30 Dzulqa'dah 1443  |  Kamis 30 Juni 2022

basmalah.png

Hukum Dahi Menempel di Lantai Saat Sujud Terhalang Rambut atau Kain

Hukum Dahi Menempel di Lantai Saat Sujud Terhalang Rambut atau Kain

Fiqhislam.com - Posisi sujud yang sempurna sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam keterangan hadits-haditsnya. Termasuk, posisi menempelkan dahi saat sujud yang disepakati ulama tanpa ada perbedaan pendapat.

Dalam praktiknya, menempelkan kepala di lantai saat sujud kerap terhalang berbagai hal. Misal kain atau secara sengaja atau tidak. Jika hal ini terjadi, apa yang harus dilakukan muslim? Berikut penjelasannya

A. Hukum Menempelkan Dahi saat Sujud

Menurut Ustaz Agus Arifin dalam buku Penuntun Praktis Salat menempelkan seluruh dahi lebih utama daripada hanya sebagian. Namun bila yang menempel sebagian, hukumnya tidak berdosa dan hanya disebut sebagai bentuk khilaf al awla atau menyalahi yang utama.

Terkait hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan imam besar. Mahzab Hanafi, Maliki, dan Hambali berpendapat, bila sujud seorang muslim terhalang oleh rambut, kain dan lainnya akibat gerakan badan maka hukumnya makruh atau sebaiknya dihindari.

Hukum makruh di sini tidak serta merta membatalkan amalan sholat yang dikerjakan. Sebab, Rasulullah SAW pernah dengan sengaja menggelar penghalang untuk bersujud akibat cuaca yang panas. Dari Anas bin Malik RA yang berkata,

كُنَّا نُصَلِّي مع رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ في شِدَّةِ الحَرِّ، فَإِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَحَدُنَا أَنْ يُمَكِّنَ جَبْهَتَهُ مِنَ الأرْضِ، بَسَطَ ثَوْبَهُ، فَسَجَدَ عليه

Artinya: "Kami pernah salat bersama Rasulullah SAW saat cuaca panas sekali (di mana di antara kami tak mampu menempelkan dahi ke bumi) lantas menggelar pakaian kami lalu sujud di atasnya." (HR Bukhari).

Sementara itu, Mahzab Syafi'i berpendapat hukum menempelkan dahi langsung mengenai lantai adalah wajib. Maksudnya, dahi tidak boleh tertutup sesuatu yang menempel badan dan ikut bergerak bersama badannya saat sujud. Sesuatu yang menempel misalnya rambut dan sorban.

"Wajib dibuka (yakni tidak ditutup) dahi, supaya dahi itu bersentuhan secara langsung dengan tempat sujud," bunyi keterangan Mahzab Syafi'i yang dinukil dari buku Penuntun Praktis Salat.

Dikutip dari Fikih Sunnah oleh Sayyid Sabbiq, landasan ini didasarkan dari hadist yang menyebutkan kewajiban dahi menempel pada tempat sujud dari Ibnu Abbas RA. Sementara itu, Mahzab Syafi'i menganggap hadits dari Anas bin Malik RA sebelumnya sebagai hadits bersanad dhaif.

Kewajiban dahi yang langsung menyentuh tempat sujud tersebut dinarasikan dari Khabbab bin Al Arat. Berikut bunyi haditsnya.

شَكَوْنَا إِلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَرَّ الرَّمْضَاءِ (فِي جِبَاهِنَا وَأَكُفِّنَا) فَلَمْ يُشْكِنَا وَفِي رِوَايَةٍ فَمَا أَشْكَانَا

Artinya: "Kami mengadu kepada Rasulullah SAW mengenai rasa yang sangat panas (yang kami rasakan ketika sholat) pada dahi dan telapak tangan kami, namun pengaduan kami tidak dipedulikan." (HR Al Baihaqi).

Berdasarkan Mazhab Syafi'i, tidak sah sujud dengan dahi tertutup topi, songkok, mukena atau rambut yang jatuh menutupi dahi. Namun, dikecualikan bagi rambut yang tumbuh pada dahi karena disebut sebagai bagian dari kulit.

B. Tujuh Bagian Tubuh yang Menempel saat Sujud

Tidak hanya menempelkan dahi saat sujud, Rasulullah SAW juga menempelkan sejumlah anggota tubuh lainnya kala sujud. Para ulama sepakat, ada tujuh anggota tubuh yang dimaksud, yakni kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung kaki lantai seperti diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ وَلَا نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعَرَ

Artinya: Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah bersabda, "Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh tulang: di atas dahi, beliau mengisyaratkan ke atas hidung, dua tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua telapak kaki. Dan kami tidak menghalangi atau melipat baju dan rambut saat salat." (HR Muslim).

Berdasarkan hadits di atas, M. Khalilurrahman Al Mahfani dalam Kitab Lengkap Panduan Salat menafsirkan posisi sujud sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Seperti, menjauhkan kedua tangan atau siku dari lambung, meletakkan kedua telapak tangan sejajar dengan telinga atau bahu, kemudian merapatkan kedua jari dengan mengarah ke kiblat. [yy/rahma harbani/detik]