9 Jumadil-Awwal 1444  |  Sabtu 03 Desember 2022

basmalah.png

Cahaya Batin Ahli Dzikir

Cahaya Batin Ahli Dzikir

Fiqhislam.com - Rasulullah dalam hadis riwayat Bukhari mengumpamakan para ahli dzikir sebagai makhluk yang benar-benar hidup (al-hayyu). Sedangkan, mereka yang tidak berdzikir adalah laksana bangkai (al-mayyit) yang hanya diam dan menebar kebusukan.

Para ahli dzikir tak bisa disejajarkan dengan konglomerat yang secara kasatmata hidup serbamewah dan penuh kebahagiaan. Dia bukan seperti para pencinta dunia yang bergelimang harta dan takut kehilangan uang dan kebendaan walau sedikit.

Para ahli dzikir terlihat biasa, bahkan tak menarik, karena dia tidak mengenakan pakaian terbaik, tidak mengenakan parfum yang mahal, atau tidak menampilkan keduniaan yang indah. Hidupnya sederhana. Dia makan seadanya, bahkan lebih sering berpuasa untuk mengekang nafsu dan menjernihkan mata batin, sehingga penglihatannya menembus segala keindahan yang menutupi berbagai kebusukan diri ahli maksiat dan munafik.

Para pencinta dunia belum tentu mau mendatanginya. Para penguasa zalim akan dibutakan matanya ketika melihat dia. Orang penuh dosa akan tertutup hatinya sehingga mengabaikan orang semacam ini, kecuali mereka yang dikasihi Allah (illa man rahima rabbih).

Para ahli dzikir tidak rakus akan materi, seperti yang dicontohkan Ibrahim bin Adham (718-782 M) yang mengurus ternak, lalu mendapatkan sedikit keuntungan untuk melanjutkan kesederhanaan hidup dan menguatkan kekayaan hatinya.

Apa yang dia cari adalah sekadar untuk menguatkan keasyikannya bersujud seperti Ali Zainal Abidin as-Sajjad bin Husein bin Ali bin Abi Thalib wa Fatimah az-Zahra binti Rasulillah, yang mengisi hari-harinya dengan sujud di Masjid al-Haram.

Para ahli dzikir mengagungkan asma Allah dalam keseharian, pada pagi hingga malam, dalam bahagia dan derita, dalam keadaan sehat dan sakit. Semua itu dilaluinya dengan menguatkan la ilaha illa Allah di lisan dan menjadikannya energi keimanan di hati.

Para ahli dzikir bertasbih (mengucap subhanallah) 100 kali dalam sehari sehingga Allah menuliskan seribu kebaikan untuknya dan menghapus seribu keburukannya, sebagaimana dijelaskan Rasulullah dalam hadis riwayat Muslim.

Dzikir secara lahir dan batin adalah sebaik-baiknya perbuatan (khairul a’mal), harta (sesungguhnya) yang suci, derajat yang tinggi, perbuatan yang lebih mulia dari menginfakkan emas dan perak, dan perbuatan yang lebih hebat dari menghabisi musuh. Itu dijelaskan Rasulullah kepada para sahabat yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Syarat berdzikir

Syekh Abdul Qadir Jailani dalam Sirrul Asrar menjelaskan syarat berdzikir adalah kesucian. Sebelum menyebut Allah, ahli dzikir akan menyucikan dirinya dari berbagai hadas. Jika berhadas kecil maka dia akan berwudhu. Kemudian melafalkan kalimat dzikir dengan hentakkan yang kuat dan suara lantang.

Untuk apa? Sulthanul Auliya menjelaskan hal itu adalah untuk menyalakan cahaya batin para ahli dzikir. Hati mereka menjadi hidup dengan cahaya tersebut sehingga memunculkan kesadaran hakiki bahwa kehidupan akhirat adalah yang abadi, sedangkan kehidupan duniawi adalah sementara dan fana.

dzikir yang sungguh-sungguh akan membawa pelakunya menuju derajat kekasih Allah yang selalu mengagungkan asma-Nya, seperti para nabi dan rasul, baik ketika hidup di dunia maupun di alam kubur. Hidupnya diisi dengan munajat. Derai air mata membasahi pipinya sebagai bentuk penyesalan atas dosa yang dilakukan dan wujud kerinduan kepada Allah dan rasul-Nya.

dzikir dijalankan secara berkesinambungan atau istiqamah. Dan dengan berdzikir, Allah terus mengingat si ahli dzikir, memuluskan jalan hidupnya, dan memudahkan segala urusannya. Allah menjaganya dari dosa, maksiat, marabahaya, dan azab.

Keburukan para ahli dzikir adalah keburukan yang dicintai Allah. Dan kebaikan mereka adalah kebaikan yang tidak membuat Allah murka, sebagaimana doa Abu Hasan Ali as-Syadzili al-Hasani, “Allahumma ij’al sayyiatina sayyiati man ahbabta, wa la taj’al hasanatina hasanati man abghadta.”

Hadiah dari Allah untuk para ahli dzikir adalah makrifat. Mereka masuk ke dalam golongan orang-orang arifun. Mereka menjadi orang-orang suci yang selalu bermunajat meski kedua mata tertidur, sebagaimana sabda Rasulullah, “Tanamu ayni wa la yanamu qalbi.” [yy/republika]

Oleh Erdy Nasrul