11 Muharram 1444  |  Selasa 09 Agustus 2022

basmalah.png

Menjaga Lisan Berarti Menjaga Keharmonisan Hidup

Menjaga Lisan Berarti Menjaga Keharmonisan Hidup

Fiqhislam.com - Mampu menjaga lisan sama artinya bisa menjaga dari perbuatan dosa dan kerusakan. Menjaga lisan juga menjaga kehidupan yang ada tetap harmonis.

Sungguh, beberapa waktu ini sepertinya kita mendapati sesuatu yang sangat memprihatinkan. Secara realita sungguh kita mendapati ada orang yang begitu mudah berkata tanpa dipikirkannya terlebih dahulu hingga menimbulkan ketersinggungan pihak tertentu dengan apa yang telah diucapkannya. Ada istilah, mulutmu harimaumu.

Makanya tak salah ada istilah jika lidah itu tidak bertulang. Hal ini menunjukkan jika bicara itu memang mudah tetapi kadangkala malah menjerat orang yang melontarkan perkataan itu karena tak mampu menjaga lisannya. Kata-kata bisa membuat orang menjadi kehilangan nyawa, menciptakan permusuhan dan bisa jadi menimbulkan peperangan satu negara dengan negara lainnya. Maka lisan yang tak terjaga akan menimbulkan banyak kerugian tetapi lisan yang baik maka akan selalu memberikan kebaikan dalam kehidupan.

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari).

Kemampuan berbicara adalah anugerah Allah yang tak ternilai harganya. Tetapi seringkali anugerah ini malah ada yang digunakan oleh orang tertentu untuk menfitnah orang, mengadu domba, menyebarkan kebencian bahkan tak jarang menjadi media untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Padahal kemampuan berbicara itu semestinya digunakan untuk kebaikan agar mengarahkan orang-orang kepada kegiatan yang positif.

Jadi dapat kita cermati, kemampuan berbicara seseorang akan tergantung kepada pemiliknya. Akankah hal itu digunakan untuk kebaikan atau untuk kejahatan. Idealnya, untuk saat seperti sekarang ini di tengah berkecamuknya berbagai kesulitan yang menimpa orang-orang di negeri ini, ada baiknya meredam diri untuk berkata yang tidak ada manfaatnya. Orang boleh berkata untuk berusaha mengajak orang lain kepada kebaikan. Tetapi berkata untuk menyampaikan kritik pun baik asalkan disampaikan dengan etika yang baik dan isi kritik itu sendiri bersifat konstruktif dan bukad destruktif

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (QS. Thaha: 44)

Kemampuan berbicara adalah salah satu elemen yang menentukan dalam dunia komunikasi. Komunikasi yang ada akan berjalan secara baik jika kemampuan berbicara itu dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. Memang, bisa jadi di negeri ini banyak orang yang memiliki kemampuan bicara yang cukup handal. Maka tak mengherankan adanyang bisa menjadi guru, dosen, mubaligh, presenter, anggota DPR dan profesi lainnya yang bertumpu dan mengandalkan kemampuan berbicara.

Sayang ada realita yang terlihat begitu nyata, di mana ada orang diberi kemampuan bicara yang hebat tetapi bicaranya kadang tak karuan. Terkadang apa yang terucap dari mulut seringkali justeru terpengaruh dengan hati orang yang bersangkutan. Jika hatinya memiliki sifat yang suka akan kebaikan dan hatinya bersih maka biasanya ia akan bicara tentang kasih sayang, cinta, motivasi, kebaikan dan hal-hal yang positif dalam kehidupannya. Tetapi jika di hatinya tersimpan kebencian, hasad, iri dan dengki maka seringkali kata-kata yang terlontar lebih bersifat negatif yang dikatakannya selalu saja yang dikatakannya orang lain itu negatif atau sesuatu itu selalu saja negatif.

Ada baiknya kita perhatikan makna dari kata-kata ini, berbicaralah yang baik dan jika tak mampu lebih baik diam. Kalimat ini begitu nyata mengingatkan kita. Kemampuan bicara yang kita miliki jelas haruslah digunakan untuk hal-hal yang baik. Mengatakan kata-kata baik sama artinya dengan mengundang kebaikan-kebaikan untuk dirinya tetapi sebaliknya jika kemampuan bicara yang kita miliki selalu saja melontarkan kata-kata yang jelek dan buruk, maka dapat dipastikan mengundang keburukan dan kejelekan dalam hidupnya. Maka dengan diam tak berbicara itu alangkah lebih baik. Bahkan kita pun tahu kalau diam itu adalah emas.

Dengan demikian, gunakanlah kemampuan bicara kita untuk hal-hal yang baik karena kita hidup di atas dunia ini masih membutuhkan saudara, tetangga, teman dan juga orang lain. Jangan sampai lidah kita justeru mengundang bencana, musibah dan petaka yang menimnpa karena kita tak mampu menjaga lisan kita. Dengan melihat pertiswa aktual yang terjadi saat ini, maka ada baiknya untuk berusaha menjaga lisan kita untuk tidak berbicara yang tidak perlu apalagi merugikan diri kita dan orang lain. Karenanya marilah bicara yang baik agar hidup kita tetap selalu ada dalam kebaikan. [yy/republika]

Oleh Deffy Ruspiyandy