8 Rabiul-Awwal 1444  |  Selasa 04 Oktober 2022

basmalah.png

Mengapa Harta dan Anak Dijadikan Perhiasan Duniawi?

Mengapa Harta dan Anak Dijadikan Perhiasan Duniawi?

Fiqhislam.com - Alquran menjelaskan, harta dan anak adalah perhiasan dunia. Sementara itu, amal kebajikan yang abadi pahalanya lebih baik balasannya di sisi Allah SWT.

Hal ini dijelaskan dalam surat al-Kahf ayat 46. Allah SWT berfirman sebagai berikut:

اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS Al Kahf ayat 46)

Dalam penjelasan Tafsir Kementerian Agama, pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa yang menjadi kebanggaan manusia di dunia adalah harta benda dan anak-anak, karena manusia sangat memperhatikan keduanya.

Banyak harta dan anak dapat memberikan kehidupan dan martabat yang terhormat kepada orang yang memilikinya.

Seperti halnya ‘Uyainah, pemuka Quraisy yang kaya itu atau Qurus yang mempunyai kedudukan mulia di tengah-tengah kaumnya, karena memiliki kekayaan dan anak buah yang banyak.

Karena harta dan anak pula, orang menjadi takabur dan merendahkan orang lain. Allah SWT menegaskan bahwa keduanya hanyalah perhiasan hidup duniawi, bukan perhiasan dan bekal untuk ukhrawi. Padahal manusia sudah menyadari bahwa keduanya akan segera binasa dan tidak patut dijadikan bahan kesombongan.

Dalam urutan ayat ini, harta didahulukan dari anak, padahal anak lebih dekat ke hati manusia, karena harta sebagai perhiasan lebih sempurna daripada anak. Harta dapat menolong orang tua dan anak setiap waktu dan dengan harta itu pula kelangsungan hidup keturunan dapat terjamin.

Kebutuhan manusia terhadap harta lebih besar daripada kebutuhannya terhadap anak, tetapi tidak sebaliknya.

Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa yang patut dibanggakan hanyalah amal kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia sepanjang zaman sampai akhirat, seperti amal ibadah sholat, puasa, zakat, jihad di jalan Allah SWT, serta amal ibadah sosial, seperti membangun sekolah, rumah anak yatim, rumah orang-orang jompo, dan lain sebagainya.

Amal kebajikan ini lebih baik pahalanya di sisi Allah SWT daripada harta dan anak-anak yang jauh dari petunjuk Allah SWT.

Tentu menjadi pembela dan pemberi syafaat bagi orang yang memilikinya di hari akhirat ketika harta dan anak tidak lagi bermanfaat. [yy/fuji e permana/republika]