21 Syawal 1443  |  Senin 23 Mei 2022

basmalah.png

Menjaga Kehadiran Allah SWT dalam Kehidupan Sehari-Hari

Menjaga Kehadiran Allah SWT dalam Kehidupan Sehari-Hari

Fiqhislam.com - Dalam setiap aspek kehidupan manusia, Allah SWT selalu hadir dan menemani. Sebagai umat Islam, kita dianjurkan oleh Alquran dan Nabi Muhammad SAW untuk selalu berdzikir dan menyadari kehadiran-Nya.

Manusia diciptakan dengan kehendak masing-masing. Hal ini bisa diekspresikan dalam bentuk menerima atau menolak pesan dan perintah-Nya. Manusia bisa tidak berdoa, berpuasa, atau bersedekah, namun ada konsekuansi di baliknya.

Keseimbangan antara kehendak bebas dan mematuhi anjuran-Nya merupakan hal yang harus dijaga dalam kehidupan. Di dunia saat ini, di mana individualitas berkuasa atas semua masalah lain, pentingnya menjaga keseimbangan menjadi semakin penting.

Alquran telah memberi kunci untuk mengatur ulang timbangan dan membawa hidup kembali ke tempat yang seharusnya. Melalui amalan, yang dikenal sebagai Dzikir atau mengingat Tuhan, manusia dapat membantu melatih pikiran dan jiwa untuk menghindari rintangan iman dan membimbing kembali ke jalan Islam yang lurus.

Dilansir di About Islam, dzikir memiliki banyak bentuk dan rupa. Di bawah, ada beberapa cara agar umat Muslim dapat memasukkannya dalam ingatan dan kehidupan sehari-hari.

1. Membaca Alquran

Kata-kata Allah SWT, seperti yang disebutkan oleh Nabi Muhammad saw, adalah ucapan terbaik. Mendedikasikan waktu untuk membaca ayat-ayat Alquran setiap hari adalah praktik yang penting.

Hal itu masih berlaku sampai akhir hayat manusia. Bahkan, membaca bagian atau bab terpendek Alquran di saat-saat yang menegangkan dapat mengurangi stres dan membantu memusatkan kembali pikiran dan diri.

2. Mempelajari, Memahami dan Mengucapkan Nama-nama Allah SWT.

Allah SWT memiliki 99 nama yang mencakup setiap aspek dari kuasa dan pengaruh-Nya. Pelajari, pahami artinya, serta gunakan secara teratur ketika memanggil nama-Nya dalam setiap doa yang dilantunkan maupun saat dalam kondisi tenang dan sendirian.

Ada satu aspek menarik yang tidak banyak dipahami orang terkait nama-nama Allah SWT. Fokus dari keberadaan nama-nama ini bukanlah tentang penilaian nilai kuasa, tetapi memahami bahwa kuasa Tuhan itu mutlak dan menemukan sumber kekuatan lain yang setara atau lebih besar dari Tuhan berarti melakukan dosa mempersekutukan-Nya.

3. Hubungkan Diri dengan Nabi SAW

Sebagai contoh moral bagi seluruh umat manusia, kehidupan, ucapan dan tindakan Nabi Muhammad bertindak sebagai cara penting untuk tumbuh dalam iman dan mengingat Allah SWT.

Dalam buku 40 Hadis yang terkenal oleh Al-Nawawi, di dalamnya bisa dipelajari apa yang telah direkomendasikan oleh para cendekiawan selama berabad-abad, sebagai hal yang penting untuk diketahui setiap Muslim tentang Nabi mereka.

Di dalamnya, bisa dipelajari apa yang bisa diambil tentang kehidupan dan keadaan Nabi. Kemudian, buatlah penyesuaian sederhana dalam hidup sendiri yang bisa dimasukkan Sunnah Nabi.

Salah satu contoh yang sederhana seperti melakukan hal "ekstra" ketika wudhu atau shalat, lebih banyak tersenyum, serta menjaga diri agar tetap tenang di saat-saat kesengsaraan.

4. Temukan Komunitas

Membangun kembali keseimbangan diri dengan Allah SWT tidak akan pernah bisa diselesaikan sendirian. Temukan sebuah komunitas atau sekelompok teman yang bsia membantu agar fokus pada iman.

Bagi sebagian orang, cara itu berarti menemukan lingkaran sufi yang melakukan sesi Dzikir secara teratur. Dari mereka yang ingin duduk dengan tenang dan mengingat Tuhan, hingga kelompok yang aktif secara fisik yang akan membuat Anda berkeringat di akhir sesi, ada kelompok Sufi untuk berbagai selera yang berbeda. Namun, cara yang dimaksud tidak harus selalu seperti ini dan praktik Sufi tidak untuk semua orang.

Tetap dekat dengan komunitas masjid setempat dan berkumpul bersama untuk makan malam bisa sama bermanfaatnya. Memelihara dan membina hubungan dengan Muslim lainnya, tidak peduli seberapa sulit, terkadang juga merupakan salah satu cara terbaik untuk mengingat Tuhan.

Hanya melalui Dzikir dan mengingat Allah SWT secara konstan, maka keseimbangan ini dapat dibangun kembali. Tidak ada satu cara khusus untuk mencapainya, dimana Alquran dan Sunnah juga telah memberi sejumlah contoh dan cara yang bisa diikuti.

Masing-masing cara bekerja untuk orang yang berbeda pada waktu yang berbeda. Tetapi, pada akhirnya semua itu memiliki satu tujuan, yaitu membantu umat Muslim menyadari bahwa Allah SWT merupakan pusat dari segala penciptaan di dunia. [yy/Zahrotul Oktaviani/republika]