15 Muharram 1444  |  Sabtu 13 Agustus 2022

basmalah.png

Bersedekah Memiliki Niat Hajat Tertentu, Bolehkah?

Bersedekah Memiliki Niat Hajat Tertentu, Bolehkah?

Fiqhislam.com - Sedekah merupakan salah satu amal shaleh yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala, dan banyak sekali keutamaan-keutamaan yang yang diberikan Allah kepada orang-orang yang mau bersedekah. Namun bolehkah kita bersedekah karena mempunyai hajat tertentu?.

Dalam Islam, amalan syar’i yang dikerjakan seorang hamba ada dua macam bila dilihat dari balasan dunia.

Pertama, amalan yang tidak disebutkan oleh Allah ta’ala atau Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memiliki balasan dunia, misalnya shalat fardhu.

Dalam amalan semacam ini, seorang hamba tidak boleh menginginkan balasan dunia sedikitpun ketika melaksanakan ini. Jika dia melaksanakannya Ikhlas karena Allah ta’ala tapi dengan tujuan untuk mendapatkan rezeki maka ini termasuk syirik kecil.

Kedua, amalan yang disebutkan oleh Allah ta’ala atau Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memiliki balasan dunia, misalnya silaturrahim. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam amalan semacam ini, seorang hamba boleh menyertakan niat dunia dengan catatan tetap Ikhlas (ibadah hanya untuk Allah) dan mengharapkan pahala akhirat, surga serta ingin menjauh dari neraka.

Mengutip Syaikh Shaleh bin Abdul Azis Aalu Syaikh dalam kitab 'At-Tamhid Li syarhi Kitab At-Tauhid' dijelaskan, "Seandainya seorang hamba ketika melaksanakan amalan semacam ini ikhlas karena Allah ta’ala tapi hanya mengharap pahala dunia dan tidak mengharap pahala Akhirat maka dia Jatuh dalam kesyirikan kecil" (At-Tamhid Li syarhi Kitab At-Tauhid oleh syaikh Shaleh bin Abdul Azis Aalu Syaikh hal.406-407).

Sedangkan sedekah, termasuk dalam amalan jenis kedua. Allah ta’ala berfirman:

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

"Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa," (QS Al Baqarah: 276).

Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukani menafsirkan:

وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

"Allah menambahi harta yang dikeluarkan zakatnya". (Fathul Qadir 1/340).

Syaikh Abdullah bin Muhammad Al-Ghunaiman mengatakan dalam penjelasannya mengenai masalah Tauhid: dan begitu pula orang yang bersedekah, dia tidak boleh bersedekah jika dia hanya mengharap supaya hartanya banyak, badannya sehat, atau orang sakit sembuh.

Ketika kita ingin menyertakan niat supaya hajat terpenuhi maka harus punya dalil yang menyebutkan bahwa memang ada balasan dunia seperti itu. Meski demikian, kita masih bisa meminta Allah ta'ala supaya memenuhi hajat melalui doa di waktu dan tempat yang mustajab, serta bisa meminta doa orang-orang saleh. Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]