15 Jumadil-Awwal 1444  |  Jumat 09 Desember 2022

basmalah.png

Tiga Penyebab Ketakwaan

Tiga Penyebab Ketakwaan

Fiqhislam.com - Salah satu representasi dari orang Islam yang sangat taat adalah ia menjadi pribadi yang bertakwa kepada Allah ‘azza wa jall. Dengan bertakwa, ia akan tumbuh menjadi orang yang memiliki sikap mental positif terhadap semua kewajiban-kewajibannya dalam beragama.

Istilah takwa sendiri merupakan salah satu pokok dalam Islam. Bahkan, dalam Al-Qur’an Allah mengulang kata takwa (تقوى) sebanyak 15 kali. Hal itu tentunya menjadi sebuah bukti, bahwa di antara ajaran pokok dalam Islam adalah adanya unsur ketakwaan kepada-Nya dalam diri semua umat Islam.

Oleh karenanya, takwa menjadi satu-satunya barometer untuk menilai tingginya derajat seseorang, sebagaimana telah ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS Al-Hujurat [49]: 13)

Selain itu, beberapa abad yang lalu Rasulullah pernah ditanya oleh salah satu sahabatnya perihal penyebab untuk masuk surga, ia kemudian menjawab salah satunya adalah dengan bertakwa, Baca Juga: 14 Kemuliaan Orang Takwa yang Diperoleh di Dunia

سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ اَلْجَنَّةَ؟ قَالَ: تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

Rasulullah pernah ditanya perihal sesuatu yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga. Ia menjawab, ‘Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.’” (HR Abu Hurairah)

Dalam hal ini, penulis tidak akan banyak mengutip dalil-dalil tentang takwa karena sudah sangat banyak di NU Online. Penulis akan fokus membahas perihal penyebab-penyebab seseorang bisa bertakwa kepada Allah. Hanya saja, sebelum menuju pembahasan itu, penulis akan menjelaskan definisi dari takwa itu sendiri, dengan tujuan agar kita bisa paham betul hakikat takwa dan penyebabnya.

Definisi Takwa

Salah satu ulama besar Al-Azhar Mesir, sekaligus guru di Wazaratul Ma’arif al-‘Umumiyah, Syekh Hafidz Hasan al-Mas’udi dalam salah satu kitabnya mendefinisikan takwa sebagai salah satu sikap positif seseorang untuk selalu taat dalam menjalankan semua perintah Allah, dan menjauhi larangan-larangan-Nya, baik secara jelas maupun sembunyi.

Dengan demikian, takwa tidak akan menjadi sempurna tanpa melepas atau menghindar dari semua perbuatan-perbuatan yang hina dan jelek, dan tidak pula sempurna jika tidak disertai berhias dengan semua perbuatan-perbuatan baik dan terpuji.

Penyebab Takwa

Untuk menjadi pribadi yang bertakwa, terlebih dahulu seseorang harus mengetahui perihal sebab-sebab ketakwaan. Dengan mengetahuinya, ia akan lebih mudah untuk menempuh jalan orang-orang yang bertakwa. Sedangkan penyebab takwa menurut Syekh Hasan adalah dengan melakukan tiga cara sebagai berikut:

Pertama, Mengakui Kehinaan Dirinya

Penyebab pertama seseorang bisa bertakwa adalah mengaku bahwa dirinya hamba yang hina dan lemah, sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa dan Mahamulia. Dengan demikian, tidak sepantasnya bagi seorang yang hina untuk bermaksiat kepada Dzat Yang Mahakuasa, sebab semua takdir ada di bawah kuasa-Nya.

Kedua, Mengingat Kebakan Allah

Di antara penyebab takwa yang lain adalah selalu mengingat kebaikan yang Allah berikan kepada manusia. Allah selalu berbuat baik kepada makhluk-Nya tanpa memandang yang taat dan ahli maksiat. Dengan mengingatnya, seseorang akan mudah bersyukur dan tidak akan pernah ingkar atas segala nikmat yang diperolehnya.

Ketiga, Mengingat Kematian

Selain dua sebab di atas, ada hal pokok lain yang juga sangat penting dalam menempuh jalan takwa, yaitu selalu mengingat kematian. Dengan mengingatnya, ia akan menjadi peribadi yang lebih hati-hati dan lebih istiqamah menjalankan semua kewajiban dan menjauhi larangan, sebagai bekal yang akan dibawa menuju akhirat.

Selain itu, ia juga harus mengingat bahwa setelah kematian hanya akan ada dua tempat sebagai peristirahatannya, yaitu surga dan neraka:

وَأَنَّهُ لَيْسَ أَمَامَهُ اِلَّا الْجَنَّةُ أَوْ النَّارُ بَعَثَهُ ذَلِكَ اِلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ. وَمِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ مُسَاعَدَةُ الْمُسْلِمِيْنَ وَالنَّظْرُ اِلَيْهِمْ بِعَيْنِ الْعَطْفِ وَالرَّحْمَةِ

Sesungguhnya, tidak ada di hadapannya (tempat di akhirat) kecuali surga dan neraka. (Dengan mengingatnya) maka akan menumbuhkan semangat untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. Dan di antara perbuatan baik itu adalah berbuat baik kepada umat Islam, dan melihat mereka dengan pandangan kasih sayang.” (Syekh Hasan, Taisirul Khalaq fi ‘Ilmil Akhlak, [Maktabah al-Hidayah, Surabaya: tt], halaman 5-6).

Manfaat Bagi Orang Bertakwa

Setelah mengetahui definisi dan penyebab-penyebab takwa, saatnya untuk mengetahui manfaat-manfaat yang akan didapatkan oleh orang-orang yang bertakwa. Dengan mengetahuinya, semoga kita akan lebih semangat untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt.

Syekh Hasan mengatakan bahwa akan ada dua manfaat yang akan didapatkan oleh orang-orang yang bertakwa, yaitu: (1) manfaat di dunia; dan (2) manfaat di akhirat.

Manfaat di dunia adalah tingginya derajat dalam pandangan manusia, akan dianggap baik, dan diperlakukan dengan baik oleh manusia. Hal itu tidak lain karena orang yang bertakwa akan dimuliakan oleh orang-orang yang masih muda, dan dibanggakan oleh orang yang sudah tua, serta orang-orang berakal akan menilainya sebagai orang yang lebih berhak untuk diperlakukan dengan baik.

Sedangkan manfaat di akhirat adalah selamat dari neraka, dan beruntung dengan masuk surga, dan yang terpenting dari semua itu adalah firman Allah kepada orang-orang yang bertakwa, yaitu:

إِنَّ اللّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS An-Nahl [16]:128).

Demikian penjelasan perihal takwa, penyebab, dan manfaatnya. Dengan mengetahui semua itu, semoga kita selalu bisa meningkatkan segala ibadah dan kebaikan-kebaikan lainnya, hingga menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah, dan meraih manfaat-manfaat tersebut. [yy/NU-Online]

Ustadz Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan, Kokop, Bangkalan, Jawa Timur.