11 Rabiul-Awwal 1444  |  Jumat 07 Oktober 2022

basmalah.png

5 Hal yang Membolehkan Seseorang Menjamak Shalat

5 Hal yang Membolehkan Seseorang Menjamak Shalat

Fiqhislam.com - Menjamak shalat artinya mengumpulkan atau menggabung dua shalat fardhu yang dikerjakan dalam satu waktu dan dikerjakan secara berturut-turut. Misalnya, shalat Dzuhur dengan Ashar pada waktu shalat Dzuhur. Atau shalat Maghrib dan Isya pada waktu Maghrib atau sebaliknya.

Ada beberapa hal yang membolehkan seseorang menjamak shalat. Artinya, umat muslim tidak boleh sembarangan melaksanakan shalat Jamak kecuali karena alasan syar'i (alasan yang dibolehkan oleh syariat).

Pengasuh Rumah Fiqih Indonesia, Ustaz Ahmad Sarwat mengatakan, dari banyak dalil di dalam Al-Quran dan Hadits, para ulama menyusun aturan fiqih terkait shalat jamak. Ketentuan ini disusun untuk memudahkan umat memahami kapan shalat jamak boleh dilakukan atau sebaliknya.

Berikut 5 Hal yang membolehkan shalat Jamak dilansir dari rumahfiqih:

1. Sebab Safar (dalam perjalanan)

Menjamak shalat dibolehkan apabila seseorang dalam keadaan safar (perjalanan). Para ulama menetapkan bahwa safar itu minimal menempuh jarak tertentu dan ke luar kota. Pada masa Rasulullah SAW, jarak itu adalah 2 marhalah. Satu marhalah adalah jarak yang umumnya ditempuh oleh orang berjalan kaki atau naik kuda selamasatu hari. Jadi jarak 2 marhalah adalah jarak yang ditempuh dalam 2 hari perjalanan.

Ukuran marhalah ini sangat dikenal di masa itu, sehingga dapat dijadikan ukuran jarak suatu perjalanan. Orang Arab biasa melakukan perjalanan siang hari, yaitu dari pagi hingga tengah hari. Setelah itu mereka berhenti atau beristirahat.

Para ulama kemudian mengkonversi jarak tersebut sesuai ukuran jarak di zaman mereka masing-masing. Misalnya, di suatu zaman disebut dengan ukuran burud, sehingga jarak itu menjadi 4 burud. Di tempat lain disebut dengan ukuran farsakh, sehingga jarak itu menjadi 16 farsakh.

Di zaman sekarang jarak itu dikonversi para ulama mendapatkan hasil jarak 2 marhalah itu adalah 89 Km atau tepatnya 88,704 Km.

Maka tidak semua musafir bisa melakukan shalat jamak kecuali jaraknya minimal 88,704 Km, baru shalat Jamak sah dikerjakan. Namun dalam prakteknya, bukan berarti jarak itu adalah jarak minimal yang harus sudah ditempuh, melainkan jarak minimal yang akan ditempuh.

Berarti, siapa pun yang berniat akan melakukan perjalanan yang jaraknya mencapai jarak itu, sudah boleh melakukan shalat jama', asalkan sudah di luar dari kota tempat tinggalnya. Para musafir juga boleh meng-qashar shalat atau meringkas shalat yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat. Inilah salah satu kemudahan (rukhsah) yang diberikan Allah dalam menjalankan syariat-Nya.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda:

يَاأَهْلَ مَكَّةَ لاَ تَقْصُرُوا فيِ أَقَلِّ مِنْ أَرْبَعَةِ بَرْدٍ مِنْ مَكَّةَ إِلىَ عُسْفَان

"Wahai penduduk Mekkah, janganlah kalian mengqashar shalat bila kurang dari 4 Burud, dari Mekkah ke Usfan". (HR Ad-Daruquthuny)

2. Hujan

Kita juga menemukan dalil-dalil yang terkait dengan hujan. Di mana turunnya hujan ternyata membolehkan seseorang menjamak shalat. Misalnya menjamak Mahgrib dan Isya' di waktu Isya, namun tidak untuk jamak antara Dzuhur dan Ashar. Dengan dalil: "Sesungguhnya merupakan sunnah bila hari hujan untuk menjamak antara shalat Maghrib dengan Isya'." (HR Atsram).

Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW shalat di Madinah tujuh atau delapan; Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isya". Ayyub berkata, "Barangkali pada malam turun hujan?" Jabir berkata: "Mungkin". (HR Al-Bukhari 543 dan Muslim 705).

Dari Nafi' maula Ibnu Umar berkata: "Abdullah bin Umar bila para umaro menjama antara Maghrib dan Isya karena hujan, beliau ikut menjamak bersama mereka". (HR Ibnu Abi Syaibah dengan sanad Shahih)

Hal seperti juga dilakukan oleh para salafus shalih seperti Umar bin Abdul Aziz, Said bin Al-Musayyab, Urwah bin az-Zubair, Abu Bakar bin Abdurrahman dan para masyaikh lainnya di masa itu. Demikian ditulis oleh Imam Malik dalam Al-Muwattha' jilid 3 halaman 40.

Selain itu ada juga hadits menerangkan bahwa hujan adalah salah satu sebab dibolehkannya jama' Qashar. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW menjamak Dzuhur, danAshar, Maghrib dan Isya di Madinah meski tidak dalam keadaan takut maupun hujan." (HR Muslim 705).

3. Sebab Sakit

Keadaan sakit menurut Imam Ahmad bisa membolehkan seseorang menjamak shalat. Dalilnya adalah hadits Nabawi berikut: "Bahwa Rasulullah SAW menjamak shalat bukan karena takut juga bukan karena hujan."

4. Sebab Haji

Para jamaah haji disyariatkan untuk menjamak dan mengqashar shalat Dzuhur dan Ashar ketika berada di Arafah dan Muzdalifah. Dalilnya adalah: "Dari Abi Ayyub al-Anshari bahwa Rasulullah SAW menjamak Maghrib dan Isya di Muzdalifah pada Haji wada'. (HR Al-Bukhari 1674)

5. Sebab Keperluan Mendesak

Bila seseorang terjebak dengan kondisi di mana dia tidak punya alternatif lain selain menjamak, maka sebagian ulama membolehkannya. Namun hal itu tidak boleh dilakukan sebagai kebiasaan atau rutinitas.

Dalil yang digunakan adalah dalil umum seperti yang sudah disebutkan di atas. Allah berfirman: "Allah tidak menjadikan dalam agama ini kesulitan". (QS. Al-Hajj: 78)

Dari Ibnu Abbas: "Beliau tidak ingin memberatkan umatnya". (HR Muslim 705)

Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW menjamak Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya di Madinah meski tidak dalam keadaan takut maupun hujan. Wallahu A'lam. [yy/rusman h siregar/sindonews]