فاجتنبه

Orang yang mengumpulkan enam perkara ini berati dia telah mendapatkan kunci untuk membuka pintu surga dan menutup pintu neraka. Keenam perkara itu adalah: mengetahui Allah, lalu mentaatinya; mengetahui setan, lalu mengingkarinya; mengetahui akhirat, lalu berusaha mendapatkannya; mengetahui dunia, kemudian meninggalkannya (kecuali untuk kebaikan dan kebutuhan hidup); mengetahui yang haq, lalu meninggalkannya; mengetahui yang batil, lalu menjauhinya.”

Kunci surga yang pertama ialah mentaati Allah. Lakukan perintah Allah dan tinggalkan larangannya. Seluruh yang diperintahkan Allah pasti berdampak baik kepada manusia, dan setiap larangannya pasti buruk untuk manusia. Usahakan melakukan kebaikan semampunya, dan tinggalkan larangan Tuhan seutuhnya.

Kedua, menghindari godaan setan. Manusia mesti sadar kalau setan selalu menggoda manusia. Semakin kuat iman seorang, godaan setan pun akan semakin kuat. Jangan sampai kita termakan godaan setan. Selalu ingat Allah, agar kita terhindar dari godaannya.

Ketiga, berusaha untuk mengejar akhirat. Kehidupan yang abadi adalah di akhirat. Dunia bersifat sementara. Dahulukan kepentingan akhirat ketimbang dunia. Yang namanya sementara tidak akan bertahan lama. Jangan korbankan kepentingan akhirat dengan dunia.

Keempat, meninggalkan dunia, maksudnya jangan sampai terlarut dengan dunia, sehingga meninggalkan akhirat. Manusia pasti butuh menikmati dunia. Tidak ada yang menolak ini. Tapi jangan kebablasan hingga melupakan Allah SWT dan akhirat.

Kelima, mengikuti yang benar. Kebenaran harus diperjuangkan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ikutilah pendapat dan aturan yang benar, supaya kita selamat, baik di dunia ataupun akhirat.

Keenam, jauhi kebatilan. Islam sudah memberikan batasan mana yang haq dan mana yang batil. Tinggalkan setiap kebatilan agar kita terhindar dari siksaan api neraka. [yy/islamico]

Hengki Ferdiansyah, Lc. MA
Alumnus Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Meneliti hadits dan studi keislaman kontemporer. Sekarang mengelola lembaga pengkajian hadis El Bukhori Institute.