21 Muharram 1444  |  Jumat 19 Agustus 2022

basmalah.png

Urgensi Muhasabah

Urgensi Muhasabah

Fiqhislam.com - Muhasabah biasa diartikan sebagai perenungan atau introspeksi diri sendiri secara mendalam dalam suatu kondisi dan keadaan tertentu di tempat dan dalam waktu tertentu.

Hal ini penting untuk mengobati qalbu yang sakit karena kelebihan beban (over loaded), sudah lama terbelenggu oleh kegelapan dosa, sudah keropos karena tidak pernah dilatih merenung, dan sudah lemah karena ditenggelamkan oleh hal-hal yang bersifat logika.

Muhasabah bisa menjadi jalan keluar bagi orang-orang yang merasa kelelahan secara spiritual. Muhasabah ini juga penting untuk menumbuhkan dan menyegarkan kembali suasana batin dan spirit keagamaan kita.

Bentuk-bentuk muhasabah antara lain bisa dengan cara melakukan iktikaf, yakni berdiam diri di Mesjid untuk melakukan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah SWT. Seraya melakukan perenungan diri secara mendalam. Bisa juga dilakukan di rumah saat-saat tertentu ketika dalam keadaan rumah sedang hening, mingkin waktunya tengah malam atau saat rumah sedang sepi.

Muhasabah bisa dikombinasikan dengan berbagai amalan seperti shalat-shalat sunah, tadarus Al-Quran, dzikir, wirid, tafakur, dan tadzakur. Kalangan ulama berpendapat kalau saja orang bisa melakukan muhasabah dengan dengan baik maka sesungguhnya lebih baik baginya dari pada shalat sunah.

Kualitas muhasabah dapat diukur seberapa tenang dan pasrah pikiran dan hati di dalam menjalankannya. Terkadang tidak terasa kita berada pada ujung malam tanpa sedikitpun merasakan rasa ngantuk dan kelelahan. Muhasabah dirasakan sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan dan samasekali tidak dirasakan lagi sebagai suatu beban. Berbagai ibadah yang dilakukan di dalamnya menyenangkan, seperti tadarrus Al-Quran dan berbagai shalat sunnat. Jiwa lembut, hati putih, pikiran lurus, dan akhlak karimah betul-betul terasa di dalam diri yang bersangkutan.

Enam tahun sebelum dilantik menjadi Nabi, Muhammad Saw aktif menjalani 'uzlah dan khalwat di Gua Hira yang sesungguhnya juga bisa disebut muhasabah. 'Udzlah dan al-khalwat keduanya mempunyai makna dan tuntutan yang sama, yaitu melakukan pemisahan diri dengan keramaian orang untuk memperoleh intensitas ketenangan guna membersihkan jiwa dan mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT.

Hampir semua Nabi dan Rasul familiar dengan 'udzlah dan khalwat. Nabi Muhammad Saw sendiri telah aktif berkhalwat seorang diri di Gua Hira, dan kemudian di tempat ini beliau menerima wahyu pertama, serta sekaligus pendeklarasian dirinya sebagai Nabi dan Rasul.

Di dalam Al-Quran banyak sekali ditemukan ayat tentang goa, termasuk Nabi Ibrahim dan Nabi Musa menemukan Tuhan yang sesungguhnya setelah berkhalwat di dalam sebuah Gua. Bahkan salah satu goa diabadikan menjadi nama surah, yaitu Al-Kahfi (Q.S.18). Goa ini diyakini oleh masyarakat Yordania berada di pinggir kota Amman, ibu kota Yordania. Di goa ini dikenang tujuh wali bersama anjing penjaganya tertidur selama 309 tahun.

Dalam melakukan udzlah dan khalwat tidak mesti harus di dalam goa, bahkan juga tidak mesti mengkarantina diri secara fisik di tempat yang jauh dari keramaian orang. Substansi khalwat atau udzlah ialah upaya menciptakan keheningan dan ketenangan jiwa dan pikiran. Seseorang mungkin bisa menjadikan salah satu ruang di dalam rumahnya sebagai "gua hira", dengan merancang secara isik mushallah kecil (zawiyah) yang di dalamnya hanya ada peralatan ibadah seperti sajadah, tasbiq, mushaf Al-Quran, buku-buku doa, dan alat pengharum ruangan. [yy/detik]

Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

 

Urgensi Muhasabah

Fiqhislam.com - Muhasabah biasa diartikan sebagai perenungan atau introspeksi diri sendiri secara mendalam dalam suatu kondisi dan keadaan tertentu di tempat dan dalam waktu tertentu.

Hal ini penting untuk mengobati qalbu yang sakit karena kelebihan beban (over loaded), sudah lama terbelenggu oleh kegelapan dosa, sudah keropos karena tidak pernah dilatih merenung, dan sudah lemah karena ditenggelamkan oleh hal-hal yang bersifat logika.

Muhasabah bisa menjadi jalan keluar bagi orang-orang yang merasa kelelahan secara spiritual. Muhasabah ini juga penting untuk menumbuhkan dan menyegarkan kembali suasana batin dan spirit keagamaan kita.

Bentuk-bentuk muhasabah antara lain bisa dengan cara melakukan iktikaf, yakni berdiam diri di Mesjid untuk melakukan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah SWT. Seraya melakukan perenungan diri secara mendalam. Bisa juga dilakukan di rumah saat-saat tertentu ketika dalam keadaan rumah sedang hening, mingkin waktunya tengah malam atau saat rumah sedang sepi.

Muhasabah bisa dikombinasikan dengan berbagai amalan seperti shalat-shalat sunah, tadarus Al-Quran, dzikir, wirid, tafakur, dan tadzakur. Kalangan ulama berpendapat kalau saja orang bisa melakukan muhasabah dengan dengan baik maka sesungguhnya lebih baik baginya dari pada shalat sunah.

Kualitas muhasabah dapat diukur seberapa tenang dan pasrah pikiran dan hati di dalam menjalankannya. Terkadang tidak terasa kita berada pada ujung malam tanpa sedikitpun merasakan rasa ngantuk dan kelelahan. Muhasabah dirasakan sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan dan samasekali tidak dirasakan lagi sebagai suatu beban. Berbagai ibadah yang dilakukan di dalamnya menyenangkan, seperti tadarrus Al-Quran dan berbagai shalat sunnat. Jiwa lembut, hati putih, pikiran lurus, dan akhlak karimah betul-betul terasa di dalam diri yang bersangkutan.

Enam tahun sebelum dilantik menjadi Nabi, Muhammad Saw aktif menjalani 'uzlah dan khalwat di Gua Hira yang sesungguhnya juga bisa disebut muhasabah. 'Udzlah dan al-khalwat keduanya mempunyai makna dan tuntutan yang sama, yaitu melakukan pemisahan diri dengan keramaian orang untuk memperoleh intensitas ketenangan guna membersihkan jiwa dan mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT.

Hampir semua Nabi dan Rasul familiar dengan 'udzlah dan khalwat. Nabi Muhammad Saw sendiri telah aktif berkhalwat seorang diri di Gua Hira, dan kemudian di tempat ini beliau menerima wahyu pertama, serta sekaligus pendeklarasian dirinya sebagai Nabi dan Rasul.

Di dalam Al-Quran banyak sekali ditemukan ayat tentang goa, termasuk Nabi Ibrahim dan Nabi Musa menemukan Tuhan yang sesungguhnya setelah berkhalwat di dalam sebuah Gua. Bahkan salah satu goa diabadikan menjadi nama surah, yaitu Al-Kahfi (Q.S.18). Goa ini diyakini oleh masyarakat Yordania berada di pinggir kota Amman, ibu kota Yordania. Di goa ini dikenang tujuh wali bersama anjing penjaganya tertidur selama 309 tahun.

Dalam melakukan udzlah dan khalwat tidak mesti harus di dalam goa, bahkan juga tidak mesti mengkarantina diri secara fisik di tempat yang jauh dari keramaian orang. Substansi khalwat atau udzlah ialah upaya menciptakan keheningan dan ketenangan jiwa dan pikiran. Seseorang mungkin bisa menjadikan salah satu ruang di dalam rumahnya sebagai "gua hira", dengan merancang secara isik mushallah kecil (zawiyah) yang di dalamnya hanya ada peralatan ibadah seperti sajadah, tasbiq, mushaf Al-Quran, buku-buku doa, dan alat pengharum ruangan. [yy/detik]

Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

 

Aspeknya dalam Ajaran Islam

Muhasabah dan 3 Aspeknya dalam Ajaran Islam


Fiqhislam.com - Islam mengenal istilah muhasabah dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Seperti apa makna dan aspek muhasabah dalam ajaran Islam?

Menurut buku Mukjizat Sabar Syukur Ikhlas yang ditulis oleh Badrul Munier Buchori, muhasabah berasal dari bahasa Arab, yakni berakar dari kata haasaba yuhaasibu. Kata tersebut diambil dari hasiba, hasibtusy syai'a, ahsibuhu husbaanan, dan hisaaban yang mengandung makna jika engkau menghitungnya.

Sebab itulah, muhasabah seringkali diartikan sebagai introspeksi diri atau evaluasi diri. Jadi, muhasabah adalah menghitung perjalanan hidup kita untuk mengetahui perbandingan antara amal baik dan keburukan yang telah kita lakukan.

Evaluasi diri yang dimaksud muhasabah dalam Islam meliputi hubungan seorang hamba dengan Allah, maupun hubungan sesama makhluk ciptaanNya.

Pentingnya muhasabah dalam menjalani hidup sehari-hari tertuang dalam salah satu riwayat hadits. Rasulullah SAW menyebut orang yang pandai adalah orang-orang yang melakukan muhasabah. Dari Syadad bin Aus RA, Rasulullah bersabda,

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

"Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT," (HR. Imam Turmudzi).

Selain itu, sahabat Nabi, Umar bin Khattab pernah menganjurkan umat muslim untuk bermuhasabah diri sebelum hari penghisaban tiba. Ia berkata,

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا

"Hisablah diri (introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia."

Berdasarkan penjelasan di atas, muhasabah tidak hanya bermanfaat untuk akhirat tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan kita di dunia. Sebab itulah, kita perlu memahami aspek apa saja yang perlu dimuhasabahi.

Aspek Muhasabah dalam Islam

Aspek yang perlu dimuhasabahi oleh setiap muslim seperti yang dikutip dari laman Ayo Guru Berbagi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendibud) di antaranya:

1. Aspek ibadah

Aspek ibadah merupakan salah satu aspek dalam muhasabah. Sebab ibadah merupakan tujuan utama manusia diciptakan. Allah berfirman dalam surat Adz Dzariyat ayat 56,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku."

2. Aspek pekerjaan, usia, dan rezeki

Muhasabah adalah kesempatan umat muslim untuk introspeksi diri terkait yang telah dikerjakannya selama di dunia. Oleh karena itu, aspek pekerjaan, usia, dan rezeki menjadi salah satu yang penting diperhatikan.

Dari Ibnu 'Abbas Ra Rasulullah SAW pernah menasehati seseorang, ia bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

"Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu."

3. Aspek kehidupan sosial

Aspek kehidupan sosial yakni hubungan kita dengan sesama manusia. Rasulullah bersabda,

"Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?" Mereka menjawab: "Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki harta benda." Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umat hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang membawa dosa kedzaliman. Ia tidak pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, meminta harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan melawan orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya ini, diberikanlah di antara menguntungkannya si ini, si anu dan si itu. Sampai selesai istimewa telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus" (HR Muslim no. 6522).

Semoga dengan informasi mengenai pentingnya muhasabah dan aspeknya ini dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT. [yy/detik]

Rahma Indina Harbani