16 Rajab 1444  |  Selasa 07 Februari 2023

basmalah.png

Allah Kadang Mengampuni Kita Tidak dengan Jalan Istighfar

Allah Kadang Mengampuni Kita Tidak dengan Jalan Istighfar

Fiqhislam.com - Amal kebaikan itu jumlahnya sangat banyak dan membaca istighfar hanya salah satunya. Terkadang Allah mengampuni kita tidak dengan jalan membaca istighfar. Demikian ungkap KH. Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha dalam sebuah rekaman pengajiannya di channel Youtube Santri Gayeng.

Gus Baha menuturkan, kalau Nabi Muhammad bicara dalam satu majlis minimal Nabi Muhammad bisa menjelaskan kebaikan sampai sebanyak 60 kali. Nabi Muhammad bahkan menjelaskan iman itu ada 60 cabangnya. Mulai dari yang paling tertinggi berupa menetapnya kalimat Tauhid dalam diri, sampai yang levelnya rendah adalah dengan menyingkirkan duri atau gangguan di jalan. Ampunan Allah bisa datang dari sekian banyak jumlah kebaikan tersebut.

Misalnya saja, jika ada seseorang lewat lalu menemukan ada duri merintang di tengah jalan. Kemudian orang itu menyingkirkannya. Allah Maha Berkuasa untuk mengampuni dia.

Bagaimana wejangan Gus Baha tersebut relevan dalam konteks sekarang? Gus Baha mengingatkan bahwa ulama zaman sekarang ada saja yang punya kecenderungan mendorong sebuah amalan kebaikan, lalu terus promosi kebaikan itu saja. Sehingga kebaikan yang lain bisa jadi terabaikan.

“Tidak seperti kiai sekarang, misalnya suka istighfar. Terus promosi membaca istighfar melulu. Sampai umatnya diajak menangis bersama, karena istighfar. Itu kurang baik..” Tutur beliau.

Gus Baha memberi keterangan, bahwa Allah mengampuni manusia tidak selalu dengan jalan istighfar. Banyak jalan kebaikan lainnya yang bisa dilakukan oleh manusia demi meraih ampunan Allah SWT.

Ulama asal Rembang tersebut kemudian menceritakan bahwa banyak cerita tentang pengampunan Allah dari Nabi Muhammad, misalkan cerita orang yang melihat anjing yang menulurkan lidah, oleh sebab anjing itu kehausan. Lalu orang itu tersentuh, “anjing ini mengalami apa yang pernah aku alami.” Kemudian orang tersebut masuk ke sumur, untuk mengambil air dan memberikan minum bagi anjing tersebut.

Apakah orang itu di dalam hadis mengucapkan istighfar? Tidak. Menurut Gus Baha, orang yang menolong anjing kehausan tersebut dimaafkan oleh Allah atas dasar kasih sayangnya kepada makhluk hidup.

Gus Baha memberi contoh hadis lagi, yang menginformasikan bahwa orang yang merawat anak yatim akan berdampingan dengan Nabi Muhammad di surga nanti seperti jari tengah dan jari telunjuk. Dalam redaksi hadis tersebut tidak terdapat ucapan istighfar.

Wejangan dari Gus Baha ini kiranya bisa jadi renungan bersama. Jika kita menganggap ampunan Allah itu datang hanya dengan istighfar saja, bisa-bisa ada saja orang yang rajin memperbanyak beristighfar sampai menangis sesenggukan, tapi di sisi lain masih berperilaku jelek secara sosial. Karena bagi anggapan orang-orang semacam ini, menganggap dengan modal istighfar saja cukup untuk melebur dosa. Padahal tidak selalu. Apalagi dosa sosial yang menyangkut hak manusia lain.

Gus Baha mengutip sebuah potongan dari hadis Nabi Muhammad SAW:

وَ أَتْبِعِ السَّيِّئَـةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَـا

Maksud dari kutipan hadis tersebut adalah, bahwa ketika kita berbuat amal jelek, maka harus segera diikuti dengan amal perbuatan yang baik untuk menutupinya. Gus Baha mengungkapkan, tidak ada redaksi dalam hadis ketika berbuat kejelekan, lalu kemudian istighfarlah. Tidak ada.

Satu contoh lagi, ketika ada satu orang yang berhutang dan tidak kunjung melunasinya padahal sudah lewat tempo. Alih-alih membayar kewajibannya, orang itu malah membaca istighfar. Antara kejelekan tidak membayar hutang dan istighfar tentu tidak nyambung. Istighfar tidak bisa melebur dosa kita atas hutang, karena masih terdapat hak manusia lain yang kita harus melunasinya.

Kiranya bisa disimpulkan, bahwa salah satu di antara sekian banyak kebaikan adalah membaca istighfar. Akan tetapi, tidak semua dosa dan kejelekan bisa otomatis terampuni hanya dengan modal membaca istighfar.

Lebih jauh lagi, Gus Baha mewasiatkan kepada santrinya, jika suatu saat menjadi mursyid atau pemuka thariqah, para santri harus berani jujur untuk mengungkapkan bahwa istighfar adalah satu jalan dari sekian banyak kebaikan. Namun jangan mengabaikan kebaikan yang lain. Supaya orang tahu, istighfar itu bukan segalanya. [yy/islamico]

Rifqi Fairuz
Editor Islamidotco. Saat ini tinggal di Salatiga. Bisa disapa via Twitter @Fairuuz