3 Rabiul-Awwal 1444  |  Kamis 29 September 2022

basmalah.png

Kemuliaan Akal Terletak Pada Penggunaannya

Kemuliaan Akal Terletak Pada Penggunaannya

Fiqhislam.com - Akal diciptakan untuk menjaga manusia, bukan untuk merusaknya. Kemuliaan manusia terletak pada sejauh mana ia mampu menggunakan akalnya. Seorang dengan akalnya tidak akan mencuri atau korupsi karena ia tahu itu pasti merusak kehidupan.

Allah SWT memberikan kedudukan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi “inni jaailun fil ardhi khalifah” (QS al-Baqarah: 30) itu karena akalnya. Dengan akal, manusia bisa mendapatkan ilmu “wa’allama aadamal assama’a kullaha”. Lalu dengan ilmu manusia bisa mebedakan ini halal dan itu haram berdasarkan wahyu.

Jadi, tugas akal adalah untuk memahami ajaran wahyu, bukan untuk menandinginya, apalagi membuat penafisran yang menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Misalkan, menjelaskan istilah “shalat” hanya secara bahasa yang artinya “doa”. Lalu mengatakan bahwa shalat cukup hanya dengan berdiam diri sambil berdoa, tidak harus lima waktu seperti yang kita laksanakan selama ini.

Demikian juga istilah “tauhid” dijelaskan secara bahasa dengan makna “persatuan” dari kata “wahhada yuawahhidu”. Padahal, di dalam Islam, baik kata “shalat” maupun kata “tauhid” merupakan istilah baku dengan definisi khusus “al ma’luum minaddiin bidhdhrurati”. Artinya bukan wilayah ijitihad.

Istilah “shalat” sekalipun secara bahasa bermakna “doa” tetapi secara definisi adalah “af’aalun mufttahatun bit takbir wa mukhttamatun bist tasliim” (serangkaian perbuatan yang dibuka dengan takbir dan ditutup dengan salam).

Begitu juga istilah “tauhid” yang telah mengandung makna baku, yaitu mengesakan Allah sebagai Tuhan satu-satunya, dengan formulasi “lailaaha illallah” (tiada tuhan selain Allah). Maka dengan definisi ini tidak bisa diutak-atik lagi untuk dijauhkan dari maksud yang sebenarnya. Tugas akal adalah mengokohkan pemahaman tersebut, bukan melakukan “tahrif” (mendatangkan pemahaman yang penyimpang).

Alquran menyebutkan banyak sekali ayat tentang teguran kepada manusia “afalaa ta’quluun” (mengapa kamu tidak menggunakan akalmu), kadang dengan redaksi lain “la’allakum ta’qiluun” (agar kamu menggunakan akalmu). Ketika menegur Bani Israil yang menyembunyikan kebenaran, Allah SWT berfirman: “afalaa ta’qiluun” (QS al-Baqarah: 44).

Artinya, janganlah kamu berusaha menggunakan akalmu untuk menyembunyikan maksud wahyu yang sebenarnya, melainkan gunakanlah akalmu untuk memberikan pemahman yang benar terhadap wahyu yang Allah SWT ajarkan.

Lalu, ketika untuk menunjukkan bukti kekuasaan-Nya, Allah berfirman: “la’allakum ta’qiluun” (QS al-Baqarah: 73). Maksud ayat Allah SWT tersebut ada dua. Pertama, ayat tertulis yaitu Alquran. Kedua, ayat terlihat di alam semesta, yaitu langit, bumi, dan segala isinya.

Kedua ayat tersebut adalah bukti kekuasaan-Nya. Maka tidak ada yang pantas mengaku Tuhan atau dituhankan selain-Nya. Sungguh tidak menggunakan akalnya orang yang tidak bertauhid kepada-Nya. [yy/republika]

Oleh Ustaz DR Amir Faishol Fath
Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute