21 Syawal 1443  |  Senin 23 Mei 2022

basmalah.png

Abdullah bin Abhar: Jin Pembela Rasulullah Ketika Diejek Kaum Quraisy

Abdullah bin Abhar: Jin Pembela Rasulullah Ketika Diejek Kaum Quraisy

Fiqhislam.com - Keberadaan Jin sebagai makhluk ciptaan Allah tidak berbeda jauh dengan manusia. Golongan mereka sangat beragam. Ada yang muslim, kafir, jenis laki-laki dan perempuan, ada yang berperangai buruk dan ada pula yang baik.

Meski tersembunyi dan kasat mata, Jin dapat dilihat dan berbicara dengan Rasulullah. Dalam satu Hadis, Nabi bersabda: "Sungguh, aku melihat setan-setan Jin dan manusia lari dari Umar." (HR at-Tirmidzi).

Berikut kisah Jin yang membela Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat beliau diejek oleh kaum kafir Quraisy dilansir dari portal islami.co. Sosok Jin ini bernama Muhbar bin Abhar yang tinggal di Bukit Tursina.

Jin Muhbar ini merupakan cucu bangsa Jin yang masuk Islam pada masa Nabi Sulaiman 'alaihissalam. Riwayat lain menyebut Jin ini masuk Islam di masa Nabi Nuh. Demikian disebutkan dalam Kitab Al-Mawaidzul Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar Al-Ushfury.

Ketika tokoh-tokoh kafir Quraisy sedang berkumpul. Mereka membincangkan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Nama-nama terkenal seperti Syaibah bin Rabiah, al Walid ibn Haris, Shafwan ibnu Umayyah, Aswad bin Abi Yaghuts, Kinanah Bin Rabbi dan lain sebagainya berkumpul. Salah seorang di antara mereka kemudian berkata: "Muhammad mengajak kita menyembah Tuhan yang tidak kita kenal. Tetapi ia tidak mencela tuhan kita."

"Muhammad sebenarnya menghendaki harta," ucap lainnya. Namun perbincangan kemudian berubah ketika seseorang di antara mereka berkata, "Muhammad sebenarnya penyihir dan pembohong!"

Kemudian di antara mereka bertanya kepada Walid ibn Haris: "Apa pendapatmu wahai Walid?"

"Aku tidak bisa menjawab," katanya singkat.

Mendengar jawaban itu, mereka menuduh Walid sudah terkena ajakan Muhammad. Walid pun berang dan berkata dengan nada marah: "Beri aku tiga hari untuk menjawabnya."

Mendengar jawaban itu, mereka menuduh Walid sudah terkena ajakan Muhammad. Walid pun berang dan berkata dengan nada marah: "Beri aku tiga hari untuk menjawabnya."

Maka bubarlah perkumpulan itu. Kemudian Walid pulang ke rumahnya. Disebutkan bahwa Walid mempunyai dua berhala yang terbuat dari manikam dan emas. Berhala itu diletakkan di atas kursi dan diberi pakaian asesoris yang mahal.

Walid kemudian sembahyang. Ia tidak makan dan minum. Pada malam ketiga ia berkata kepada dua berhalanya, "Demi penyembahanku tiga hari berturut-turut katakan kepadaku tentang Muhammad."

Setelah itu tiba-tiba ada yang berkata dari dalam berhala itu, "Muhammad itu bukan Nabi, jangan percaya dia."

Mendengar hal itu Walid girang. Ia tidak tahu kalau ada Jin yang telah masuk ke dalam salah satu berhala. Walid kemudian menceritakan peristiwa ini kepada semua teman kafirnya. "Sudah saatnya kita katakan ini kepada Muhammad," katanya.

Rasulullah SAW mendengar peristiwa tersebut ikut bersedih. Lalu Malaikat Jibril datang dan berkata: "Celakalah yang membuat kata-kata itu wahai Muhammad."

Kemudian kaum kafir meletakkan patung Hubal di suatu tempat. Mereka kemudian menyembahnya. Malam harinya mereka mengundang Rasulullah SAW untuk datang. Rasul pun datang ditemani Abdullah bin Mas’ud. Lalu Rasul duduk di tengah mereka. Maka masuklah jin yang bernama Musfir ke dalam tubuh Hubal. Ia kemudian mencaci maki Rasulullah. Mendengar itu, Abdullah bin Mas’ud menjadi bingung dan bertanya, "Ngomong apa itu wahai Rasulullah?"

"Wahai Abdullah, jangan takut ini setan," jawab Rasulullah.

Kemudian Rasulullah SAW pulang ke rumah. Namun di tengah perjalanan bertemu dengan seorang penunggang kuda berbaju hijau. Orang tersebut kemudian turun dan memberi salam. "Siapa Anda, alangkah indahnya salam Anda kepadaku," ucap Rasulullah.

"Saya adalah cucu bangsa Jin yang telah masuk Islam pada masa Nabi Sulaiman. Telah lama saya meninggalkan kampung saya. Bertepatan saat saya kembali, saya mendengar anak istri saya menangis. Lalu saya tanya mengapa menangis. Istriku pun menjawab bahwa Musfir telah memperbohongkan Muhammad."

Jin itu kemudian berkata lagi, "Mendengar hal itu saya kejar dia dan kutemukan di antara Shafa dan Marwah dan aku menikamnya. Darahnya masih ada di pedangku," ucapnya.

Mendengar hal itu Nabi berdoa untuknya. Nabi pun bertanya, "Siapa namamu."

"Nama saya Muhbar bin Abhar. Saya tinggal di bukit Tursina. Adakah Paduka memerintahkan saya wahai Rasulullah untuk mengejek mereka dalam berhala seperti Musfir mengejek Paduka?"

Nabi kemudian menjawab, "Boleh saja."

Lalu Jin itu pergi ke tempat berhala. Kebetulan kaum kafir sedang mengadakan sembahyang. Mereka berkata, "Wahai Hubal! Gembirakanlah kami dengan ejekan kepada Muhammad!"

Jin yang telah masuk pada tubuh Hubal itu kemudian berkata, "Wahai penduduk Mekkah, orang ini adalah Nabi yang benar. Muhammad mengajakmu pada kebenaran tetapi kalian menganggapnya kebatilan. Jika kalian tidak beriman kepadanya dan tidak membenarkan ajaran yang dibawanya tentunya kalian akan berada di neraka Jahanam selama-lamanya.

Ikutilah Muhammad ! Yakinilah kebenarannya! Dialah Nabi Allah dan sebaik-baiknya makhluk.”

Lalu Abu Jahal berdiri dan memungut arca itu, kemudian membantingnya. Arca itu pecah lalu dibakar. Rasulullah SAW kemudian pulang dengan hati gembira dan mengubah nama Jin Islam dari Tursina tersebut dengan Abdullah ibnu Abhar.

Sebagai bentuk pembelaannya kepada Rasulullah SAW, Jin itu melantunkan syair:

أنا عبد الله بن عبهر # انّي قتلت ذا الفجور مسفرا

"Aku adalah Abdullah bin Abhar # Sesungguhnya aku telah membunuh setan yang durhaka yaitu Musfir." [yy/Rusman H Siregar/sindonews]