16 Rajab 1444  |  Selasa 07 Februari 2023

basmalah.png

Jihad Membangun Keluarga

Jihad Membangun Keluarga

Fiqhislam.com - “Jaga dirimu dan keluargamu dari api Neraka”. Demikian perintah al-Quran para suami menjaga anak, istri untuk membina keluarga dengan benar.

Melakukan ini adalah perbuatan yang tidak ringan karena berjangka panjang. Dan bersifat maraton. Butuh kesabaran, kekuatan, motivasi tinggi dan keikhlasan terus menerus. Dan karena beratnya, namun baik hasilnya, maka ia masuk dalam kategori jihad.

Secara morfologis (sharaf), jihad adalah bentuk masdar (verbal), dari fiil madhi jaa-ha-da yang secara etimologis berarti “berusaha dengan sungguh-sungguh dan sekuat tenaga” atau mengerahkan kekuatan dan kemampuan dengan sungguh-sungguh.

Jihad adalah bekerja keras menuju kebaikan

Sedangkan secara terminologi syariah, jihad memiliki dua definisi; definisi sempit dan luas. Definisi sempit adalah “mengerahkan kekuatan dalam memerangi kaum kafir.” Sedangkan definisi luas dari jihad adalah “mengerahkan kekuatan melawan hawa nafsu. Setan dan orang fasiq“. (Ibnu Hajar Al Asqalamu dalam Fathul Bari’: 2/6).

Definisi jilid dalam arti luas ini sesuai dengan penjelasan Al-Quran Surat Al Ankabut: 69.

وَالَّذِيۡنَ جَاهَدُوۡا فِيۡنَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَا ‌ؕ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الۡمُحۡسِنِيۡنَ

Dan orang-orang “yang berjihad untuk mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS: Al-Ankabut: 69).

Al-Qurtubi dalam Tafsir-nya menafsiri kata “jaahadu fina” pada ayat di atas sebagai “jihad melawan nafsu untuk taat pada Allah adalah jihad terbesar.” Al-Hasan dikutip dalam Tafsir Al-Baghawi memaknai ayat ini dengan menyatakan bahwa “jihad paling utama adalah melawan hawa nafsu.

Al-Andalusi dalam Al-Tafsir Al-Kabir menjelaskan; “Allah menggunakan kata ‘mujahadah dalam ayat ini dalam pengertian jihad yang luas meliputi jihad melawan nafsu, memerangi setan, dan musuh agama. Sahabat Ibnu Abbas dalam menafsiri ayat ini berkata: “Jihadlah melawan hawa nafsumu untuk taat pada Allah, mensyukuri nikmatNya dan sabar pada cobaan-Nya.”?

Jihad membangun keluarga

Dengan demikian, maka jihad keluarga yang dimaksud dalam buku ini bisa dimaknai secara harfiah maupun secara syariah. Yaitu, usaha yang serius dan bersunguh-sungguh dari seluruh pihak yang terkait untuk membangun keluarga baliagia dan sukses dunia dan akhirat.

Yang dimaksud pihak terkait di sini meliputi suami, istri dan anak. Dalam kondisi tertentu termasuk juga mertua. Atau pihak-pihak yang terlibat dalam level tertentu secara ekonomi maupun pengasuhan anak.

Istilah jihad digunakan dalam membina keluarga sakinah adalah pertama, karena ini merupakan perintah Allah.

Dalam QS: At-Tahrim 66: 6 Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS: At-Tahrim:6).

Menurut Tabari, yang dimaksud dengan “memelihara diri dan keluarga” adalah “mengajari diri sendiri dan keluarga berbuat taat pada Allah.” Sementara menenurut Ali bin Abi Thalib maksud ayat ini adalah “mengajar dan mendidik keluarga”.

Tentu saja dengan didikan yang baik yang semakin meningkatkan kedekatan mereka pada nilai-nilai religi dan kemanusiaan ideal.

Disiplin, karena membina keluarga yang sukses dan sakinah adalah perjalanan yang sangat panjang. Sebuah pekerjaan maraton.

Maka, dibutuhkan keinginan, niat dan konsistensi. Di situlah semangat jihad diperlukan.

Intinya, jihad dalam membangun keluarga yang sukses dunia dan akhirat adalah ibarat lari maraton yang agar sukses memerlukan niat yang kuat, optimis, sabar dan penuh motivasi tinggi dalam jangka waktu yang sangat lama. Sejak hari pertama pernikahan sampai maut menjemput. Wallahu a’lam. [yy/hidayatullah]

A Fatih Syuhud