25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Melatih Ruhani Lewat Wirid

Melatih Ruhani Lewat Wirid

Fiqhislam.com - Bagi seorang Muslim, santapan ruhani menjadi jalan untuk membasahi hati yang gersang. Ruh dan jasad kita membutuhkan gizi spiritual lewat penegakan kewajiban sehari-hari dan melakukan berbagai hal sunnah. Dengan demikian, kita bisa berada dalam kondisi pendakian ruhani yang abadi.

Salah satu riyadhah atau latihan untuk menggapai itu adalah lewat membaca wirid. Imam Besar Istiqlal Prof KH Nasaruddin Umar menjelaskan, wirid merupakan amalan rutin yang dilakukan seorang hamba untuk mendekatkan diri untuk lebih dekat lagi kepada Allah SWT. Wirid juga merupakan pembuktian kedisiplinan diri seorang hamba sehingga waktu dan kualitas pengabdian berbanding lurus.

Keutamaan wirid terletak pada kekuatan istiqamah seorang hamba di dalam melakukan ketaatan kepada Tuhannya. Target kuantitatif harus dicapai setiap hari untuk meyakinkan dirinya tetap di dalam kondisi spiritual yang baik.

Semasa hidupnya, Rasulullah SAW memiliki kebiasaan yang melekat kepada dirinya. Beliau SAW kerap bangun malam dan melakukan amalan-amalan tertentu. Rutinitas ini mengindikasikan jika beliau SAW memiliki wiridan harian yang tidak pernah dilalaikan. Dua hadis berikut menjadi dalil betapa setiap Muslim mesti memberi perhatian khusus terhadap hal tersebut.

Sesungguhnya iman seseorang di antara kalian akan kusut (lusuh) di dalam perutnya sebagaimana kusutnya pakaian, maka mohonlah kepada Allah agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR Thabrani dan Hakim).

Hadis lainnya adalah sabda Rasulullah SAW: “Perbaharuilah iman kalian!” Seseorang bertanya kepada beliau, ”Bagaimana kami memperbaharui iman wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Perbanyaklah membaca La ilaaha Illallah.” (HR Thabrani dan Ahmad).

Said Hawa dalam Jalan Ruhani menjelaskan, wiridan harian bisa diatur oleh seorang Muslim dengan target minimum yang wajib dilaksanakan. Jika mendapatkan waktu langgeng dan kosong, hendaknya dia menambah target atau jumlah wiridan tersebut.

Apabila dihantui rasa malas dan bosan, hendaklah ia bersiasat. Saat nafsunya keluar sebagai pemenang sehingga diliputi rasa malas karena barbagai faktor, hendaknya dia mengganti wiridan itu dengan bentuk lain.

Jika tidak memungkinkan, dia harus memulai dan mengulangi langkah pertama dengan wiridan sebagaimana semula. Tidakkah Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya ada kesalahan dalam kalbuku, sehingga aku beristighfar seratus kali dalam sehari.” (HR Muslim).

Karena itu, Said Hawa menjelaskan, setiap Muslim harus mengatur wiridan harian untuk dirinya sedemikian rupa. Termasuk mengatur waktunya agar pelaksanaan shalat yang wajib atau sunnah menjadi tertib.

Beberapa amalan yang bisa dilakukan oleh setiap Muslim yakni beristighfar setiap hari. Shalawat atas Rasulullah SAW, tahlil dan tasbih harian. Perhatikan juga hari-hari tertentu yang disunnahkan untuk melakukan amalan-amalan khusus seperti membaca surah al-Kahfi pada hari dan malam Jumat.

Perhatikan pula wirid dan zikir yang berhubungan dengan waktu dan situasi tertentu. Perhatikan juga hari-hari yang disunnahkan untuk berpuasa. Hal terakhir yang perlu diperhatikan adalah ilmu. Setiap amalan harus disertai dan berlandaskan ilmu.

Said Hawa pun mencontohkan bentuk wiridan harian yang bisa dilakukan seorang Muslim.

1. Shalat lima waktu dengan berjamaah, shalat sunnah rwaatib beserta zikir dan wiridannya, shalat tahajud dan shalat dhuha.

2. Membaca Istighfar tidak kurang dari 100 kali setiap hari

3. Membaca la ilaaha illallah wahdahu la syarikalahu lahul-mulku walahul hamdu wahua ‘ala kulli syai’in qadir tak kurang 100 kali setiap hari.

4. Membaca shalawat kepada Rasulullah tidak kurang 100 kali setiap hari

5. Membaca surah al-Ikhlas tiga kali

6. Membaca sebagian Alquran

7. Membaca doa, dzikir setiap waktu seperti doa sebelum dan sesudah makan, doa sebelum dan sesudah tidur, doa keluar dan masuk rumah, dan sebagainya.

8. Memperbanyak dzikir yang disunnahkan seperti istighfar, shlawat, tahlil, tasbih, tahmid, dan zikir-zikir yang disunnahkan secara khusus.

Untuk itu, Said Hawa merekomendasikan seorang Muslim untuk mengatur jadwal kegiatan harian serta jadwal pekanan yang dapat menyempurnakan aktivitas harian tersebut. Kegiatan tersebut juga harus disusun menjadi kegiatan tahunan untuk menyempurnakan tiga bulan pertama.

Terakhir, programkan kegiatan seumur hidup yang mampu menyempurnakan apa yang sebelumnya tanpa melupakan kewajiban.

Meski demikian, adakalanya wirid yang mengacu kepada target dan raihan bacaan terkesan terlalu kuantitatif. Karena itu, ahli wirid bisa meningkat ke jenjang lebih tinggi ketika mulai merasakan suasana batin melalui penghayatan terhadap makna dan tujuan wirid.

Jika ahli wirid sudah sampai di maqam terbaik, Ibnu `Athaillah memesankan, "Jangan kita menganggap rendah hamba yang mengamalkan wirid dan ibadah tertentu karena keduanya memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah."

Mereka yanga istiqomah dengan wiridnya akan sampai kepada tingkat penghayatan lebih mendalam. Wirid itu berangsur-angsur melahirkan warid, suatu efek positif yang lahir dari pengamalan wirid secara istiqamah.

Ibnu 'Athaillah menyebut warid itu sebagai pemberian dan hidayah Allah SWT berupa petunjuk, cahaya Ilahi, dan kesenangan batin di dalam bertaqarrub kepada-Nya. Wallahu a’lam. [yy/republika]

 

Oleh A Syalaby Ichsan