28 Safar 1444  |  Minggu 25 September 2022

basmalah.png

Penyakit Hati yang Dianggap Biasa tapi Menghasilkan Dosa

Penyakit Hati yang Dianggap Biasa tapi Menghasilkan Dosa

Fiqhislam.com - Ada beberapa penyakit hati yang terlalu dianggap lumrah dan biasa saja, padahal perbuatan tersebut adalah dosa . Sebagai seorang muslim, hal tersebut merupakan sesuatu yang harus diwaspadai supaya keimanan dan ketakwaan yang dilakukan kepada Allah tidak mudah rusak.

Untuk itu, mempelajari dan memahami jenis penyakit hati menurut islam sangatlah penting. Bahkan Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:

وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُون

"Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir." (Qs. At Taubah: 125).

Beberapa perbuatan yang tanpa sadar kita lakukan, padahal berdosa tersebut, dinukil dari buku '60 Penyakit Hati' yang ditulis Uwes Al-Qarni, di antaranya :

1. Berjanji kemudian membatalkannya tanpa sebab

Seringkali kita menemui orang yang sudah melakukan janji namun tiba-tiba membatalkan secara sepihak tanpa persetujuan. Tentu dengan alasan yang tidak jelas, bukan karena sakit atau penyebab lain yang bisa dipahami keduanya.

Sikap tersebut tentu sangat tidak diperbolehkan untuk dimiliki seorang muslimah karena beberapa sebab, yakni pertama, secara materi sikap itu akan merugikan orang lain, terutama jika ia membawahi orang lain. Akan banyak orang yang dirugikan. Kedua, secara moral, sikap seperti itu akan menghilangkan kepercayaan orang lain. Ketiga, pelakunya akan dikenal sebagai tukang membatalkan janji (ghadir), baik di dunia maupun di akhirat.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Setiap orang yang suka membatalkan janjinya pada hari kiamat akan memikul bendera di bagian belakangnya (sebagai tanda atas perbuatannya di dunia) yang akan ditinggikan sesuai dengan kadar pembatalannya." (HR. Muslim).

2. Senang pujian atau dipuji

Tentu sebagai manusia biasa, kita pasti senang tatkala ada seseorang yang memberikan pujian. Namun, rasa senang dan mencintai pujian dari orang lain nyatanya akan berbahaya jika sudah berlebihan.

Biasanya kita akan lupa dengan kelemahan diri yang menjadikan pribadi sombong.

Rasa ini timbul perlahan disebabkan oleh beberapa hal. Seperti rasa bangga dengan kesempurnaan yang ada dalam diri, dan menginginkan orang lain mengetahuinya, memiliki ambisi untuk menguasai hati pemujanya dan kecintaan terhadap dunia. Maka pada poin yang terakhirlah semuanya bermuara.

3. Gengsi (Waqahah)

Waqahah adalah menjauhi suatu aturan agama dengan tidak mau melakukannya karena mengkhawatirkan harga diri atau martabatnya jatuh.

Penyakit hati waqahah ini juga bisa terjadi saat seseorang merasa malu berjalan dengan orang fakir, membantu kesulitannya, atau melakukan pekerjaan yang dianggap rendah oleh manusia.

Penyakit ini biasanya akan mengakibatkan kemaksiatan yang cenderung pada kekufuran. Sifat ini biasanya dibarengi dengan keraguan terhadap kebenaran Islam dan pengagungan terhadap jalan yang sesat.

4. Keras kepala (Inad)

Penyakit hati ini biasanya timbul akibat dari penolakan terhadap kebenaran dan nasihat yang datang kepada seseorang. Disisi lain sebenarnya ia mengetahui dan mengakui kebenarannya, namun enggan menerimanya.

Orang yang beriman akan menerima kebenaran dari mana dan dari siapapun datangnya. Karena di antara hikmah keimanan adalah adanya pengakuan dan menerima yang direalisasikan dalam amal saleh.

Sikap ini biasanya muncul akibat takabur dan riya, meras lebih dari orang lain. Selain itu, ia juga timbul akibat rasa dendam kepada pembawa kebenaran, hasud dan tamak.

Jika seseorang memiliki sifat ini, maka akibat buruknya adalah kekufuran dan kerusakan dimanapun ia berada. Biasanya dia akan menjadi orang yang penentang.

5. Berpikir sempit (Baladah)

Baladah merupakan penyakit yang timbul akibat sempitnya pemikiran seseorang untuk menemukan kebaikan di antara keburukan, atau memperoleh manfaat di antara keburukan.

Orang yang berpikiran sempit akan sulit melihat kebaikan di tengah musibah yang tengah menimpanya. Ia juga cenderung akan sellau melihat sisi buruk orang lain dan mengarah kepada suudzhon atau selalu berprasangka buruk. Tentu hal ini sangat tidak disukai oleh Allah. Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]