11 Rabiul-Awwal 1444  |  Jumat 07 Oktober 2022

basmalah.png

Empat Golongan Manusia

Empat Golongan Manusia

Fiqhislam.com - Mengutip pedapat Al-Khalil bin Ahmad, Imam Ghazali membagi manusia ke dalam empat golongan.

Pertama, manusia yang berilmu dan benar-benar menyadari bahwa dirinya adalah orang berilmu, kemudian mengamalkan terhadap ilmu yang dimilikinya. Golongan manusia seperti ini berhak mendapat gelar ‘alimun, dan berhak diikuti serta dijadikan teladan.

Kedua, manusia yang berilmu namun tak menyadari bahwa dirinya adalah orang berilmu, sehingga ia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ilmu yang dimilikinya. Golongan manusia seperti ini laksana orang yang tengah tertidur pulas (naa'imun) Kewajiban kalian adalah membangunkannnya agar ia terjaga kembali.

Ketiga, manusia yang tidak berilmu dan ia menyadari bahwa dirinya tidak berilmu serta ia mau mendengarkan petuah dari orang-orang berilmu. ia merupakan orang yang harus diberi petunjuk (mustarsyidun). Kewajiban kalian adalah memberi petunjuk kepada orang tersebut.

Keempat manusia yang tidak berilmu, namun ia tidak menyadari bahwa dirinya tidak memiliki ilmu. Ia sombong dan bebal tidak mau mendengarkan petuah dari orang-orang berilmu. Ia termasuk orang yang jahilun (bodoh), maka berpalinglah kalian dari orang tersebut (Imam Ghazali, Mukasyafatul Qulub, hal. 253).

Pada suatu kesempatan, Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Aku mengkhawatirkan akan datangnya suatu zaman yang perputaran kehidupan pada zaman tersebut dapat menggilas keimanan. Pada zaman itu, keimanan hanya jadi bahan diskusi dan kajian, namun hampa dari perbuatan nyata.

Banyak orang baik namun tidak berakal, dan banyak orang yang berakal namun tak beriman. Ada orang yang piawai berbicara masalah-masalah agama, namun hatinya lalai dari mengingat Allah. Ada orang yang khusyuk dalam beribadah, namun ia sibuk dalam kesendirian, tak memperdulikan nasib orang-orang di sekitarnya.

Ada pula orang yang tekun dalam beribadah sembari dihiasi kesombongan, merasa dirinya yang paling baik, paling mengikuti sunnah Nabi saw, dan paling dekat kepada Allah. Ada juga ahli maksiat yang tawaduk bagaikan seorang sufi, namun ada juga orang yang banyak tertawa sehingga hatinya berkarat.

Di lain pihak, ada juga orang yang menangis karena kufur nikmat. Ada orang yang murah senyum, tapi hatinya senantiasa mengumpat, dan ada pula orang yang berhati tulus tetapi berwajah cemberut. Ada kelompok orang yang berkata penuh bijak, tetapi tidak memberi teladan.

Aku juga mengkhawatirkan, pada zaman itu para pelacur dan orang-orang amoral menjadi pujaan khalayak, orang berilmu yang tidak paham terhadap ilmunya, orang berilmu yang senang melanggar hukum dan aturan, orang pintar membodohi khalayak, orang bodoh yang tak tahu diri dan tak mampu menahan diri, dan orang beragama yang tak berakhlak, dan atheis yang berakhlak baik.

Mari kita renungkan paparan Imam Ghazali dan Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a. tersebut, dimanakah posisi kita pada saat ini? Di kelompok manakah diri kita berada pada saat ini?

Kehidupan kita akan selamat manakala kita benar-benar menempati posisi yang tepat sebagai hamba Allah yang memegang teguh aturan Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, kehidupan kita akan binasa di dunia dan akhirat manakala kita melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya.

Pegang teguhlah aturan agama Allah! Pasti kau akan hidup bahagia”. Demikian sabda Rasulullah saw.

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta" (Q. S. Thaha : 124). [yy/republika]

Oleh Ade Sudaryat