10 Rajab 1444  |  Rabu 01 Februari 2023

basmalah.png

Padang Mahsyar: 4000 Tahun Menanti Keputusan Masuk Surga Atau Neraka

Padang Mahsyar: 4000 Tahun Menanti Keputusan Masuk Surga Atau Neraka

Fiqhislam.com - Kisah kengerian Mahsyar telah banyak disebutkan dalam sejumlah hadits Nabi Muhammad SAW . Kala itu manusia berdiri menghadap Allah Taala di padang yang panas. Mereka tenggelam dalam keringatnya yang terus bercucuran. Penderitaan ini sangat lama. Ada yang menyebut sampai 4000 tahun.

Syaikh Dr Amin bin Abdullah asy-Syaqawi dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul "Kengerian di Hari Kebangkitan" mengatakan di antara perkara besar yang akan terjadi pada hari kiamat ialah berkumpulnya seluruh makhluk di padang Mahsyar untuk menunggu diputuskan perkara yang dulu pernah terjadi di antara mereka, dengan waktu begitu lama dan dalam kondisi yang mencekam.

Allah ta’ala mensifati hari tersebut dengan hari berkumpulnya manusia, seperti yang ada dalam firman -Nya:

يَوۡمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ [المطففين]

(Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam”. [ QS al-Muthafifin/83 : 6]. Tafsir Kementerian Agama menjelaskan ketika itu semua manusia berdiri menghadap Allah Rabbul 'Alamin untuk dihisab dan diperiksa segala amal perbuatannya selama hidup di dunia. Semuanya dihisab dengan penuh keadilan karena Allah Mahaadil. Timbangan itu adalah lambang keadilan yang senantiasa harus ditegakkan dan dipertahankan.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mendiskripsikan kondisi berdirinya mereka pada waktu itu: “Mereka berdiri dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak berkhitan, pada tempat yang sulit, cemas, serta sempit bagi pendosa, seluruhnya meliputi mereka dengan perintah Allah, dan semuanya tidak mampu menolaknya, baik yang kuat maupun yang lemah”.

Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Ibnu Umar ra , dari Nabi Muhammad SAW dalam tafsir firman Allah pada surat al-Muthafifin ayat, beliau SAW bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَقُومُ أَحَدُهُمْ فِى رَشْحِهِ إِلَى أَنْصَافِ أُذُنَيْهِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Salah seorang di antara mereka berdiri dengan keringatnya yang sampai separuh telinganya“. (HR Bukhari no: 6531. Muslim no: 2862).

Dalam hadits lain, masih riwayat Bukhari dan Muslim dari haditsnya Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَعْرَقُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَذْهَبَ عَرَقُهُمْ فِي الْأَرْضِ سَبْعِينَ ذِرَاعًا وَيُلْجِمُهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ آذَانَهُمْ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Kelak pada hari kiamat manusia akan berkeringat sampai kiranya kalau dikumpulkan di muka bumi, keringatnya sampai tujuh puluh hasta. Dan menenggelamkan mereka sampai ke telinganya“. (HR Bukhari no: 6532. Muslim no: 2863).

Adapun keringat masing-masing orang itu sesuai dengan tingkat amal mereka ketika di dunia. Berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari haditsnya Miqdad bin al-Aswad ra, dia menceritakan: “Aku pernah mendengar langsung dari Rasulallah SAW bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ ». قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ فَوَاللَّهِ مَا أَدْرِى مَا يَعْنِى بِالْمِيلِ أَمَسَافَةَ الأَرْضِ أَمِ الْمِيلَ الَّذِى تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ. قَالَ « فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِى الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا ». قَالَ وَأَشَارَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Matahari akan didekatkan kelak pada hari kiamat kepada makhluk sampai ada di antara mereka yang seukuran satu mil”.

Berkata Sulaim bin Amir -salah seorang rawi hadits ini-: “Demi Allah, aku tidak tahu satu mil yang dimaksud, apakah ukuran yang ada di dunia, atau mil sejauh mata memandang”.

Dalam lanjutan hadits, Nabi bersabda: “Dan manusia pada saat itu sesuai dengan kadar amalannya dalam berkeringat. Di antara mereka ada yang sampai (menutupi) mata kaki, ada yang keringatnya sampai ke betis, dan ada di antara mereka yang keringatnya sampai menutupi leher, dan ada yang tenggelam oleh keringatnya sendiri”. Kata salah seorang rawinya: ‘Dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke arah mulut’.  [HR Muslim no: 2863]

Ibnu Abi Jamrah menjelaskan: ‘Diantara mereka yang paling banyak keringatnya ialah orang-orang kafir lalu setelahnya para pelaku dosa besar dan yang berada di bawahnya. Adapun orang muslim maka mereka jumlahnya sedikit dibanding dengan orang kafir”.

Berdiri Selama 4000

Tahun Di dalam syarah hadits di atas Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan: ‘Bagi siapa yang memperhatikan keadaan yang disebutkan dalam hadits tadi maka dirinya mengetahui betapa besar kondisi yang akan terjadi pada hari kiamat. Sebab api neraka akan menyelimuti negeri mauqif. Matahari akan didekatkan di atas kepala-kepala mereka sejauh satu mil. Lantas bagaimana panasnya kondisi tempat tersebut.'

Ditambah dengan hadits yang menjelaskan masing-masing orang akan berkeringat sampai ada yang keringatnya sampai tujuh puluh hasta, bersamaan dengan itu dirinya tidak menjumpai tempatnya melainkan hanya sebatas tempat berdirinya.

Terus bagaimana dengan keadaan mereka bersama keringatnya yang berbeda-beda kondisinya? Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang menerangi akal, dan menunjukkan betapa agungnya kondisi pada saat itu, yang mengandung keimanan pada hari akhir, sedangkan akal tidak boleh ikut andil dalam menghukumi, baik dengan menabrakkan pada perumpamaan, akal-akalan dan kejadian yang biasa dia lihat.

Namun, kata Ibnu Hajar, hal itu hanya butuh satu kata ‘menerima’ karena masuk dalam lingkup keimanan dengan perkara gaib, dan bagi siapa yang tawaquf (abstain) dalam masalah ini maka hal itu menunjukkan tentang kerugian serta diharamkan ilmu baginya.

Menurutnya, salah satu faedah dari hadits seperti ini ialah supaya orang yang mendengarnya untuk berhati-hati lalu mengambil sebab yang bisa menyelamatkan dirinya dari kondisi tersebut. Bersegera untuk bertaubat dari dosa, dan kembali kepada Dzat Yang Maha Pemurah di dalam pertolongan-Nya sebagai sebab yang bisa menyelamatkan, merendah kepada-Nya agar selamat dari negeri kesulitan dan dimasukkan ke dalam negeri kemulian dengan sebab karunia dan anugerah-Nya”.

Ibnu Katsir mengatakan: “Di dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa mereka kelak akan berdiri selama tujuh puluh tahun dalam keadaan tidak berbicara sedikitpun. Ada yang mengatakan mereka berdiri selama tiga ratus tahun. Ada lagi yang mengatakan mereka berdiri selama empat ribu tahun, setelah itu baru diputuskan perkara mereka seukuran sepuluh ribu tahun. Allah ta’ala menjelaskan akan hal itu melalui firman-Nya:

يَوۡمَ يَقُومُ ٱلرُّوحُ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ صَفّٗاۖ لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَقَالَ صَوَابٗا ٣٨ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمُ ٱلۡحَقُّۖ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ مَ‍َٔابًا

Pada hari, ketika ruh dan para Malaikat berdiri bershaf- shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya”. [ QS an-Naba’/78 : 38-39].

Durasi Zaman

Diriwayatkan oleh Thabarani dalam Mu’jamul Kabir sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud ra, dia berkata: ‘Rasulullah SAW pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «يَجْمَعُ اللهُ الأولِينَ والآخِرِينَ لِمِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلومٍ قِيامًا أربعينَ سَنَةً ، شَاخِصَةً أَبْصارُهُمْ إلى السَّماءِ يَنْتَظِرُونَ فَصْلَ القَضَاءِ » [أخرجه الطبراني]

Allah akan mengumpulkan dari makhluk pertama hingga terakhir pada hari yang telah ditentukan, mereka berdiri selama empat puluh tahun seraya pandangannya tegak melihat ke langit menunggu Allah untuk memutuskan perkara..”. (HR ath-Thabarani 9/357 no: 9763. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih Targhib wa Tarhib 3/418 no: 3591).

Dalam hadits lain juga dijelaskan durasi zaman yang pada waktu itu, disebutkan oleh Imam Muslim dari haditsnya Abu Hurairah ra, beliau berkata: “Rasulullah SAW bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلاَ فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّى مِنْهَا حَقَّهَا إِلاَّ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحَ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِىَ عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيُرَى سَبِيلُهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ » [أخرجه مسلم]

Tidaklah seorang yang punya emas dan perak lalu tidak menunaikan hak keduanya, melainkan kelak pada hari kiamat akan diberikan padanya lempengan logam dari api neraka, lantas dicelupkan ke dalam neraka Jahanam, selanjutnya digosokkan pada tulang rusuk, kening serta punggungnya, dan tiap kali menjadi dingin maka dicelupkan lagi, pada hari yang sama dengan lima puluh ribu tahun, (itu terjadi) hingga diputuskan perkara hamba, maka dirinya sudah melihat jalannya, apakah ke surga atau ke neraka“. (HR Muslim no: 987).

Ibnu Abi Hatim membawakan sebuah hadits yang sanadnya sampai pada Ibnu Abbas, tentang makna firman Allah ta’ala:

فِي يَوۡمٖ كَانَ مِقۡدَارُهُۥ خَمۡسِينَ أَلۡفَ سَنَةٖ

Dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun”. [ QS al-Ma’aarij/70 : 4].

Beliau mengatakan: ‘Yaitu pada hari kiamat”. Sanadnya shahih sebagaimana dinyatakan oleh al-Hafidh Ibnu Katsir dalam tafsirnya 14/127.

Mohon Perlindungan

Nabi Muhammad SAW biasa berlindung kepada Allah Ta’alla dari sempit serta susahnya pada hari tersebut. sebagaimana yang tertera dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari haditsnya Rabi’ah al-Jarasy radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ وَبِمَ كَانَ يَسْتَفْتِحُ قَالَتْ كَانَ يُكَبِّرُ عَشْرًا وَيُسَبِّحُ عَشْرًا وَيُهَلِّلُ عَشْرًا وَيَسْتَغْفِرُ عَشْرًا وَيَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي عَشْرًا وَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الضِّيقِ يَوْمَ الْحِسَابِ عَشْرًا » [أخرجه أحمد]

Aku pernah bertanya kepada Aisyah : ‘Doa Apakah yang biasa Rasulullah panjatkan pada saat sholat malam? Dan dengan bacaan seperti apa biasa beliau membuka doanya?

Maka Aisyah menjawab: “Adalah beliau biasa mengucapkan takbir (Allahu akbar) sepuluh kali, tasbih (Subhanallah) sepuluh kali, tahlil (La ilaha ilallah) sepuluh kali, istighfar sepuluh kali. Kemudian beliau berdoa: “Ya Allah ampunilah diriku, berilah aku petunjuk dan rizki”. Sebanyak sepuluh kali, lalu ditutup dengan doa: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada –Mu dari sempitnya pada hari pembalasan”. Sebanyak sepuluh kali”. (HR Ahmad 42/37-38 no: 25102). Wallahu A'lam. [yy/miftah h yusufpati/sindonews]