18 Muharram 1444  |  Selasa 16 Agustus 2022

basmalah.png

Antara Niat dan Ganjaran Pahala

Antara Niat dan Ganjaran Pahala

Fiqhislam.com - Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan kepada kita bahwa tempat niat ada di hati. Sehingga, ketika kita mengharapkan pahala dari Allah, berarti kita harus memintanya kepada Allah, karena tidak ada sesuatu apa pun yang bisa disembunyikan dari pengetahuan Allah Ta'ala:

Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya,

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ

Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui. “ (Qs. Ali Imran : 29)

Dinukil dari kitab 'Kaifa Tahtasibiina al-Ajr Fii Hayaatiki al-Yaumiyyah' karya Hana’ binti Abdul Aziz Ash-Shanii’ dijelaskan bahwa setiap perbuatan pasti disertai niat. Setiap amal perbuatan yang kita lakukan semata-mata untuk Allah, maka amal perbuatan itu untuk Allah.

Sedangkan amal perbuatan yang kita lakukan untuk kepentingan dunia, maka amal perbuatan tersebut semata-mata untuk dunia. Niat yang kedua ini sungguh sangat berbahaya. Antara niat yang pertama dan niat yang kedua sungguh sangat berbeda, dan sangat bertentangan, pun sangat jauh, seperti jarak antara langit dan bumi.

Sebagian niat seorang perempuan berada di tumpukan sampah paling atas, dan sebagian niat manusia berada di tumpukan sampah paling bawah. Jika kita berniat semata-mata karena Allah dan negeri akhirat dalam melakukan setiap perbuatan yang syar’i, maka kita pasti mendapatkan apa yang diharapkan itu. Tapi, jika kita berbuat semata-mata karena dunia, mungkin kita bisa mendapatkan apa yang kita harapkan dan mungkin juga tidak.

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ

"Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki (QS. al-Isra : 18)

Dalam ayat di atas, Allah tidak berfirman, “Maka kami segerakan baginya apa yang ia inginkan.” Tetapi, Allah berfirman, “Maka Kami segerakan baginya apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki-bukan kepada setiap manusia.”

Berdasarkan ayat di atas, maka sebagian manusia mendapatkan apa yang dia inginkan di dunia ini, sebagian manusia hanya mendapatkan sebagian apa yang dia inginkan di dunia ini, dan sebagian manusia ada yang tidak mendapatkan sama sekali dari pada yang dia harapkan di dunia ini.

Sedangkan firman Allah,

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُو رًا

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (QS. Al-Isra : 19)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan pahala dari Allah. Selain itu, kita perlu mengetahui tentang pahala niat yang baik, di mana Allah tidak akan pernah menyia-nyiakannya, meskipun kita tidak sempat untuk melakukan amal saleh yang kita niatkan.

Jika seseorang berniat untuk melakukan amal saleh, tetapi ada aral atau rintangan sehingga dia tidak bisa melakukan amal saleh tersebut, maka dia tetap mendapatkan pahala, yaitu pahala dari apa yang dia niatkan. Sementara, jika dia melakukan amal saleh pada saat dia tidak mempunyai uzur, yakni pada saat dia mampu untuk melakukan amal saleh

Setelah itu dia memiliki uzur sehingga tidak mampu lagi untuk melakukannya, maka dia mendapatkan pahala dari amal perbuatan tersebut dengan nilai sempurna, sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

ذَا مَرِضَ الْعَبْدُ ، أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Jika seorang hamba sakit atau bepergian, maka dia akan diberi pahala amal seperti amal ketika dia sedang tidak bepergian atau sedang sehat. (HR. Bukhari)

Sungguh merupakan karunia dan rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya, di mana orang yang berniat untuk melakukan kebaikan, tetapi dia tidak sempat melakukannya karena sibuk dengan perbuatan yang lebih baik daripada amal perbuatan yang dia niatkan. Sementara dia tidak mungkin melakukan kedua amal perbuatan tersebut secara bersamaan, maka sungguh amal perbuatan yang dia niatkan akan tetap dibalas dengan pahala. Wallahu A'lam. [yy/widaningsih/sindonews]