12 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 06 Desember 2022

basmalah.png

Kemuliaan dan Kenikmatan Akhirat yang Tidak Terhingga bagi Orang Bertakwa

kebahagiaan renungan

Fiqhislam.com - Kemuliaan orang takwa yang diperoleh di akhirat wajib diketahui setiap Muslim. Pasalnya, hal ini bisa memotivasi untuk lebih mendekatkan diri pada Allah Subhanahu wa ta'ala. Selain itu, menambah berat timbangan amal salih.

Dikutip dari nu.or.id, Ustadz Muhammad Tatam Wijaya menjelaskan Imam al-Ghazali telah menyebutkan ada 14 kemuliaan yang akan diraih orang takwa di akhirat kelak.

1. Diringankan dan dimudahkan Allah Ta'ala saat sakaratul maut

Sakaratul maut sendiri merupakan sesuatu yang ditakuti para nabi, sehingga mereka senantiasa berdoa agar diringankan saat melewati peristiwa berpisahnya ruh dan jasad itu. Satu riwayat mengatakan, sakitnya dicabut nyawa ibarat dicabutnya sebuah besi berduri dari dalam perut sekaligus. Namun, tidak demikian halnya untuk hamba yang bertakwa. Kembali digambarkan dalam hadis, bagi orang takwa yang salih, rasanya kematian tidak lebih seperti dicabutnya sehelai rambut dari adonan tepung, sedangkan menurut riwayat lain, seperti air minum yang diteguk oleh orang yang sedang kehausan.

2. Diberi keteguhan mempertahankan keimanan kepada Allah Ta'ala

Tanpa keteguhan dari Allah Subhanahu wa ta'ala, setiap hamba akan merasakan ketakutan dan kegelisahan yang, bahkan tidak jarang berujung kesedihan dan penyesalan yang tiada tara. Keteguhan itu sebagaimana dijanjikan Allah Ta'ala dalam Alquran, Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat (QS Ibrahim [14]: 27)

3. Diberikan kabar gembira, keridaan, dan rasa aman oleh Allah Ta'ala

Sebagaimana dalam firman-Nya, Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu (QS Fushilat [41]: 30). Artinya, tidak akan ada ketakutan bagi orang yang bertakwa atas apa yang akan dihadapi di akhirat dan apa yang telah diperbuat di dunia.

4. Diselamatkan dari pertanyaan dan fitnah kubur

Berbeda dengan orang-orang yang kufur, orang-orang yang takwa seperti diajari dan dituntun dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir. Sebagaimana dalam sejumlah riwayat, pertanyaan pertama adalah tentang Tuhan yang disembahnya semasa di dunia. Pertanyaan kedua tentang agama yang dipeluk. Pertanyaan ketiga tentang rasul yang diutus di tengah umat manusia. Pertanyaan keempat tentang kitab dan amal-amal lainnya semasa di dunia.

5. Dilapangkan kuburnya, diberikan cahaya penerang, dan ditempatkan di salah satu taman surga Allah hingga hari kebangkitan

Salah satu hadis menyebutkan, usai sang hamba menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir dengan baik, terdengarlah seruan, "Maka hamparkanlah sebuah taman dari surga untuknya. Berilah pakaian dari surga untuknya. Bukalah sebuah pintu ke surga untuknya. Maka datanglah aroma wangi dari surga kepadanya. Dan dilapangkanlah kuburannya sejauh mata memandang." (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan yang lain).

6. Dimuliakan ruhnya oleh Allah Ta'ala

Menurut satu riwayat, sebagian ruh mereka ada yang disimpan di dalam perut burung-burung khadhir bersama ruh para hamba yang salih lainnya dalam keadaaan senang gembira atas karunia Allah Subhanahu wa ta'ala yang dilimpahkan kepada mereka.

7. Mulia ketika hari kiamat

Diselamatkan dari huru-hara kiamat, dibangkitkan dan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan agung dan mulia, wajah yang bersinar serta berseri-seri, seraya mengenakan pakaian mahkota dan pakaian kebesaran, serta dipersiapkan untuk menatap Tuhan mereka. Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa ta'ala, Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat (QS Al Qiyamah [75]: 22–23).

8. Mendapat kitab catatan amal salih

Diberikan kitab catatan amal dari depan atau dari belakang. Sedangkan diberikan kitab catatan amal dari arah kiri atau belakangnya merupakan pertanda celaka bagi yang penerimanya. Di antara cara meraih catatan amal dari sebelah kanan setelah berusaha beramal salah adalah memperbanyak berdoa:

اَللَّهُمَّ آتِنِي كِتَابِي بِيَمِيْنِي وَحَاسِبْنِي حِسَاباً يَسِيْراً

"Ya Allah, berikanlah kitab catatan amalku dari sebelah kanan, dan hisablah aku dengan hisaban yang ringan."

9. Hisabnya diringankan

Diringankan dalam hisab (penghitungan amal), bahkan sebagian di antara mereka diloloskan tanpa hisab. Di antara faktor yang menyebabkan lamanya hisaban adalah harta kekayaan. Diriwayatkan, Nabi Isa Alaihissallam sebagai nabi termiskin, masuk surganya lebih dahulu 500 tahun dibanding Nabi Sulaiman Alaihissalam sebagai nabi terkaya. Keterlambatan Nabi Sulaiman Alaihissallam itu diceritakan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala sebagai pelajaran bagi umatnya dan umat-umat berikutnya.

10. Timbangan amal salihnya diberatkan

Diberatkan timbangan amalnya, bahkan sebagian di antara mereka diloloskan dari timbangan ini. Semoga saja kita termasuk hamba yang diloloskan dari timbangan amal, setidak-tidaknya diberatkan amal saat melewati timbangan ini. Kaitan dengan timbangan amal, Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam pernah mengajarkan dua kalimat yang dapat memberatkan timbangan amal kebaikan kita, yaitu:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

11. Dihadirkan dalam telaga Nabi

Dihadirkan dalam telaga Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam dan dipersilakan minum airnya, di mana tidak ada seorang pun yang meneguk air itu kecuali tidak akan merasa haus lagi selamanya.

12. Dimudahkan melewati Jembatan Shirath

Dimudahkan dan diselamatkan dalam melintasi Jembatan Al Shirath. Sementara Jembatan Al Shirath sendiri merupakan jembatan yang menghubungkan antara surga dan neraka. Siapa pun yang tergelincir akan terjatuh ke dalam neraka. Sesuai amal masing-masing, manusia yang melintasi jembatan ini ada yang secepat kilat, ada yang seperti berlari, ada yang berjalan biasa, ada pula yang merangkak. Tidak hanya itu, bagi orang yang celaka, tajamnya jembatan itu lebih dari mata pedang.

13. Diberikan syafaat dari para nabi dan rasul

Sebagaimana diketahui, syafaat terbesar (uzhma) sekaligus syafaat pembuka adalah syafaat Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam. Setelah itu, barulah hamba-hamba yang lain diberikan kesempatan untuk memberikan syafaat.

14. Mendapat balasan besar

Diberi balasan yang besar, dimasukkan ke surga kenikmatan yang abadi, dan meraih rida Allah Subhanahu wa ta'ala, bahkan bisa berjumpa langsung dengan-Nya, di mana kenikmatannya sungguh tidak terkira, tidak terhingga, dan tidak bisa digambarkan kata-kata. (Lihat: Al-Ghazali, Minhajul ‘Abidin, [Surabaya: Maktabah Muhammad ibn Ahmad], halaman 104–105). Wallahu a'lam bishawab. [yy/okezone]