9 Jumadil-Awwal 1444  |  Sabtu 03 Desember 2022

basmalah.png

Manakah yang Paling Afdhal Antara Doa, Dzikir atau Wirid?

Manakah yang Paling Afdhal Antara Doa, Dzikir atau Wirid?

Fiqhislam.com - Dalam keseharian sebagai seorang mukmin, kita dianjurkan untuk selalu berdoa, berdzikir dan wirid. Dan ternyata dari tiga aktivitas tersebut, terdapat perbedaan. Apa saja perbedaan doa, dzikir dan wirid ini?

Dikutip dari ceramah Ustadz Abdullah Zaen, dijelaskan bahwa secara bahasa, dzikir berarti mengingat. Sedangkan doa berarti meminta. Namun, antara dzikir dan doa terdapat kaitan yang amat erat. "Oleh karena itu terkadang dzikir pun dinamakan doa. Begitu pula sebaliknya,"ungkapnya dalam salah satu ceramahnya yang ditayangkan televisi kanal muslim.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ

Doa yang paling afdhal adalah Alhamdulillah”. (HR At-Tirmidzi dan dinilai shahih oleh Ibn Hibban)

Sebagaimana telah maklum bahwa hamdalah adalah dzikir. Namun lihatlah bagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menamakannya sebagai doa, bahkan doa yang paling afdhal.

Para ulama menjelaskan bahwa doa itu ada dua macam. Pertama, doa yang berisi permintaan. Kedua: doa yang berisi pujian. Orang yang memuji Allah, sejatinya ia juga sedang berdoa meminta kepadaNya. Hanya saja dengan bahasa yang halus.

Antara doa dan dzikir , mana yang lebih Afdhal? Kedua amalan tersebut, baik doa maupun dzikir sama-sama amalan yang utama. Hanya saja para ulama menjelaskan bahwa dzikir lebih utama dibandingkan doa. Di antara alasan mereka:

Pertama, dzikir didahulukan sebelum doa. Lihatlah dalam berdoa seorang hamba disunnahkan untuk mengawalinya dengan pujian kepada Allah. Contohnya adalah dalam surat Al-Fatihah. Dari ayat pertama hingga kelima berisikan pujian , baru di ayat keenam terdapat doa.

Kedua, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الْكَلَامِ بَعْدَ الْقُرْآنِ – وَهُو مِنَ الْقُرْآنِ – أَرْبَعٌ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ

Kalimat yang paling afdhal sesudah Al-Quran ada empat. Dan keempatnya adalah bagian dari al-Quran. Tidak ada masalah, engkau memulainya dari manapun. Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahuakbar.” (HR Ahmad dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu. Al-Arna’uth menilai sanad hadis ini shahih)

Ketiga, yang berdzikir hanyalah hamba yang beriman. Sedangkan yang berdoa bukan hanya mukmin, orang kafir pun juga berdoa.

Ustadz Abdullah Zaen juga menjelaskan, keterangan tersebut adalah mengenai hukum asal. Namun terkadang, dalam beberapa kondisi, bisa jadi doa menjadi lebih afdhal dibanding dzikir. Misalnya saat seorang hamba kepepet kebutuhan yang amat mendesak, lalu ia berdoa dengan merintih, penuh kerendahan hati dan kekhusyuan. Maka dalam kondisi seperti ini, bisa jadi doa lebih afdhal. Sebab saat itu lebih khusyu’ dalam berdoa dibanding bila ia berdzikir.

Asal Muasal Kata Wirid

Sedangkan wirid sebenarnya kata yang berasal dari bahasa Melayu yang berarti mengulang. Awal mula pemakaian kata wirid, adalah pada saat penyebaran agama Islam di Nusantara . Wirid digunakan sebagai kata untuk menjelaskan tata cara pembacaan kalimat thayyibah yang dilakukan secara berulang-ulang, di waktu-waktu tertentu, dengan tujuan tertentu (hajat).

Hal ini masih bisa dilihat pada para pelaku tarikat yg membaca kalimat-kalimat Allah tertentu (contohnya: Laa ilaaha illallaah). Bisa disimpulkan, bahwa sebenarnya perbedaan antara kata dzikir dan wirid hanya pada waktu dan tujuannya.

Dzikir dilakukan kapan saja dan bertujuan murni untuk mengingat Allah. Sedangkan wirid diartikan sebagai ritual mengucapkan kalimat Allah di waktu-waktu tertentu dengan tujuan tertentu. Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]