9 Jumadil-Awwal 1444  |  Sabtu 03 Desember 2022

basmalah.png

Keluasan Rezeki dan Kelapangan Dada

Keluasan Rezeki dan Kelapangan Dada

Fiqhislam.com - Sepatutnya, setiap Muslim selalu bermohon kepada Allah SWT agar dikaruniakan rezeki yang luas (rizqan waasi’an) dan halal lagi baik (halalan thayyiban). Doa tersebut menjadi isyarat bahwa rezeki tidak hanya diusahakan (jalan darat), tetapi juga dimohonkan (jalan langit).

Nabi SAW mengajarkan doa, “Ya Allah, hamba mohon kepada-Mu ilmu yang manfaat, rezeki yang halal, dan amal yang diterima.” (HR Ibnu Majah).

Kita sering keliru memaknai hakikat rezeki yang dipahami hanya berwujud materi (harta benda). Padahal, harta (uang) hanya sebagian dari rezeki yang sedemikian luas. Memang, dari sekitar 124 kali kata rezeki dalam Alquran, sebagian besarnya berkaitan dengan harta kekayaan.

Dalam kajian Tafsir Shofwatut Tafasir karya Syekh ash-Shobuni, Prof KH Didin Hafidhuddin, menjelaskan bahwa rezeki bukan hanya materi, akan tetapi segala sarana dan prasarana yang bermanfaat untuk menjalani kehidupan.

Istri atau suami dan anak yang saleh, ilmu dan keahlian yang mumpuni, pekerjaan dan gaji yang mencukupi, tetangga dan kawan yang menyemangati adalah bagian dari rezeki. Allah SWT yang melapangkan dan menyempitkan rezeki sesuai kehendak-Nya (QS ar-Ra’du [13]: 26).

Boleh jadi, ketika seseorang dilapangkan rezekinya justru menimbulkan keburukan. Sebaliknya, jika disempitkan, akan mengantarnya dekat kepada Tuhan (QS asy-Syura [42]: 27). Keluasan rezeki bukan hanya raihan harta, tetapi sangat ditentukan oleh kelapangan hati (ruhani).

Setiap orang berbeda dalam menyikapi rezeki yang diraihnya. Kiai Didin Hafidhuddin membaginya menjadi empat macam yakni;

Pertama, orang yang tak kaya harta dan tak kaya hati. Allah tidak pernah memiskinkan manusia, tapi justru menganugerahkan kekayaan dan kecukupan (QS an-Najm [53]: 48). Namun, ada orang yang malas dan tidak mau bekerja keras, sehingga ditimpa kehidupan yang sulit (QS Thaha [20]: 124-125).

Kedua, orang yang tak kaya harta tapi kaya hati. Sebagian manusia ada yang sudah bekerja keras mencari rezeki, tetapi belum mendapatkan kecukupan. Walaupun mereka miskin harta tapi kaya hati (qona’ah), sehingga hidupnya tenang dan penuh arti (QS al-Baqarah [2]: 273).

Ketiga, orang yang kaya harta tapi tak kaya hati. Mereka telah meraih kekayaan (kekuasaan), tetapi tidak mau berbagi (bakhil) dan selalu merasa kurang (rakus). Mereka kaya harta tapi miskin rasa, sehingga tega mengambil hak orang-orang miskin yang tak berdaya (QS an-Nisa: 37).

Keempat, orang yang kaya harta dan kaya hati. Mereka orang yang berada bahkan berkuasa, namun tetap empati dan rendah hati (tawadhu). Bagi mereka kemewahan dunia hanya diletakkan di tangan dan tidak masuk ke hati. Seperti Nabi Sulaiman AS yang kaya raya dan adikuasa, tetapi ia tidak teperdaya oleh dunia (QS an-Naml [27]: 19).

Akhirnya, keluasan rezeki bukan karena berlimpah harta, tetapi yang paling utama adalah kelapangan dada (bersyukur). Sebab, sebanyak apapun perolehan harta jika tidak diwadahi hati yang lapang (kufur), hidupnya akan terasa sempit. Allahu a’lam bissawab. [yy/republika]

Oleh Hasan Basri Tanjung