15 Jumadil-Awwal 1444  |  Jumat 09 Desember 2022

basmalah.png

Tiga Golongan Manusia dalam Menyikapi Nikmat Allah

Tiga Golongan Manusia dalam Menyikapi Nikmat Allah

Fiqhislam.com - Dalam Kitabnya, Al-Hikam, Syekh Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Athaillah As Sakandari menjelaskan dalam menghadapi nikmat Allah, manusia terbagi tiga.

Pertama, orang yang gembira dengan nikmat, bukan karena melihat siapa yang memberikannya, tetapi semata-mata karena kelezatan nikmat itu yang memuaskan hawa nafsunya. Maka, dia termasuk orang yang lalai atau ghafil.

Menurut tokoh sufi yang lahir di Iskandariah (Mesir) pada 648 H/1250 M itu, orang macam ini sesuai dengan firman Allah SWT:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS Al Anam ayat 44).

Kedua, orang yang gembira dengan nikmat karena dia merasa bahwa nikmat itu adalah karunia yang diberikan Allah SWTkepadanya. Orang ini sesuai dengan firman-Nya:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus ayat 48).

Ketiga adalah orang yang hanya bergembira dengan Allah SWT, bukan karena karunia-Nya. Dia tidak terpengaruh kelezatan lahir dan batin nikmat itu karena dia hanya sibuk memperhatikan Allah SWT sehingga ia tercukupi dari segala hal selain-Nya.

Dengan demikian, kata Ibnu Atha’illah, tidak ada yang terlihat padanya, kecuali Allah SWT. Orang ini sesuai dengan firman-Nya:

قُلِ اللَّهُ ۖ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

"Katakanlah, 'Hanya Allah', kemudian biarkan mereka dalam kesibukan mereka berkecimpung (main-main)." (QS Al Anam ayat 91)

Penjelasan dari kitab Al-Hikam ini kemudian dijelaskan lagi mantan Grand Syekh Al-Azhar Mesir, Syekh Abdullah Asy-Syarqawi. Dalam syarahnya, dia menjelaskan bahwa;

Golongan pertama penerima nikmat Allah SWT itu seperti hewan yang makan dan minum tanpa mengingat Tuhannya.

“Setiap kali mereka diberi nikmat maka kelalaiannya terus bertambah dan mereka tidak pernah bersyukur kepada Allah SWT.

Akibatnya, Allah SWT akan menyiksa mereka dengan tiba-tiba,” jelas Syekh Abdullah dikutip dari buku “Al-Hikam: Kitab Tasawuf Sepanjang Masa” terbitan Turos Pustaka.

Golongan kedua, keadaan mereka pun masih kurang sempurna karena masih menoleh ke arah nikmat itu dan masih merasa bahagia dengannya. Dia masih merasa senang dengan nikmat kendati dia mengetahui bahwa nikmat itu bersumber dari Allah SWT.

Golongan ketiga, menurut Syekh Abdullah, mereka hanya bergembira dengan Allah SWT, bukan dengan karunia-Nya. Mereka tidak terdorong untuk menikmati kelezatan lahir nikmat itu. Mereka juga tidak pernah menganggap bahwa wujud nikmat itu adalah bukti perhatian dan pertolongan Allah SWT kepada mereka. [yy/Muhyiddin/republika]