7 Rajab 1444  |  Minggu 29 Januari 2023

basmalah.png

Keadilan Ilahi: Kenikmatan dan Bencana

Keadilan Ilahi: Kenikmatan dan Bencana

Fiqhislam.com - Muhammad Quraish Shihab mengatakan pembicaraan tentang keadilan Ilahi bukanlah sesuatu yang baru. Persoalan ini hadir sejak manusia mengenal baik dan buruk. Pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa ada kejahatan, ada penyakit dan kemiskinan, bahkan mengapa Tuhan menganugerahkan si A segala kenikmatan, dan menjadikan si B tenggelam ke dalam bencana? Kesemua pertanyaan itu dapat menjadi wajar.

"Tetapi tidak mudah memahami -apalagi menjelaskan- persoalan ini jika dikaitkan dengan keadilan Ilahi. Ia merupakan salah satu hal yang amat muskil, khususnya bila ingin memuaskan semua nalar," ujar Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Wawasan Al-Quran".

Itu sebabnya, kata Quraish Shihab, yang merasakan Kemahabesaran dan Kemahabijaksanaan Tuhan biasanya hanya berkata, "Ada hikmah di balik setiap peristiwa, baik yang dinilai sebagai ketidakadilan (kejahatan) maupun sebaliknya."

"Jawaban semacam ini jelas tidak memuaskan nalar," kata Quraish Shihab.

Pada masyarakat primitif terdapat keyakinan adanya dua Tuhan: Tuhan Cahaya (Kebaikan) dan Tuhan Kegelapan. Keyakinan seperti ini -yang sekaligus merupakan jawaban- ditolak oleh penganut monoteisme. Al-Quran secara tegas menolak dualisme, baik pada penciptaan, penguasaan, maupun pengaturan alam raya.

"Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan yang menjadikan kegelapan dan cahaya". ( QS Al-An'am [6] : 1)

Quraish Shihab menjelaskan, sebagian pakar agama termasuk agama Islam menyelesaikan persoalan ini dengan menyatakan bahwa yang dinamakan kejahatan atau keburukan sebenarnya tidak ada, atau paling tidak hanya terdapat pada nalar manusia yang memandang secara parsial. Bukankah Allah menegaskan dalam Al-Quran bahwa,

"Dialah yang membuat segala sesuatu dengan sebaik-baiknya" ( QS Al-Ahzab [32] : 7).

Kalau demikian, jelas Quraish Shihab, segala sesuatu diciptakan oleh Allah, dan segala sesuatu yang bersumber dari Allah pasti baik. Keburukan adalah akibat dari keterbatasan pandangan. Segala sesuatu sebenarnya tidak buruk, tetapi nalar manusia mengiranya demikian.

"Boleh jadi engkau membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi engkau menyenangi sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui". ( QS Al-Baqarah [2] : 216).

Nalar tidak dapat menembus semua dimensi. Seringkali ketika seseorang memandang sesuatu secara mikro, hal itu dinilainya buruk dan jahat, tetapi jika dipandang secara makro dan menyeluruh, justru hal itu merupakan unsur keindahan dan kebaikan.

Bukankah jika pandangan hanya ditujukan kepada tahi lalat di wajah seorang wanita akan terlihat buruk? Tetapi, bila wajah dipandang secara menyeluruh, tahi lalat tadi justru menjadi unsur utama kecantikannya!

Bukankah jika Anda hanya melihat kaki seseorang dipotong, Anda akan menilainya kejam, tetapi bila Anda mengetahui bahwa sang dokterlah yang mengamputasi pasiennya, Anda justru akan berterima kasih dan memujinya? Karena itu, jangan memandang kebijaksanaan Allah secara mikro. Kalaupun Anda tidak mampu memandangnya secara makro, yakinilah bahwa ada hikmah di balik semua itu.

"Boleh jadi nalar Anda belum puas. Sekali lagi, mengapa ada kejahatan, ada setan yang diciptakan-Nya untuk menggoda, atau ada nasib baik dan nasib buruk yang dialami manusia?" ujar Quraish Shihab.

Al-Quran menyatakan bahwa jenis manusia adalah satu kesatuan, "Manusia itu adalah untuk umat yang satu" ( QS Al-Baqarah [2] : 213)

Bahkan seluruh jagat raya merupakan satu kesatuan. "Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan adalah umat (satu kesatuan) seperti kamu juga. Tidak Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab (pengetahuan Tuhan). Kemudian kepada Tuhanmulah mereka dihimpunkan" ( QS Al-An'am [6] : 38).

Jika demikian, pribadi demi pribadi secara sadar atau tidak, bekerja sama dan saling menopang demi kebahagiaan bersama, dan untuk itu ada di antara mereka yang menjadi "korban" demi kebahagiaan makhluk secara keseluruhan.

Pengurbanan itu merupakan syarat kesempurnaan jenis makhluk, termasuk manusia. Kurban (yang mengalami "keburukan") harus ada, demi mewujudnya kebaikan dan keindahan.

Quraish Shihab mengatakan bagaimana mungkin manusia mengetahui arti berani, jika tidak ada bahaya? Bagaimana mereka mengetahui nikmatnya sehat, bila tidak merasakan sakit? Apa artinya kesabaran jika tidak ada malapetaka? Nah, siapakah yang harus mengalami semua itu? Jika bukan makhluk juga?

Apabila penderitaan itu terjadi karena kesalahan, maka setimpallah akibat dengan ulahnya. Sedangkan apabila tidak bersalah, maka pengorbanan manusia akan beroleh ganjaran di sisi Allah, yakni pengampunan dosa dan ketinggian derajat di akhirat sana (QS Al-Baqarah [2]: 155-157).

Patut dicatat, kata Quraish Shihab, bahwa Allah memberikan potensi kepada manusia untuk mampu memikul kesedihan dan melupakannya, begitu kata pakar psikologi dan begitu juga isyarat Al-Quran.

"Tidak satu petaka pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu"( QS Al-Taghabun [64] : 11).

Manusia harus bekerja sama memikul bencana untuk mencapai dan memahami tujuan keberadaannya.

Quraish Shihab mengatakan Anda boleh bertanya, "Mengapa kerja sama itu harus ada? Bukankah Allah Mahamutlak kesempurnaan dan kekuasaanNya, sehingga Dia kuasa menciptakan alam tanpa kekurangan atau pun tanpa kerja sama?"

Benar! Allah Mahamutlak kesempurnaan-Nya, karena "Bagi Allahlah segala sifat yang terpuji". ( QS Al-A'raf [7 ]: 180).

Dia Mahakuasa, tiada sedikit pun kekurangan-Nya. Apakah nalar Anda menuntut agar Dia menciptakan suatu ciptaan yang memiliki kesempurnaan mutlak seperti kesempurnaan-Nya? Jika itu yang diinginkan, akan terdapat dua Tuhan, dan ini mustahil. Bukan saja dari segi redaksional kata "mutlak" (kemutlakan mengandung arti kesendirian), melainkan juga mustahil dari sisi keyakinan "keesaan-Nya", serta bertentangan pula dengan firman-Nya, "Tiada yang serupa dengan-Nya satu pun" ( QS [42] : 11).

Yakni, jangankan yang sama dengan-Nya, yang serupa dengan serupa-Nya pun tiada.

Adalah logis bahwa Pencipta harus berbeda dengan yang diciptakan. Yang diciptakan kurang sempurna dibandingkan sang pencipta. "Kekurangan dan ketidaksempurnaan itu mencakup apa yang dinamai atau diduga sebagai keburukan," jelas Quraish Shihab.

Jangan lupa bahwa yang dinamakan dan dikeluhkan manusia itu tidak mencakup seluruh alam sebagai suatu unit dan serentak, melainkan hanya diderita oleh sebagian unsur-unsurnya. Bahkan sering kejahatan yang diderita seseorang dapat menjadi nikmat bagi dirinya sendiri di masa datang, atau merupakan nikmat bagi yang lain.

Harus diingat juga bahwa terdapat banyak makhluk Allah dan sebagian besar tidak diketahui manusia, sebab seperti firman-Nya, "Dia menciptakan (makhluk) yang tidak kamu ketahui". ( QS Al-Nahl [16] : 8).

Konon pengetahuan manusia baru dapat menjangkau sekitar 3% dari seluruh alam raya ini.

Apakah nalar manusia menginginkan agar Tuhan tidak menciptakan manusia sama sekali? Jangan berkeinginan seperti itu, karena ini bertentangan dengan makna kekuasaan-Nya. Bukankah wujud dan kekuasaan-Nya tidak dapat tercermin kecuali melalui ciptaan-Nya?

Quraish Shihab mengatakan boleh jadi Anda berkata bahwa yang dikemukakan di atas ini adalah tinjauan kekuasaan dan kodrat Ilahi, bukan dari sudut pandang rahmat dan nikmat-Nya. Bukankah dari sudut tinjauan ini, "tidak menciptakan sama sekali justru jauh lebih baik daripada menciptakan sesuatu yang disertai dengan kepedihan dan kejahatan?"

Barangkali demikian. Tetapi, mungkin juga pernyataan "mencipta dan memelihara hak atas berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi, dan memperoleh rahmat sewaktu terdapat kemungkinan eksis atau potensi untuk mencapai kesempurnaan" (seperti makna keadilan Ilahi yang dikemukakan sebelum ini), jauh lebih baik.

Jika seperti itu adanya, persoalan keadilan Ilahi bukan problem nalar, melainkan problem rasa, sebagai akibat dari keinginan manusia untuk selalu mendapatkan yang terbaik untuk diri, keluarga, atau jenisnya saja, hingga melupakan pihak lain.

"Jika problemnya demikian, yang mampu menanggulanginya adalah rasa juga. Di sinilah agama dan keyakinan berperan amat besar," demikian Quraish Shihab. [yy/miftah h yusufpati/sindonews]