15 Jumadil-Awwal 1444  |  Jumat 09 Desember 2022

basmalah.png

Ketika Amalan Orang Hidup Diperlihatkan kepada Keluarganya yang Wafat

Ketika Amalan Orang Hidup Diperlihatkan kepada Keluarganya yang Wafat

Fiqhislam.com - Bagi kita yang masih hidup hendaknya menyenangkan keluarga dan kerabat yang telah wafat dengan amal saleh. Sebab dalam satu riwayat, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, sesungguhnya amal kalian akan diperlihatkan kepada kerabat dan keluarga kalian yang telah wafat, jika amal itu baik mereka pun bergembira.

Namun jika buruk, maka merekapun berdoa: "Ya Allah jangan wafatkan mereka sampai Engkau memberi hidayah kepada mereka seperti Engkau telah memberi hidayah kepada kami."

Hadits di atas sempat dinilai dha'if oleh Syaikh Albani, namun diralat kembali oleh beliau dengan menilainya sebagai Hadits shahih. (Lihat Ash-Shahihah 2758)

Dalam Islam, kematian disebut dengan ajal, maut atau wafat. Kematian berarti perpindahan ruh untuk memasuki kehidupan baru yang lebih agung.

Namun, orang yang meninggal bukan berarti tidak mengerti apa-apa. Mereka punya kehidupan sendiri, bahkan para Syuhada yang wafat di jalan Allah mendapat kesenangan dan nikmat dari Allah Ta'ala.

Dalam Kitab Al-Mawaizh Al-Usfuriyah, Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury mengetengahkan Hadis panjang yang diriwayatkan dari Sufyan, Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sesungguhnya amal-amal orang yang hidup akan diperlihatkan kepada teman-teman kerabat dan keluarga yang sudah mati. Apabila amal yang diperlihatkan adalah baik maka mereka akan memuji Allah dan mereka akan senang.

Apabila amal yang diperlihatkan adalah buruk, maka mereka yang telah mati berkata: "Ya Allah! Jangan Engkau cabut nyawa mereka (yang beramal) hingga Engkau memberi mereka hidayah terlebih dahulu!"

Kemudian Rasulullah SAW berkata: "Mayit akan menerima rasa sakit di kuburannya sebagaimana ia menerima rasa sakit ketika masih hidup."

Kemudian beliau ditanya, "Apa yang bisa menyakiti mayit itu?"

Rasulullah SAW menjawab: "Sesungguhnya mayit tidaklah melakukan suatu dosa, tidak saling berselisih, tidak melawan siapapun, dan juga tidak menyakiti tetangga. Hanya saja sesungguhnya ketika kamu berselisih dengan orang lain maka barang tentu ia akan berbicara kotor tentangmu dan kedua orang tuamu. Kemudian kedua orangtuamu itu disakiti ketika dicelakai. Begitu juga mereka berdua akan senang ketika diperlakukan baik sesuai dengan hak mereka."

Ahli Kubur Bersedih Jika Keluarganya Bermaksiat

Bukti bahwa ahli kubur sedih karena amal perbuatan buruk dari keluarganya di dunia adalah cerita dari Ibnu Abi ad-Dunya (memiliki nama asli al-Hafidz Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Ubaid bin Sufyan bin Qais al-Baghdady al-Umawi al-Qurasyi). Dilansir dari Islami[dot]co, Beliau mendapatkan cerita dari Khalid bin Amr al-Umawi, dari Shadaqah bin Sulaiman al-Ja'fary.

Ia bercerita: "Aku adalah seorang lelaki yang berkarakter buruk. Ketika Ayahku telah kembali kepada Pemiliknya, Aku sungguh menyesal atas perbuatan-perbuatan burukku dan Aku memutuskan bertobat kepada-Nya. Hingga suatu waktu, Aku kembali tergelincir ke dalam lembah kemaksiatan dan Aku bermimpi bertemu dengan Ayahku.

Beliau berkata kepadaku: "Wahai anakku, ketahuilah. Hal yang paling membuat Ayah sangat bahagia adalah amal perbuatanmu (amal perbuatan yang menyerupai amal perbuatan orang-orang saleh) yang diperlihatkan kepada Ayah, namun perbuatanmu kali ini (tergelincir dalam lembah kemaksiatan) benar-benar membuat Ayah sangat malu. Oleh sebab itu, jangan membuat Ayah susah dan malu di hadapan orang-orang yang telah mati lainnya di sekitar Ayah."

Demikian nasihat tentang kematian dan keadaan ahli kubur yang dapat mengetahui amal perbuatan orang hidup. Semoga Allah memberi kita hidayah-Nya agar senantiasa beramal saleh. [yy/rusman h siregar/sindonews]