28 Safar 1444  |  Minggu 25 September 2022

basmalah.png

Keutamaannya Besar, Shalat Sunnah Wudhu Kerap Dilewatkan

wudhu

Fiqhislam.com - Setelah berwudhu disunnahkan untuk shalat sunnah wudhu dua rokaat. Meskipun meskipun saat waktu terlarang shalat sunnah ini boleh dikerjakan. Hal ini didasarkan pada hadits berikut ini:

عن أبي هُرَيرَةَ رَضِيَ اللهُ عنه، أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال لبلالٍ عندَ صلاةِ الفجرِ: ((يا بلالُ، حدِّثْني بأرْجَى عملٍ عَمِلتَه في الإسلامِ؛ فإنِّي سمعتُ دُفَّ نَعْلَيك بين يَديَّ في الجَنَّة؟ قال: ما عملتُ عملًا أرْجَى عندي: أَنِّي لم أتطهَّرْ طُهورًا، في ساعةِ ليلٍ أو نَهار، إلَّا صليتُ بذلك الطُّهورِ ما كُتِبَ لي أنْ أُصلِّي

Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu, dia berkata, “Bahwasanya Rasulullah Saw bersabda kepada Bilal ketika shalat subuh: “Wahai Bilal beritahukan kepadaku tentang amalan yang paling engkau harapkan dalam Islam kemudian aku mendengar suara terompahmu di hadapan aku di surga?! Bilal pun menjawab, “Tidak ada amalan yang paling aku harapkan tatkala berwudhu baik di waktu siang atau malam melainkan sesudahnya atau shalat dengan kemampuan yang Allah berikan kepadaku untuk shalat." (HR Bukhari).

Arif Fauzi dalam bukunya "Ensiklopedi shalat Sunnah" menjelaskan, apabila seseorang berwudhu baik ketika dia mau mengerjakan shalat fardhu atau yang lainnya seperti membaca Alquran maka disunnahkan baginya untuk shalat dua rakaat setelah wudhu.

Arif Fauzi mengatakan, ada keutamaan yang luar biasa mengerjakan shalat sunnah wudhu. Tentang hal ini Nabi Muhammad Saw bersabda sebagai berikut:

عن عُثمانَ بنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عنه، في حديثِ الوضوءِ، قال: قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: مَن توضَّأ نحوَ وُضوئِي هذا، ثم قام فرَكَع رَكعتينِ لا يُحدِّثُ فيهما نفْسَه، غُفِرَ له ما تَقدَّم من ذنبِه

Dari Utsman bin Affan, radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini kemudian shalat dua rokaat serta tidak membisikkan dirinya dengan suatu apapun pada kedua rakaat tersebut maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

Imam Nawawi menjelaskan, maksud dari atau tidak membisikkan dirinya adalah tidak membisikkan jiwanya dengan perkara-perkara dunia atau hal-hal yang tidak terkait dengan shalat. Namun apabila saat terlintas bisikan, dia segera berpaling darinya. Maka hal ini dimaafkan dan dia tetap mendapatkan keutamaan seperti yang terdapat dalam hadits," katanya.

Insya Allah karena hal ini bukan karena kesengajaan diluar kemampuannya. Sesungguhnya hal-hal yang hanya terlintas dalam benak pikiran manusia tidak berbuah dosa selama tidak diucapkan. [yy/Ali Yusuf/republika]