<
pustaka.png
basmalah.png

Empat Kriteria Kebaikan

Empat Kriteria Kebaikan

Fiqhislam.com - Allah Subhanahu Wata’ala menjelaskan kepada seluruh manusia bahwa sekedar menghadapkan wajah ke barat atau timur bukanlah inti dari kriteria kebaikan (Al-birru) dan tidak dianggap sebagai amal shaleh. Allah kemudian menurunkan Surah Al-Baqarah [2] ayat 177, berkenaan dengan peristiwa pengalihan (pemindahan) arah kiblat kaum muslimin dari Baitul Maqdis ke arah Ka’bah.

Saat itu, kaum Yahudi berkeyakinan bahwa shalat harus menghadap ke barat, sedang kaum Nasrani berkeyakinan bahwa ibadah harus menghadap ke timur. Sedangkan Kaum muslimin berkeyakinan bahwa shalat harus menghadap ke Ka’bah.

لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلِٰٕۤكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّإِۤلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولِٰٕۤكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولِٰٕۤكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS: Al-Baqarah [2] : 177)

Kriteria kebaikan

Pada ayat ini, Allah menjelaskan kebaikan yang hakiki dari kaidah agama yang penting dan bisa di ringkas sebagai berikut :

Bahwa kebaikan meliputi:

Pertama, keimanan yang ada di dalam hati

Hal ini mencakup iman kepada Allah dan dari akhir, iman kepada Malaikat, kitab Kitab Suci, dan kepada para nabi atau lebih dikenal dengan rukun iman. Namun rukun iman di sini jumlahnya hanya lima.

Adapun rukun iman yang ke enam yaitu iman kepada Qada’ dan Qadar masuk ke dalam iman kepada Allah.  Rukun iman ini juga dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا

Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh. ” (QS: An-Nisa [4]: 136).

Di dalam Surah Al-Anfal Allah menerangkan ciri-ciri Al-Mukminun yang dimulai juga dengan keimanan dalam hati. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS: Al-Anfal [8]: 2).

Kedua, berbuat baik kepada orang lain

Yaitu memberikan harta yang di cintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, orang yang meminta-minta  dan untuk memerdekakan budak.

  • Kerabat didahulukan, kalau mereka adalah orang orang yang paling dekat dengan kita.
  • Anak yatim didahulukan daripada orang miskin, karena kehilangan orangtua dimasa kecil, berarti kehilangan kasih sayang. Ini lebih berat daripada orang miskin yang masih mempunyai orangtua. Tekanan psikologi jauh lebih berat dari kekurangan materi.
  • Berbuat baik kepada orang lain lebih di dahulukan daripada shalat, karena manfaatnya jauh lebih besar dan lebih merata kepada banyak orang. Sedangkan shalat manfaatnya untuk dirinya sendiri, lagi pula mengorbankan harta yang dicintai untuk orang lain sangat berat dihati, sedikit orang yang bisa melaksanakannya.

Ini dikuatkan di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS: Al-Insan [76]:8).

Ketiga, menegakkan shalat dan menunaikan zakat

Ini dilakukan setelah ada keimanan di dalam hati. Dan ini termasuk dalam rukun Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menerangkan sifat Al Mukminun setelah menyebut keimanan dalam hati,

الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ

(yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”  (QS: Al-Anfal [8]: 3)

Ini dikuatkan juga di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS: Al- Baqarah [2]: 3)

Ayat di atas menjelaskan bahwa sifat Al-Muttaqin adalah beriman dengan yang ghaib terlebih dahulu sebelum menegakkan shalat dan menunaikan zakat atau dengan kata lain iman dahulu baru Islam.

Keempat, berakhlak karimah

Hal ini mencakup dua hal:

a)  Menepati janji apabila berjanji. Ini dikuatkan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَۖ

Dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya.”  (QS: Al-Ma’arij [70]: 32)

Juga dikuatkan di dalam firman-Nya,

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ ۙ

Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya.” (QS: Al-Mukminun [23]: 8).

b)  Bersabar di dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan

Orang-orang yang mempunyai empat sifat di atas atau mempunyai lima sifat secara rinci di atas adalah orang-orang yang benar iman mereka dan merekalah orang orang yang bertakwa.

Cakupan anjuran Islam

Dari ayat di atas bisa disimpulkan bahwa Islam mencakup aspek:

  • Akidah (rukun Iman yang enam)
  • Ibadah (meliputi: shalat, puasa, zakat, haji, membaca Al Quran dan lain-lain)
  • Akhlak (meliputi akhlak kepada Allah, kepada Rasul-Nya, keadaan diri sendiri, dan akhlak kepada orang lain)
  • Muamalah (meliputi: jual beli, pernikahan dan hubungan antar sesama manusia). Wallahu Alam. [yy/hidayatullah]

Dr. Ahmad Zain An Najah, MA, Pusat Kajian Fiqih Indonesia (PUSKAFI)

 

 

top