15 Muharram 1444  |  Sabtu 13 Agustus 2022

basmalah.png

Allah Mustahil Tidak Ada, Tapi Kita Sering Menganggapnya Tidak Ada

Allah Mustahil Tidak Ada, Tapi Kita Sering Menganggapnya Tidak Ada

Fiqhislam.com - Banyak orang yang tak setuju, bahkan marah atas pernyataan seorang filosof, Friedrich Wilhem Nietczche (1844-1900), salah seorang tokoh filsafat yang menyatakan “Tuhan sudah mati.” Namun, dari sudut pandang lain, pernyataan dari filosof ini mengandung pula makna sindiran, siapapun orangnya sering mengaku percaya kepada Tuhan Yang Maha Mengawasi, namun dalam kehidupannya, ia tak merasa diawasi Tuhan. Ia merasa bebas melakukan apapun, seolah-olah Tuhan tak melihat terhadap perbuatan yang dilakukannya.

Kita pun wajar jika marah kepada kaum atheis yang nyata-nyata tidak percaya akan keberadaan Tuhan, apalagi jika dilihat dari sudut pandang agama. Apapun alasannya, dari sudut pandang agama apapun, keyakinan Friedrich Wilhem Nietczche atau keyakinan lainnya seperti kaum atheis merupakan keyakinan yang salah. Setiap agama memiliki kepercayaan kepada Tuhan yang mereka yakini.

Islam memiliki keyakinan pasti, Tuhan yang wajib disembah adalah Allah. Islam mengajarkan, kita wajib beribadah hanya kepada-Nya. Laa ilaaha illa Allah. Tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah. Sebagai seorang muslim waji meyakini, Allah Maha Melihat atas segala apa yang kita lakukan.

Kemanapun kita pergi dan dimanapun kita berada, keyakinan kepada Allah harus tetap ada seraya berserah diri melalui pelaksanaan beribadah kepada-Nya. Keyakinan terhadap keberadaan-Nya disebut iman, sedangkan kepasrahan atas segala perintah-Nya disebut taslim.

Kita patut bersyukur, meskipun harus terus ditingkatkan kadar dan kualitasnya, kita sudah memiliki keimanan dan kepasrahan beribadah kepada-Nya. Namun demikian, harus kita akui dengan jujur, kita belum berlaku ihsan. Makna ihsan adalah selamanya merasa dekat, diawasi, didengar, dan dilihat Allah.

Dalam kenyataan hidup, kita sering berperilaku seperti Friedrich Wilhem Nietczche atau kelompok atheis. Kita sering “menghapus” Allah dari kehidupan. Sikap lancang kepada Allah sering kita lakukan. Perilaku kita sering mengganggap Allah itu “tuli” dan “tak melihat”.

Kita baru menganggap Allah itu ada ketika kita melaksanakan ibadah shalat. Ketika kita dzikir dan berdoa, apalagi ketika susah dan musibah menerpa, Allah itu benar-benar terasa ada, dan selamanya kita ingin berdekatan dengan-Nya.

Sayangnya, ketika kita keluar dari masjid, bergeser dari sajadah, sedikit demi sedikit Allah mulai kita hilangkan dari aktivitas. Ketika perasaan gundah, susah, dan musibah berganti dengan kesenangan, Allah mulai kita tinggalkan begitu saja. dzikir dan doa tidak lagi kita lantunkan.

Di tempat pekerjaan, di pasar, dan dalam aktivitas lainnya, Allah dianggap tidak ada. Perbuatan korupsi, mengurangi takaran, dan aktivitas penipuan lainnya, merupakan tindakan yang menganggap Allah tidak mengetahui dan tidak mengawasi perbuatan tersebut.

Orang-orang yang melaksanakan ibadah umrah atau ibadah haji begitu merasa dekat dengan Allah, apalagi ketika sedang melaksanakan thawaf. Perasaan sedang menghadap Allah dan perasaan diawasi-Nya benar-benar tertanam kuat. Sayangnya ketika usai melaksanakan ibadah umrah atau ibadah haji, pulang ke negaranya masing-masing, perasaan merasa sedang mengahadap dan diawasi Allah sirna ditelan hawa nafsu dan waktu.

Idealnya kita harus memiliki keyakinan, kemananpun kita pergi, dimana pun kita berada, kita harus merasa sedang menuju Allah. Setiap langkah, kata, dan perilaku kita diketahui dan diawasi-Nya. Aktivitas apapun yang kita lakukan harus menjadi upaya pendekatan diri kepada-Nya.

Pekerjaan mencari nafkah yang kita lakukan setiap hari jangan dijadikan “tuhan” saingan bagi Tuhan yang sebenarnya. Meminjam pernyataan Patricia Aburdence dalam karyanya Megatrend 2010 (2010 : 97), dalam mencari nafkah atau menjalankan bisnis kita sering menyembah “tuhan” palsu yang bernama uang. Kita begitu menjunjung tinggi “kemuliaan” uang yang “maha perkasa”.

Tanpa lagi memperhatikan etika dan aturan agama, banyak orang yang berlomba-lomba mengumpulkan uang agar menjadi orang kaya dan dianggap perkasa. Hukum halal dan haram sudak tak lagi diperhatikan, yang penting dapat memenuhi pundi-pundi keuangan agar dapat hidup senang.

Gregory Piece, seorang pengusaha asal Amerika mengatakan, “begitu banyak dari kita yang menghabiskan waktu sedemikian besar untuk bekerja, sangat disayangkan jika kita tidak bisa menemukan Tuhan disana”.

Sukanda dan A. Dardiri Hasyim dalam bukunya Nafsiologi, Refleksi tentang Diri dan Tingkah Laku Manusia (1995 : 169) menyebutkan, kemajuan teknologi terkadang menjadikan diri manusia sebagai makhluk berdimesi satu. Makhluk yang hanya berfokus untuk memperoleh materi, kesenangan hidup seraya mengenyahkan kepedulian sosial terhadap sesama dan lingkungan hidup, serta semakin menipisnya penghargaan akan keyakinan adanya Tuhan.

Kini banyak orang, mungkin termasuk diri kita, sudah tidak mampu lagi menempatkan iman sebagai pisau analisis nilai kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Salah dan benar, halal dan haram tidak lagi dianalisa dengan keimanan, namun dianalisa dengan untung-rugi dan kesenangan yang bersifat hedonis.

Prinsip hidup yang penting happy mengikuti trend gaya hidup, dan kecenderungan mengikuti hawa nafsu menjadi kiblat kehidupan. Adapun perbuatan dosa menjadi urusan nanti, yang penting senang-senang dulu.

Perasaan takut melanggar aturan Allah sudah terkalahkan nafsu serakah terhadap kesenangan dunia. Kemuliaan akhlak sebagaimana diperintahkan Allah dan Rasul-Nya sudah sirna. Pekerjaan rutin yang dilakukan setiap hari hanya ditujukan untuk mencari harta dan pundi-pundi uang, tak diniatkan karena Allah dan bertujuan sebagai bekal amal untuk bertemu dengan-Nya di alam keabadian.

Kesibukan bekerja, persaingan mendapatkan kedudukan dan harta yang semakin menggila telah menjadikan manusia berani “menghilangkan” Allah dari kehidupan. Berbohong, berani mengambil uang yang bukan hak, memanipulasi data, melakukan korupsi, dan perbuatan nista lainnya, pada hakikatnya merupakan tindakan “menghilangkan” Allah dari kehidupan. Allah hanya ada di ucapan bibir, dianggap tak ada, tidak mengawasi, dan tidak mengetahui terhadap apa yang telah dilakukan.

Keselamatan hidup di dunia dan akhirat hanya akan diperoleh manakala kita benar-benar waspada, merasa diawasi Allah, dan takut akan azab-Nya yang dahsyat. Sejatinya kita harus berupaya keras “menemukan” kembali Allah dan menghadirkan-Nya dalam segala aktivitas kehidupan.

Hal tersebut yang Rasulullah saw wasiatkan kepada Abu Dzar al Ghifari agar meraih kehidupan yang selamat di dunia dan akhirat.

Bertakwalah (takutlah) kamu kepada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah (tutuplah) perbuatan dosa dengan kebaikan yang bisa menutupinya. Dan perlakukanlah manusia dengan akhlak (perlakuan) yang baik” (H. R. At Tirmidzi, Jami at Tirmidzy, hadits nomor 1987). [yy/republika]

Oleh Ade Sudaryat