12 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 06 Desember 2022

basmalah.png

Mengapa Kita Harus Bermadzhab?

Mengapa Kita Harus Bermadzhab?

Fiqhislam.com - Sebagian kaum muslim barangkali masih banyak yang awam soal hakikat berMadzhab. Untuk diketahui, Madzhab bermakna jalan untuk memahami kitab Allah dan Sunnah Rasulullah.

Untuk belajar fiqih dan menerapkan ilmu syariat, seorang muslim harus merujuk kepada empat Imam Madzhab dalam Ahlus Sunnah waljamaah. Di antaranya Imam Abu Hanifah (Madzhab Hanafi); Imam Malik (Madzhab Maliki); Imam Muhammad Bin Idris Asy-Syafi'i (Madzhab Syafi'i); dan Imam Ahmad Bin Hanbal (Madzhab Hambali).

Merekalah yang paling alim dan mengerti seluk beluk ilmu fiqih dan syariat. Ilmu fiqih artinya pengetahuan tentang hukum-hukum syar'i (syariat Islam). BerMadzhab sangat penting bagi orang beragama agar pemahaman dan praktik agamanya benar.

Terkadang karena kedangkalan ilmu banyak yang mengira bahwa para Mujtahid atau imam Madzhab tidak merujuk kepada Al-Quran dan Hadits. Padahal ini pemahaman keliru. Justru para imam Madzhab selalu merujuk Al-Quran dan Sunnah dalam menetapkan hukum-hukum Islam.

Lalu, kenapa muncul golongan tanpa Madzhab yang menganjurkan langsung saja belajar ke Al-Quran dan Hadits, tidak perlu ikut Imam? Menurut Buya Arrazy Hasyim, pakar Hadits asal Sumatera Barat, hal itu merupakan metode pengajaran yang keliru dan sangat berbahaya terutama kepada anak-anak muda yang baru Hijrah.

Logikanya dicontohkan oleh Buya Arrazy seperti di bawah ini: "Jika Anda sakit, apakah Anda membuka buku kedokteran dan mengobati sendiri? atau Anda berkonsultasi ke ahlinya yaitu dokter? jika ke dukun niscaya akan menjelekkan dokter (merendahkan ilmu medis)."

Tentunya yang benar adalah berkonsultasi dengan dokter yang terbukti keilmuannya dan mendapat izin dari IDI atau punya gelar dari universitas. Begitu pula dengan belajar agama kenapa harus mempunyai guru berMadzhab dan punya sanad.

Berikut firman Allah dalam Al-Quran:

وَمَاۤ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوۡحِىۡۤ اِلَيۡهِمۡ‌ فَسۡـــَٔلُوۡۤا اَهۡلَ الذِّكۡرِ اِنۡ كُنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَۙ‏

"Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl Ayat 43)

Keterangan ini terdaoat juga dalam Surat Al-Anbiya Ayat 7 yang artinya: "....Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui."

Itu sebabnya di Arab Saudi menetapkan Madzhab resmi mereka adalah Hanbali. Semua urusan fiqih dan pelaksanaan syariat merujuk kepada Imam Ahmad Bin Hanbali. Kemudian di Indonesia dan Asia Tenggara mayoritas menganut Madzhab Syafi'i karena sejak dulu inilah madzhab yang dibawa para pemuka agama dan penyebar Islam ke Nusantara. Madzhab Syafi'i juga dipakai di Mesir dan Yaman.

Sedangkan Madzhab Hanafi dipakai negara-negara di Pakistan, Afghanistan, India, Bangladesh dan Turki. Sementara Madzhab Maliki dianut oleh negara-negara di Afrika seperti Aljazair, Tunisia, Maroko. Semuanya adalah golongan ahlus sunnah waljamaah. [yy/Widaningsih/sindonews]