11 Rabiul-Awwal 1444  |  Jumat 07 Oktober 2022

basmalah.png

5 Pelajaran Abadi dari Hijrah Nabi Muhammad Saw

5 Pelajaran Abadi dari Hijrah Nabi Muhammad Saw

Fiqhislam.com - 1.444 tahun yang lalu merupakan titik balik terbesar dalam kehidupan umat manusia di seluruh dunia. Hijrah Nabi Muhammad adalah titik balik dalam sejarah. Itu adalah awal dari periode ketika Nabi akan berubah dari orang Makkah yang tertindas menjadi orang yang kembali sebagai penguasa dermawan.

Nabi harus menyelinap di malam hari menghindari para pembunuh dan akan kembali bertahun-tahun kemudian dengan kemenangan dan sambil memuliakan Allah. Pelajaran dari hijrah tidak lekang oleh waktu dan untuk kita renungkan selamanya.

Bahkan, pada masa Nabi, menjelang akhir hayatnya, Allah SWT mengingatkan orang-orang beriman tentang Hijrah dan bagaimana Allah telah membantunya melewatinya. Ayat itu berbunyi:

Jika Anda tidak membantu Nabi (SAW), Allah telah membantunya ketika orang-orang kafir telah mengusirnya (dari Makkah) sebagai salah satu dari dua, ketika mereka berada di gua dan dia berkata kepada temannya:

"Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS At-Taubah:40)

5 Pelajaran Abadi dari Hijrah Nabi Muhammad SAW

1. Allah tidak membutuhkan kita

Allah memulai dari awal ayat bahwa bahkan jika orang-orang beriman tidak membantu Nabi dalam keadaan yang tidak terlalu sulit, maka itu tidak menjadi masalah. Allah akan membantu Nabi-Nya dan agama-Nya dengan cara yang tidak dapat dibayangkan oleh siapa pun.

Semua orang di Makkah mengharapkan Nabi meninggal pada pagi hari, namun Allah (SWT) menyelamatkannya dan membawanya ke Madinah. Dia tidak membutuhkan tentara untuk melindunginya, dia hanya membutuhkan Allah. Ini adalah pengingat bagi kita bahwa setiap kali kita melakukan sesuatu untuk kepentingan Islam, kita hanya membantu diri kita sendiri.

2. Mempercayai Allah di saat kesulitan membawa kemudahan

Abu Bakar dan Nabi SAW berada di dalam gua dan tidak memiliki jalan keluar. Orang-orang Quraisy berada di dekatnya dan mencari mereka. Saat mereka mendekat, Abu Bakar berbisik kepada Nabi tentang kegelisahannya.

Saat itulah Nabi menjawab, “Jangan bersedih, Allah bersama kita.”

Nabi tidak tahu persis apa yang akan terjadi atau bagaimana Allah akan menyelamatkan mereka. Tapi dia tahu bahwa karena mereka berada di jalan Allah, Dia akan cukup, dan Dia melakukannya. Dan bersamaan dengan itu Allah menurunkan ketenangan, yang hanya bisa datang dengan bertawakal kepada Allah dan membiarkan Dia melakukan apa yang Dia lakukan.

3. Patuhi perintah Allah meski tidak masuk akal

Kehidupan Rasul telah berubah secara dramatis sejak ia menjadi seorang Nabi. Dan terlepas dari semua ini, dia tetap menjadi Utusan Tuhan.

Dia tidak pernah menyerah meskipun semua penganiayaan, dan bahkan harus diusir dari rumahnya. Namun, dia terus berjalan.

Ini mungkin terdengar cukup aneh bagi kita, mengapa dia terus berjalan dan ini adalah ajaran bahwa kita menaati perintah Allah karena Dia memerintahkannya, bukan karena masuk akal bagi kita. Dan kita mengikuti mereka, dan percaya bahwa Dia akan membuatnya bekerja sebagaimana Dia telah memerintahkan kita untuk melakukan hal yang sama.

4. Dengan kesulitan datang kemudahan

Nabi telah menderita begitu lama. Sudah hampir 13 tahun siksaan, dan baru sekarang dia akhirnya akan keluar dari rasa sakit yang diberikan orang Makkah kepadanya. Tapi sedikit yang dia tahu bahwa Allah telah merencanakan begitu banyak.

Semua rasa sakit itu adalah satu hal tetapi apa yang akan datang lebih baik. Dan dengan kesulitan yang dia hadapi, sekarang dia akan membuka lembaran baru.

Dia akan menjadi Raja Madinah, Nabi yang mengirim surat ke berbagai kepala negara untuk menerima Islam dan dengan semua ini akhirnya akan datang kemenangan Makkah. Dan janji Allah itu benar, bersama kesulitan ada kemudahan.

5. Persaudaraan

Hijrah mengajarkan kita tentang persaudaraan. Muslim berhijrah dari Makkah dengan sedikit atau tidak ada sama sekali harta. Mereka kemudian diterima di Madinah hampir seolah-olah mereka adalah penduduknya.

Penduduk Madinah berbagi rumah, makanan, dan apa pun yang mereka miliki untuk membantu saudara-saudara mereka dari Makkah menetap. Ini adalah salah satu ekspresi persaudaraan terbaik dalam sejarah umat manusia.

Dan itu adalah sesuatu yang dibawa Islam. Itu dibesarkan hanya dengan pemahaman bahwa mereka semua bersatu di bawah satu Nabi Muhammad. Ini adalah beberapa dari sekian banyak pelajaran yang telah diajarkan hijrah kepada kita. Saat ini, ketika dunia jatuh ke dalam kekacauan, dan kehidupan menjadi sulit lagi, perlu diingat hijrah yang terjadi 1.438 tahun yang lalu. [yy/republika]