12 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 06 Desember 2022

basmalah.png

Diskusi Nabi Ibrahim dan Malaikat Sebelum Kaum Luth Diazab

Diskusi Nabi Ibrahim dan Malaikat Sebelum Kaum Luth Diazab

Fiqhislam.com - Nabi Ibrahim Alaihissalam telah mengetahui betapa rusak akhlak kaum Luth. Karena kaum tersebut melampaui batas, maka para malaikat diutus untuk menimpakan musibah dan membinasakan kaum sodom tersebut.

Sebelum itu terjadi, para malaikat mendatangi Nabi Ibrahim untuk menyampaikan kabar gembira tentang akan lahirnya anak mereka yaitu Nabi Ishaq. Dalam pertemuan itu, Nabi Ibrahim berdiskusi dengan para malaikat terkait azab yang akan ditimpakan kepada kaum Luth. Hal ini dijelaskan dalam Surah Hud Ayat 74-76 dan tafsirnya.

فَلَمَّا ذَهَبَ عَنْ اِبْرٰهِيْمَ الرَّوْعُ وَجَاۤءَتْهُ الْبُشْرٰى يُجَادِلُنَا فِيْ قَوْمِ لُوْطٍ

"Maka ketika rasa takut hilang dari Ibrahim dan kabar gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal jawab dengan (para malaikat) Kami tentang kaum Luth." (QS Hud: 74).

Tafsir Kementerian Agama menerangkan, dalam ayat ini dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim sebagai seorang penyantun, pengasih dan penyayang terhadap umat manusia. Di saat diliputi kegembiraan akan lahirnya seorang anak, ia ingat ucapan para malaikat yang bertamu ke rumahnya itu, bahwa mereka diutus Allah untuk membinasakan kaum Luth.

Terlukislah di dalam ingatannya bagaimana buruknya nasib kaum Luth itu, dan bagaimana dahsyatnya malapetaka yang akan menimpa mereka. Rasa bahagia dan gembira dengan sekejap telah berganti dengan rasa cemas dan putus asa. nabi Ibrahim memberanikan dirinya untuk berdebat dengan para malaikat itu, dengan harapan rencana pembinasaan kaum Luth itu dapat dibatalkan.

اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ لَحَلِيْمٌ اَوَّاهٌ مُّنِيْبٌ

"Ibrahim sungguh penyantun, lembut hati dan suka kembali (kepada Allah)." (QS Hud: 75)

Ayat ini mengandung arti, rasa santun dan kasih sayang seorang Nabi terhadap umat manusia, terutama Nabi Ibrahim yang dalam keadaan gembira dan bahagia ia akan memperoleh keinginan dan idaman hatinya yang telah lama dicita-citakannya, yaitu seorang anak laki-laki bernama Ishak dari istri pertama.

Di dalam keadaan demikian, biasanya orang lupa akan segala-galanya, tetapi Nabi Ibrahim tidak melupakan nasib kaum Luth yang didengarnya bahwa mereka akan dibinasakan. Nabi Ibrahim mohon kepada Tuhannya agar mereka diselamatkan dengan mengemukakan alasan dan harapan agar permohonannya itu dikabulkan. Sesungguhnya Nabi Ibrahim memang benar seorang yang penyantun dan menaruh iba (kasihan) terhadap orang yang ditimpa kemalangan dan selalu berserah diri kepada Tuhannya.

يٰٓاِبْرٰهِيْمُ اَعْرِضْ عَنْ هٰذَا ۚاِنَّهٗ قَدْ جَاۤءَ اَمْرُ رَبِّكَۚ وَاِنَّهُمْ اٰتِيْهِمْ عَذَابٌ غَيْرُ مَرْدُوْدٍ

"Wahai Ibrahim! Tinggalkanlah (perbincangan) ini, sungguh, ketetapan Tuhanmu telah datang, dan mereka itu akan ditimpa azab yang tidak dapat ditolak." (QS Hud: 76)

Ayat ini mengandung arti, para malaikat dengan tegas mengatakan kepada Nabi Ibrahim sambil menolak permintaannya yang dikemukakan dengan sungguh-sungguh. Janganlah ia membicarakan nasib kaum Luth itu dan serahkanlah urusan mereka kepada keputusan Tuhannya. Allah telah memberi keputusan terhadap mereka bahwa mereka akan ditimpa azab yang tidak dapat ditolak, karena mereka adalah kaum yang ingkar akan perintah-Nya dan telah melakukan dosa serta maksiat yang sangat jahat dan menjijikkan.

Dosa mereka tidak dapat diampuni lagi, mereka telah diberi kesempatan untuk bertobat dan kembali kepada jalan yang lurus, tetapi semua dakwah dan seruan yang baik selalu mereka tolak, malah mereka sambut dengan cemoohan dan ejekan. Itulah keputusan Tuhanmu Yang Maha Adil. Mereka dan negeri mereka akan dimusnahkan dengan menenggelamkannya ke dalam tanah. [yy/Fuji Eka Permana/republika]