29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

Pandangan Imam Ibnu Qoyyim Ketika Hidup Mengalami Takdir Buruk

Pandangan Imam Ibnu Qoyyim Ketika Hidup Mengalami Takdir Buruk

Fiqhislam.com - Allah Subhanahu wa ta'ala telah menetapkan takdir manusia di dunia, ada takdir yang baik dan takdir buruk .Lantas bagaimana sikap seorang muslim terhadap ketentuan takdir ini, terutama jika harus mengalami takdir yang buruk?

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitabnya 'Al Fawaid' menjelaskan, “Jika sebuah takdir yang buruk menimpa seorang hamba, maka ia memiliki enam sikap dan sisi pandang". Apa saja sikap dan sisi pandang tersebut?.

1. Pandangan tauhid

Setiap muslim harus menyakini bahwa Allahlah yang menakdirkan, menghendaki, dan menciptakan kejadian tersebut. Segala sesuatu yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan segala sesuatu yang tidak Allah kehendaki tidak pasti terjadi. Seorang mukmin hendaknya meyakni bahwa segala yang terjadi dalam hidupnya telah Allah tetapkan padanya, baik atau buruk.

Yakinlah bahwa setiap yang Allah tetapkan punya hikmah di baliknya, yang mungkin nanti akan kita ketahui atau tidak. Ketika menghadapi sebuah musibah, misalnya bencana, didzalimi, atau difitnah orang lain, maka pandanglah dalam kacamata tauhid tadi. “Bahwasanya Allah telah memilih saya untuk jadi korban musibah ini. Saya tidak akan memprotes takdir.”

Sehingga pada saat tertimpa musibah, seorang hamba akan menerimanya dengan lapang dada dan menggantungkan harapannya semata hanya kepada Allah. Selain itu, cara pandang seperti ini akan meningkatkan ketaqwaan kita sebagai hamba kepada Allah.

2. Pandangan keadilan

Sebaik-baiknya keadilan adalah keadilan dari Allah Subahanahu wa ta’ala. Bahwasanya setiap kejadian yang telah ditakdirkan pada seorang hamba, pastilah yang paling adil dari sisi Allah. Perlu diingatkan pula bahwa Allah tidak pernah berbuat dzalim kepada hamba-Nya.

Allah Ta'ala berfirman,

مَّنْ عَمِلَ صَٰلِحًا فَلِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَنْ أَسَآءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٍ لِّلْعَبِيدِ

Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS Fushshilat: 46). Kemudian Allah juga berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian)” (QS Asy-Syuuraa: 30).

3. Pandangan kasih sayang

Bahwa rahmat Allah dalam peristiwa pahit tersebut mengalahkan kemurkaan dan siksaan-Nya yang keras, serta rahmat-Nya memenuhinya. Jikalau memang takdir buruk tersebut merupakan tanda murkanya Allah kepada hamba-Nya, maka yakinlah bahwa ada rahmat dan kasih sayang Allah yang lebih besar daripada kemuraan-Nya. Bahwa kasih sayangnya tersebut mampu mengalahkan murka-Nya.

Allah Ta'ala berfirman,

وَٱكْتُبْ لَنَا فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ إِنَّا هُدْنَآ إِلَيْكَ ۚ قَالَ عَذَابِىٓ أُصِيبُ بِهِۦ مَنْ أَشَآءُ ۖ وَرَحْمَتِى وَسِعَتْ كُلَّ شَىْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلَّذِينَ هُم بِـَٔايَٰتِنَا يُؤْمِنُونَ

Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS Al Araf: 156).

Dalam salah satu hadis disebutkan, “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Pandangan hikmah

Hikmah-Nya menuntut menakdirkan kejadian itu, tidaklah Dia menakdirkan begitu saja tanpa tujuan dan tidaklah pula Dia memutuskan suatu ketentuan takdir dengan tanpa hikmah. Ada alasan di balik tiap peristiwa. Di situlah hikmah Allah berada.

Sayangnya, hikmah dan alasan tersebut tidak selalu diketahui oleh seorang hamba. Walau demikian, ketidaktahuan ini janganlah jadi penghalangan bagi kita agar senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Sebagaimana kita tahu, Allah Maha Bijaksana dalam menetapkan takdir bagi tiap makhluknya.

Allah Ta'ala berfirman,

اَفَحَسِبۡتُمۡ اَنَّمَا خَلَقۡنٰكُمۡ عَبَثًا وَّاَنَّكُمۡ اِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُوۡنَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mukminuun: 115).

Allah juga berfirman, “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS Al-Qiyaamah: 36).

5. Pandangan pujian

Bahwa Allah Ta'ala terpuji dengan pujian sempurna atas penakdiran kejadian tersebut, dari segala sisi. Maksudnya, Allah terpuji dari segala sisi, terpuji dzat, nama, sifat, maupun perbuatan-Nya. Termasuk juga terpuji dalam menakdirkan suatu takdir yang pahit, karena takdir tersebut berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya.

Allah Ta'ala berfirman,

دَعْوَىٰهُمْ فِيهَا سُبْحَٰنَكَ ٱللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَٰمٌ ۚ وَءَاخِرُ دَعْوَىٰهُمْ أَنِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Doa mereka di dalamnya ialah subhanakallahumma dan salam penghormatan mereka ialah salam. Dan penutup doa mereka ialah segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam.” (QS Yunus: 10).

6. Pandangan peribadatan

Bahwa orang yang menjalani takdir yang buruk itu adalah sekadar hamba semata dari segala sisi, maka berlaku atasnya hukum-hukum Sang Pemiliknya, dan berlaku pula takdir-Nya atasnya sebagai milik dan hamba-Nya, maka Dia mengaturnya di bawah hukum takdir-Nya sebagaimana mengaturnya pula di bawah hukum Syar’i-Nya. Jadi, orang tersebut merupakan hamba yang berlaku atasnya hukum-hukum ini semuanya.

Seorang mukmin hendaknya meyakini bahwa ia hanyalah milik Allah sehingga ia percaya bahwa Allah berhak mengaturnya dengan bentuk pengaturan bagaimanapun. Ia ridha dengan segala pengaturan dan takdir yang diputukan atasnya. Sikap seperti inilah yang dimaksud benar-benar menghamba kepada Allah semata.

Dalam keadaan bagaimanapun, seorang mukmin sadar bahwa dirinya seorang hamba yang dituntut untuk mempersembahkan ibadahnya dan penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana dalam keadaan senang dan lapang, seorang hamba tetap dituntut untuk peribadah dan menyembah kepada-Nya.

Allah Ta'ala berfirman,

إِن كُلُّ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ إِلَّآ ءَاتِى ٱلرَّحْمَٰنِ عَبْدًا

Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS Maryam: 93). Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]