27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Kemurahan Allah SWT, Malaikat tidak Langsung Mencatat Perbuatan Dosa

Kemurahan Allah SWT, Malaikat tidak Langsung Mencatat Perbuatan Dosa

Fiqhislam.com - Di antara tugas malaikat, salah satunya adalah mencatat amal perbuatan manusia. Malaikat yang bertugas melakukan perbuatan ini pun terbagi lagi, yaitu malaikat yang mencatat amal baik dan yang mencatat perbuatan buruk.

Namun, apakah setiap kali seorang Muslim melakukan perbuatan buruk, malaikat pencatat keburukan itu langsung menulisnya sehingga dicatat sebagai perbuatan buruk? Mantan Mufti Mesir Syekh Ali Jum'ah memberikan penjelasan terkait hal ini.

"Setiap Muslim, di sebelah kanannya terdapat malaikat yang mencatat perbuatan baik, sedangkan di kirinya ada malaikat yang mencatat perbuatan buruk," ujar anggota Dewan Ulama Al-Azhar Kairo Mesir itu, seperti dilansir El Balad.

Syekh Jum'ah mengatakan, malaikat yang ditugaskan mencatat perbuatan baik segera langsung mencatat perbuatan baik yang dikerjakan seorang Muslim. Namun, ini berbeda dengan malaikat yang bertugas mencatat perbuatan buruk.

"Adapun malaikat pencatat perbuatan buruk tidak bersegera mencatatnya, tetapi baru dicatat setelah enam jam kemudian. Kita memang tidak melihat itu, tetapi Nabi Muhammad SAW melihatnya," jelasnya.

Syekh Jum'ah melanjutkan, malaikat yang mencatat perbuatan buruk menunda pencatatan hingga enam jam untuk menunggu pertaubatan yang dilakukan seorang Muslim. Tepat enam jam kemudian, jika Muslim tersebut bertaubat maka malaikat tidak jadi mencatat. Bila yang terjadi sebaliknya, tidak bertaubat, maka malaikat mencatat perbuatan buruk itu.

"Ini adalah kemurahan Allah SWT kepada para hamba-Nya. Selama enam jam inilah merupakan kesempatan bagi hamba yang berdosa untuk bertaubat dan kembali kepada Allah SWT serta wajib memohon ampun kepada Allah. Berwudhu, shalat dua rakaat, dan bersedekah," kata dia.

Syekh Jum'ah menambahkan perbuatan buruk adalah ketika perbuatan tersebut dicatat kepada pelakunya. Lalu pada setiap Senin dan Kamis, perbuatan-perbuatan buruk itu dikonfirmasi. Inilah yang kemudian disebut diangkatnya amal perbuatan.

"Sedangkan bulan Syaban, adalah bulan di mana segala perbuatan baik dan buruk dalam setahun dikonfirmasi. Maka, seorang Muslim yang melakukan dosa sepanjang tahun, lalu dosa itu bertemu amal-amal saleh yang dikerjakannya, maka dosa tersebut bisa dihapuskan karena amal-amal saleh tadi," ujarnya. [yy/Umar Mukhtar/republika]