8 Jumadil-Awwal 1444  |  Jumat 02 Desember 2022

basmalah.png

Wajah yang Memancarkan Cahaya

Wajah yang Memancarkan Cahaya

Fiqhislam.com - Ajaran Islam sangat menekankan kebersihan. Tak hanya kebersihan ruhani, tetapi juga jasmani. Bahkan, kebersihan ruhani tak bisa tercapai tanpa kebersihan jasmani.

Dengan demikian, kebersihan jasmani adalah syarat utama bagi kebersihan ruhani. Karena itu, sebelum kita melaksanakan shalat yang merupakan ibadah paling bisa mendekatkan kita kepada Allah atau bertaqarub kepada-Nya, kita diperintahkan untuk berwudhu.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat basuhlah mukamu, kedua tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu serta basuhlah kedua kakimu sampai mata kaki.” (QS al-Maidah [5]: 6).

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci (berwudhu).” (HR Muslim).

Dalam hadis lain, beliau bersabda, “Aku diperintahkan untuk berwudhu apabila hendak melaksanakan shalat.” (HR Abu Dawud).

Lebih daripada untuk shalat, wudhu juga adalah penyebab wajah kita bersinar terang benderang di akhirat, membedakan kita sebagai umat Nabi Muhammad dengan umat para nabi sebelum beliau. Beliau bersabda, “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan ghurran muhajjalin (wajahnya bercahaya) dari bekas wudhunya.” (HR al-Bukhari).

Di hadis lain, para sahabat pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau akan mengenal kami pada hari kiamat?” Beliau menjawab, “Ya, aku mengenal. Kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki oleh umat-umat lain. Kalian muncul dalam keadaan memiliki ghurrah dan tahjil disebabkan bekas air wudhu.” (HR Muslim).

Melalui wudhu, Islam menekankan kepada kita untuk selalu berperilaku bersih dan suci. Islam tidak mengajarkan hal-hal yang kotor.

Minimal, dalam sehari lima kali orang mukmin dianjurkan untuk berwudhu ketika akan mengerjakan shalat fardhu. Sebetulnya tidak hanya ketika akan shalat kita dianjurkan berwudhu, bahkan dalam setiap kondisi, terutama ketika berhadas kecil atau besar.

Pada hadis di atas, Nabi Muhammad SAW menyatakan, orang yang membiasakan berwudhu pada hari kiamat wajahnya akan bercahaya terang, tanda terbiasa berwudhu. Sesungguhnya tidak hanya di akhirat, di dunia pun orang yang terbiasa berwudhu wajahnya akan tampak lebih berseri-seri dan segar, terang, sejuk, dan sedap dipandang.

Orang yang membiasakan wudhu adalah orang yang mencintai kebersihan dan sadar untuk selalu hidup bersih. Bersih ketika berinteraksi dengan sesama dan lingkungan serta bersih ketika menghadap Allah dalam ibadahnya.

Wajah-wajah yang bercahaya menerangi semua, menebarkan keteduhan dan kesejukan serta kesehatan. Itulah keindahan orang mukmin. Nabi mengatakan, “Sesungguhnya Allah Mahaindah dan menyukai keindahan” (HR Muslim). Wallahu a’lam. [yy/republika]

Oleh Nur Faridah