15 Jumadil-Awwal 1444  |  Jumat 09 Desember 2022

basmalah.png

Jangan Coba-Coba Menipu Allah

Jangan Coba-Coba Menipu Allah

Fiqhislam.com - Sebuah kejahatan boleh jadi menimpa sebagian orang dengan bermacam-macam tuduhan. Lalu kejahatan tersebut dihilangkan jejaknya dengan berbagai alasan untuk menyelamatkan pelakunya.

Bisa dipastikan karena pelakunya adalah orang penting atau mampu menyogok atau mempunyai secuil kekuasaan yang bisa mempengaruhi pengadilan. Di atas meja hakim, palu diketok bahwa kasus tersebut tidak bisa dilanjutkan. Sederet alasan hukum dibacakan oleh hakim seakan sebuah kebenaran, padahal itu semua hanyalah cara untuk menyembunyikan fakta.

Seperti inilah proses pengadilan di dunia yang sering terjadi. Banyak hukum hanya berpihak kepada yang kuat, sementara yang lemah selalu dalam posisi bersalah sekalipun benar.

Dari sini perebutan kekuasaan dan pengaruh terus berlangsung. Sesumbar dan narasi yang menggiurkan dikumandangkan. Padahal tujuannya hanya untuk menyembunyikan dosa-dosa yang mereka lakukan.

Dunia memang belum sanggup menyelesaikan persoalannya sendiri. Hukum rimba masih banyak berlangsung di mana-mana. Yang kuat selalu menang dan yang lemah tergilas.

Allah SWT, pemilik mutlak alam semesta, diabaikan. Seakan jabatan yang mereka dapatkan adalah segalanya. Lalu dengan jabatan tersebut seakan mereka boleh berbuat apa saja sesuka nafsu.

Maka terjadilah kezaliman dengan berbagai cara. Harta haram hasil korupsi dianggap legal. Aturan dipermainkan untuk menutupi kebusukan. Seakan tidak ada hari pengadilan akhirat.

Allah berfirman: “alaa yazhunnu ulaaika annahum mab’uutsuun, liyaumin azhiim, yauma yaquumunnaasu lirabbil aalamiin” (Apakah mereka tidak yakin bahwa akan datang hari kebangikitan. Itulah hari yang agung. Pada hari itu semua manusia berdiri tegak di hadapan Allah untuk diadili) (QS al-Muthaffifiin: 4-6).

Mereka marasa bebas berbuat dosa seakan Allah membiarkan mereka tanpa hukuman, seakan Allah tidak melihat apa yang mereka perbuat. Padahal, Allah berfriman: “inna rabbaka labil mirshaaa” (Sungguh Tuhanmu pasti memperhatikan semua perbuatanmu).

Ayat ini ditegaskan setelah merekam prilaku umat terdahulu yang membuat Allah murka. Mereka dihukum karena kesombongannya. Mereka sombong karena merasa berhasil membangun dunia dengan kemegahan materialisme. Sementara ruhani mereka hampa tanpa iman sama sekali.

Itulah kaum Aad, bangsa Iram yang mampu membangun rumah-rumah menjulang ke langit tak tertandingi. Kaum Tsamud yang berhasil melubangi batu gunung yang cadas menjadi istana.

Kaum Firaun yang telah membangun piramid-piramid megah (QS al-Fajr: 6-10). Tetapi sayang, semua pencapaian materialisme tersebut telah menyerat mereka kepada dosa-dosa dan kezaliman, maka banyaklah kerusakan di negeri itu: “alladziina thaghau fil bilaad, fa aktsaruu fiihal fasaad”. Allah SWT menurunkan azab atas mereka “fashabba ‘alaihum rabbauka sautha adzaab” (QS al-Fajr: 11-13).

Jangan dikira Allah diam, lalu Anda berusaha menipu-Nya. [yy/republika]

Oleh Ustaz DR Amir Faishol Fath, Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute