15 Jumadil-Awwal 1444  |  Jumat 09 Desember 2022

basmalah.png

Menumbuhkan Percaya Diri Ala Rasulullah Saw

Menumbuhkan Percaya Diri Ala Rasulullah Saw

Fiqhislam.com - Kepercayaan diri adalah faktor penting dan berperan besar dalam mengendalikan diri dan menentukan jalinan hubungan dengan orang lain. Kemenangan atas musuh-musuh Allah SWT, pembebasan tempat-tempat suci, dan pengibaran panji-panji Islam tentu hanya bisa dilakukan oleh orang yang beriman dan memiliki kepercayaan diri.

Orang yang tidak percaya diri tentu tidak bisa melihat kemampuan dan bakat yang dimilikinya. Dia memandangnya sebagai hal yang biasa saja dan tidak bernilai apa-apa, sehingga tidak mampu menggunakan potensinya.

Untuk itu, kepercayaan diri pada diri seorang Muslim menjadi satu hal yang sangat penting untuk meraih keberhasilan di dunia dan akhirat.

Lantas seperti motode kepercayaan diri yang diajarkan Nabi Muhammad SAW?

Pertama, Rasulullah SAW selalu menggunakan nama-nama yang baik untuk memperkuat rasa percaya diri. Misalnya, dalam hadits riwayat Muslim dari jalur Ibnu Umar, disebutkan bahwa Rasulullah SAW memanggil putri Umar yang bernama Asiyah dengan panggilan Jamilah (cantik). Dalam riwayat lain, yang juga diriwayatkan Muslim, Nabi SAW mengganti nama Asiyah dengan berkata, "Kamu jamilah."

Kedua, Rasulullah SAW melarang mencela diri sendiri. Dalam hadits Bukhari dan Muslim yang diriwayatkan dari jalur Aisyah, Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kalian berkata 'khabutsat nafsi' (aku ini sangat buruk), tetapi cukup katakan 'laqishat nafsi' (aku ini punya kekurangan)."

Dari hadits tersebut, Nabi SAW melarang umatnya untuk merendahkan diri sendiri dan seorang Muslim tidak boleh menggambarkan dirinya dengan sifat-sifat yang jelek, sekalipun dia jujur dan bermaksud rendah hati. Sebab, kata-kata seperti itu bukanlah bentuk kerendahan hati.

Ketiga, menyampaikan pesan atau perkataan yang positif. Rasulullah SAW senantiasa menyampaikan perkataan positif kepada para sahabatnya dan mengarahkan mereka pada hal-hal positif yang mereka miliki. Dengan demikian, itu akan membentuk konsep diri yang positif.

Akibatnya, mereka yang menerima perkataan positif pun memiliki energi positif dan dapat menyalurkan atau menggunakannya untuk sesuatu yang positif pula. Contohnya, yaitu ketika Nabi Muhammad berkata kepada Abdullah bin Masud, "Sesungguhnya kamu seorang budak yang pasti diberi ilmu."

Begitu pun kepada sahabat bernama Asyaj Abd al-Qays, Nabi SAW berkata, "Engkau punya dua sifat yang dicintai Allah SWT: Bijak dan sabar."

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW juga bersabda tentang Abu Bakar, "Sesungguhnya orang yang sangat besar jasanya padaku dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Jika aku dibolehkan mengangkat seseorang menjadi kekasihku selain Rabbku pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan se-Islam dan kecintaan karenanya..." (HR Bukhari dan Muslim)

Sedangkan mengenai Umar bin Khattab, Rasulullah SAW bersabda, "Jika ada seorang nabi setelahku, maka orang itu adalah Umar bin Khattab." (Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir, dalam Sunan At-Tirmidzi). [yy/umar mukhtar/republika]