15 Muharram 1444  |  Sabtu 13 Agustus 2022

basmalah.png

Ridho atas Ketetapan Allah Ta'ala

Ridho atas Ketetapan Allah Ta'ala

Fiqhislam.com - Bumi dan isinya adalah milik Allah SWT. Dan, Allah SWT menyatakan bahwa kerajaan langit dan bumi adalah milik-Nya (QS Ali Imran [3]: 159) serta menguasai atas apa yang terjadi di langit dan bumi (QS an-Nisa [4]: 126).

Allah SWT bisa saja berbuat sekehendak-Nya, sesuka-Nya, atau semau-Nya. Terserah Allah mau berbuat apa. Tidak ada yang mampu untuk menentang kehendak-Nya. Karena seluruh makhluk dalam genggaman dan kuasa-Nya. Kita hanya dianjurkan untuk ridha terhadap ketetapan Allah SWT.

Terkait dengan ketetapan Allah, ada ketetapan yang baik dan ada pula ketetapan yang buruk. Sebagai mukmin sejati, senantiasa ridha atas ketetapan tersebut. Sebab, Allah SWT menetapkan bukan berdasarkan keinginan kita, melainkan menetapkan berdasarkan kebutuhan kita dan keinginan Allah SWT.

Menurut Aidh al-Qarni dalam buku La Tahzan, “Sikap pilih kasih dalam menerima takdir bukanlah perilaku yang benar. Dengan kata lain, kita tidak dibenarkan jika hanya rela pada ketetapan Allah yang sesuai dengan keinginan kita dan murka bila ketetapan Allah tidak sesuai dengan keinginan kita.”

Ketetapan Allah yang baik, semua manusia ridha. Sebaliknya, manusia sulit untuk ridha terhadap ketetapan yang buruk. Padahal, boleh jadi sesuatu yang tidak kita senangi baik bagi kita dan boleh jadi sesuatu yang disenangi tidak baik bagi kita (QS al-Baqarah [2]: 216).

Karena itu, ketetapan Allah yang telah terjadi, sedang terjadi maupun yang akan terjadi, harus disikapi dengan keimanan. Selain iman, harus ada ikhtiar (usaha) sebagai upaya untuk mewujudkan yang kita inginkan.

Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri" (QS ar-Ra’d [13]: 11).

Untuk menghindari rasa kecewa atau buruk sangka kepada Allah SWT setelah melakukan ikhtiar, bertawakallah. Kemudian, ikhlas dan ridhalah terhadap ketetapan dan keputusan Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum Dia menguji mereka. Barang siapa yang ridha niscaya ia akan mendapatkan ridha-Nya. Barang siapa kesal dan benci niscaya ia akan mendapatkan murka-Nya” (HR at-Tirmidzi).

Bahkan, seseorang tidak dikatakan beriman jika tidak mengimani ketetapan (takdir) Allah SWT. Beriman kepada ketetapan (takdir) Allah merupakan salah satu rukun iman yang enam. Karena itu, setiap Muslim wajib mengimaninya.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada takdir baik dan buruk dari Allah dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya” (HR at-Tirmidzi).

Keterbatasan ilmu pengetahuan manusia tidak dapat menembus rahasia di balik ketetapan Allah SWT. Sehingga manusia menganggap ada ketidakadilan dari Allah SWT dalam menetapkan takdir. Namun, suatu saat nanti manusia akan tahu bahwa yang ditetapkan oleh Allah SWT adalah yang terbaik. Wallahu a’lam. [yy/republika]

Oleh Abdul Rojak Lubis