12 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 06 Desember 2022

basmalah.png

Benarkah Pahala Shalat Dhuha Sama dengan Keutamaan Sedekah?

Benarkah Pahala Shalat Dhuha Sama dengan Keutamaan Sedekah?

Fiqhislam.com - Shalat Dhuha adalah ibadah Shalat sunnah yang ternyata memiliki banyak sekali keutamaan. Salah satunya, Shalat Dhuha memiliki nilai yang sama seperti nilai amalan seperti keutamaan sedekah. Sedekah yang dimaksud adalah sedekah yang diperlukan oleh 360 persendian tubuh kita terlebih jika kita ikhlas mengerjakannya. Orang Islam yang mengerjakan Shalat Dhuha akan memperoleh ganjaran pahala sebanyak persendian itu.

Sebagaimana Hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Di setiap sendi seorang dari kamu terdapat sedekah , setiap tasbih (ucapan Subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir (ucapan Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah , mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha sebanding dengan pahala semua itu.

Artinya, meskipun sifatnya sunnah, tapi Shalat Dhuha memiliki banyak sekali keutamaan. Dengan berkah dan keutamaannya yang sangat banyak, maka jika orang-orang sadar akan keutamaan Shalat Dhuha , pasti mereka tidak akan melewatkannya. Di antara keutamaannya, Shalat Dhuha dapat menggantikah kewajiban sedekah seluruh persendian.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam redaksi yang lain :

Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (Subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (Alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (Laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah , dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi munkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan salat Dhuha sebanyak 2 rakaat” (HR. Muslim).

Hadits itu juga menunjukkan keutamaan Shalat Dhuha . Meski Shalat Dhuha dilakukan dengan minimalnya adalah dua rakaat. Sedekah adalah segala bentuk kebaikan, bukan hanya terbatas bersedekah dengan harta. Shalat Dhuha bisa menggantikan sedekah dengan seluruh persendian.

Hadits yang lain :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعاً ، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللهُرَوَاهُ مُسْلِمٌ.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan empat rakaat salat Dhuha dan menambahkannya sesuai dengan kehendak Allah.” (HR. Muslim).

Shalat Dhuha boleh dengan empat rakaat, caranya bisa dengan dua rakaat salam dan dua rakaat salam. Dari Hadits ini disimpulkan bahwa tidak ada rakaat maksimal untuk Shalat Dhuha, boleh lebih dari empat, delapan, atau dua belas rakaat.

وَعَنْ أُمِّ هَانِىءٍ فَاخِتَةَ بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : ذَهَبْتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، عَامَ الفَتْحِ فَوَجَدْتُهُ يَغْتَسِلُ ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ غُسْلِهِ ، صَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، وَذَلِكَ ضُحىً. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . وَهَذَا مُخْتَصَرُ لَفْظِ إِحْدَى رِوَايَاتِ مُسْلِمٍ.

Ummu Hani’ Fakhitah binti Abu Thalib radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun Fathu Makkah, maka aku mendapati beliau sedang mandi. Ketika beliau selesai dari mandinya, beliau melakukan salat delapan rakaat, dan itu pada waktu Dhuha.” (Muttafaqun ‘alaih) dan (HR. Bukhari Muslim).

Hadits tersebut menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan Shalat Dhuha delapan rakaat. Apa yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan delapan rakaat bukan menunjukkan batasan salat Dhuha itu delapan rakaat. Pendapat paling kuat, salat Dhuha tidak dibatasi jumlah rakaatnya. Dalam riwayat Hadits ini, disebutkan bahwa Fakhitah mengucapkan salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berarti hal ini menunjukkan bahwa boleh wanita mengucapkan salam pada pria selama aman dari godaan.

Dijelaskan juga bahwa dibolehkan melakukan Shalat Dhuha mulai dari meningginya matahari sampai tergelincirnya. Namun yang lebih utama dilakukan ketika hari makin panas (menjelang makin siang atau beberapa menit sebelum dzuhur) dan meningginya waktu Dhuha.

Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia melihat satu kaum yang melakukan Shalat Dhuha , Zain pun berkata, “Tidakkah mereka tahu bahwa salat di waktu selain ini lebih utama, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Shalat orang-orang yang bertaubat itu adalah ketika anak-anak unta sudah merasa kepanasan (karena matahari)." (HR. Muslim). Tarmadhu adalah panas yang sangat (menjelang makin siang).

Makna Hadits adalah Shalat Dhuha disebut dengan Shalat awwabin, yaitu Shalat orang-orang yang kembali kepada Allah setelah sebelumnya lalai, penuh dosa, akhirnya mengingat-Nya dan bertaubat. Dahulu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa merutinkan Shalat Dhuha. Boleh memuji orang yang taat selama tidak keluar dari aturan syariat. Waktu Shalat Dhuha yang paling afdol adalah makin panas (menjelang makin siang). Shalat badiyah Maghrib (enam rakaat setelah Maghrib) ada yang menyebutnya pula dengan Shalat awwabin, namun Haditsnya tidak shahih. Namun Shalat badiyah Maghrib yang dua rakaat tetap ada tuntunan karena termasuk salat sunnah rawatib yang dianjurkan dijaga. Masih boleh melakukan Shalat sunnah di masjid. Sedangkan Hadits dari Zaid bin Tsabit yang menyatakan “Shalatlah kalian, wahai manusia, di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baiknya salat adalah salat seseorang di rumahnya, kecuali salat wajib.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka yang dimaksud Hadits Zaid ini menunjukkan afdaliyah, yaitu Shalat sunnah lebih afdol di rumah. Namun di masjid, tetap masih dibolehkan. Wallahu'alam. [yy/sindonews]